Berita

Wawancara

WAWANCARA

Abbas Said: Beri Kewenangan KY Menindak Hakim Nakal

RABU, 08 DESEMBER 2010 | 01:37 WIB

RMOL. Komisioner Komisi Yudisial (KY) terpilih, Abbas Said menampik tudingan bahwa dirinya saat menjadi  hakim agung  kerap menunggak perkara.

“Saya tidak pernah menunggak perkara. Semua perkara saya su­dah selesai,” kata Abbas Said kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Sabtu (5/12).

Dalam rapat paripurna DPR, kemarin, telah disetujui tujuh ko­misioner KY, yaitu Eman Supar­man, Abbas Said, Imam Anshori Saleh, Taufiqurrahman Syahuti, Suparman Marzuki, Jaja Ahmad Jayus, dan Ibrahim.


Ketujuh komisioner terpilih akan menjabat dalam periode 2010-2015. Pemilihan Ketua KY akan diserahkan kepada masing-masing komisioner.

Abbas selanjutnya mengata­kan, adanya penilaian seperti itu barangkali demi menjegal dirinya menjadi Ketua KY.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kok ada yang menilai seperti itu?
Tanya sama orang yang me­nilai itu. Tapi saya tidak pernah merasa menunggak perkara. Karena perkara saya kan paling-paling tidak sampai 10.  

Anda  terpilih menjadi salah satu Pimpinan KY, gimana pe­ra­saannya?
Alhamdulillah puji syukur kehadiran Tuhan di mana para anggota dewan yang terhormat mempercayakan saya sebagai salah satu Komisioner KY.

Di KY ada tujuh posisi, Anda berharap mendapatkan posisi apa?
Kita lihat saja perkembangan­nya nanti. Mengingat latar bela­kang saya hakim, ya tentu penga­wasan hakim sudah terpola mung­kin dalam pikiran saya.

Apa visi utama Anda di KY untuk pembenahan penegakan hukum?
Di Undang-Undang kan sudah diatur bahwa tugas dari KY itu adalah merekrut para calon hakim agung, menegakkan kehormatan, keluhuran dan martabat Hakim MA, dan menjaga perilaku ha­kim. Tiga itu yang pokok. Cuma bagaimana kita menjaga kehor­matan dan perilaku hakim. Itu yang penting. Tapi tentu untuk melakukan itu semua, harus ber­sinergi dengan MA.

MA juga menghendaki semua hakimnya bersih, makanya ber­si­nergi dengan MA, sehingga se­mua hakim itu disegani dan di­hor­mati, kemudian memiliki ha­kim yang selalu menjaga har­kat dan martabatnya. Itu yang penting.

Kiat-kiatnya apa?
Saya kira itu mengalir sendiri. Saya kan punya latar belakang sebagai hakim dari bawah, Insya Allah para hakim itu  meng­anggap saya sudah me­ngerti semuanya permasalahan hakim, saya kira mereka akan mendu­kung, mengubah cara ber­pikirnya nanti, sehingga bisa menjaga kehormatannya. Saya yakin itu terjadi nanti.

Bukannya susah mengubah pe­rilaku itu?
Tugas utama KY itu mem­bantu untuk menegakkan kehor­matan dan martabat hakim. Itu yang penting, kemudian men­jaga perilaku. Tentu perilaku yang tidak betul ya kita ingatkan. Ka­lau tetap tidak berubah, ya ditin­dak. Setelah itu baru kita me­­rangsang pada para hakim su­paya mereka merasa bangga se­bagai hakim.

Apa penyebab sehingga ha­kim seringkali melanggar ja­batan?
Memang, alhamdulillah stan­dar kesejahteraan hakim, gaji sudah berangsur-angsur baik. Tapi kita bandingkan dengan Ma­­­laysia, Singapura, masih sangat-sangat jauh. Makanya  perlu meng­ingat­kan bahwa ha­kim itu sebagai jabatan mulia. Jadi se­suaikan ke­muliaannya dengan perbuatan-perbuatannya. Meski orang tidak tahu, tapi kan Tuhan tahu.

KY dinilai banyak kalangan sebagai  macan ompong, bagai­mana komentar Anda?
Insya Allah, saya kira nanti mu­dah-mudahan pemerintah dan DPR bisa memberikan kewe­nangan pengawasan KY terhadap hakim. Artinya hakim nakal bisa ditindak KY.   [RM]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya