Berita

sri sultan hb x/ist

Pemuda Muhammadiyah: Jangan Remehken Sistem Monarki

RABU, 15 DESEMBER 2010 | 08:32 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Pemerintah Pusat sebaiknya mengamini keinginan warga Jogjakarta yang menginginkan agar Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam IX ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jogjakarta.

"Sebaiknya memang gubernur dan wakil gubernur ditetapkan, bukan melalui proses pemilihan. Logika yang dibangun, penetapan gubernur dan wakil gubernur tidak demokartis itu sebenarnya tidak bisa dijadikan rujukan untuk DIY," ujar Ketua Umum Pemuda Saleh Partaonan Daulay kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Rabu, 15/12).

Saleh mengatakan, jika dipilih secara demokratis, di samping akan bertentangan dengan faktor historis soal kesepakatan Indonesia dan Keratron Jogjakarta yang termaktub dalam maklumat 5 September 1945, juga akan melukai rakyat Jogja yang ternyata lebih menginginkan gubernur dan wakil gubernur ditetapkan.


Di samping itu, masih kata Saleh, Indonesia sebenarnya juga belum siap bila menggunakan sistem demokrasi liberal. Karena bila sistem ini diterapkan, Indonesia akan semakin terjajah oleh asing. "Apalagi warga Indonesia belum well educated people. Karena itu belum siap menggunakan sistem demokrasi liberal," cetus alumnus Colorado University, Amerika Serikat ini.

Saleh juga mengingatkan, bahwa sistem monarki pernah diterapkan kerajaan Majapahit yang menguasai sepertiga dunia. Dan Majapahit, katanya, bukan menerapkan sistem demokrasi.

"Dalam sejarah sistem yang pernah membuat Indonesia jaya di pada masa lalu adalah sistem monarki. Betul untuk konteks DIY, Pemuda Muhammadiyah juga sepakat tidak tepat bila disebut menggunakan sistem monarki. Tapi kalau ada orang yang mau mengatakan itu (Jogja monarki), jangan dianggap remeh. Karena monarki sudah pernah berjaya," tandas dia. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

NATO Turun Gunung Usai Trump Mau Tarik 5 Ribu Pasukan dari Jerman

Minggu, 03 Mei 2026 | 00:03

Komdigi Dorong Sinergi Penegakan Hukum Ruang Digital

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:45

Wamenkeu soal Purbaya Masuk RS: Insya Allah Sehat, Doakan Saja!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:32

Negosiasi Berjalan Buntu, Trump Tuding Iran Tidak Punya Pemimpin Jelas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:19

Pernyataan Amien Rais di Luar Batas Kritik Objektif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:51

Sekolah Tinggi, Disiplin Rendah: Catatan Hardiknas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:38

Aktivis 98: Pernyataan Amien Rais Tidak Cerminkan Intelektual

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:18

Wakil Wali Kota Banjarmasin Dinobatkan Sebagai Perempuan Inspiratif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:48

KAI Pasang Pemasangan Palang Pintu Sementara di Perlintasan Jalan Ampera

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:34

Paguyuban Tak Pernah Ideal, Tapi Harus Berdampak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:52

Selengkapnya