Berita

DEPONERING BIBIT-CHANDRA

Fadjroel Curiga Komisi III Hanya Mau Mengobok-obok KPK

SELASA, 14 DESEMBER 2010 | 09:27 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Enam dari sembilan fraksi yang ada di  Komisi III DPR menolak kasus pemerasan dan penyalahgunaan wewenang yang disangkakan kepada Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah dikesampingkan atau di-deponer oleh Kejaksaan Agung.

Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) Fadjroel Rahman mencurigai mayoritas fraksi di DPR itu hanya mau mengobok-obok  KPK. "Itu mencurigakan hanya untuk mengobok-obok KPK karena ada kepentingan politik," ujar Fadjroel Rahman kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 14/12).

Fadjroel Rahman mengakui dalam satu kesempatan pernah berdiskusi dengan Ahmad Yani dan Aziz Syamsuddin masing-masing dari Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Golkar itu. Pada kesempatan itu, kedua politisi itu juga mensinyalir kebijakan deponeering untuk dua pimpinan KPK tersebut oleh Kejaksaan Agung melanggar hukum. Pada saat itu, Fadjroel langsung bereaksi.


"Apakah Anda tidak mempertimbambangkan rekaman di MK (Mahkamah konstitusi) yang jelas sekali ada upaya rekayasa terhadap Bibit-Chandra," kata Fadjroel Rahman mengulangi pernyataannya.

Selain itu, masih kata Fadjroel, kalau memang anggota Komisi III DPR ngotot kasus ini dibawa ke Pengadilan agar jelas siapa yang merekayasa, itu tidak mesti dimulai dari korban. Komisi III, lanjutnya, mestinya memulai dengan menunut nama-nama yang disebut dalam rekaman yang diputar MK.

"Disitu jelas-jelas disebutkan ada nama Ritonga (Wakil  Jaksa Agung saat itu) ada nama Susno Duadji. Mestinya dimulai dari nama yang disebut ini. Apalagi setelah rekaman itu diperdengarkan, keduanya dibebastugaskan. Ini kan menjadi indikasi awal bahwa mereka terlibat. Kenapa mulai dari nama korban. Jadi jelas, target mereka hanya Bibit Chandra bukan nama-nama yang  ada dalam rekaman," tegas dia [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

NATO Turun Gunung Usai Trump Mau Tarik 5 Ribu Pasukan dari Jerman

Minggu, 03 Mei 2026 | 00:03

Komdigi Dorong Sinergi Penegakan Hukum Ruang Digital

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:45

Wamenkeu soal Purbaya Masuk RS: Insya Allah Sehat, Doakan Saja!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:32

Negosiasi Berjalan Buntu, Trump Tuding Iran Tidak Punya Pemimpin Jelas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:19

Pernyataan Amien Rais di Luar Batas Kritik Objektif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:51

Sekolah Tinggi, Disiplin Rendah: Catatan Hardiknas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:38

Aktivis 98: Pernyataan Amien Rais Tidak Cerminkan Intelektual

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:18

Wakil Wali Kota Banjarmasin Dinobatkan Sebagai Perempuan Inspiratif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:48

KAI Pasang Pemasangan Palang Pintu Sementara di Perlintasan Jalan Ampera

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:34

Paguyuban Tak Pernah Ideal, Tapi Harus Berdampak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:52

Selengkapnya