Berita

Wawancara

WAWANCARA

Mahfud MD: 8 Desember Tetap Kami Tagih Apa Hasil Investigasi Refly Cs

SENIN, 06 DESEMBER 2010 | 04:56 WIB

RMOL. Tinggal dua hari lagi masa kerja Tim Investigasi Dugaan Makelar Kasus di Mahkamah Konstitusi (MK), tapi sembilan hakim konstitusi belum diperiksa.

“Sepengetahuan saya be­lum ada hakim konstitusi yang diperiksa, tapi kami tahu mereka sedang bekerja secara diam-diam. Kita tunggu hasilnya in­ves­tigasi Refly Cs tanggal 8 Desem­ber 2010, di situ nanti kami tagih apakah ada atau tidak ada seperti yang dilihat dan di­dengar Refly itu,’’ ujar Ketua MK, Mahfud MD, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Sabtu (4/12).

Sebelumnya Mahfud mengaku bahwa sembilan hakim konstitusi itu nggak keluar kota demi me­nanti Tim Investigasi, tapi belum ada yang diperiksa.


Tim Investigasi yang dikoman­doi Refly Harun itu hanya diberikan waktu sebulan (sampai 8 Desember 2010) untuk mem­buktikan apakah ada suap atau pemerasan yang dilakukan hakim konstitusi.    

“Saya sudah bilang kepada tim itu, bahwa apa yang dilihat dan didengar oleh Refly itu harus dijernihkan. Itu yang kita tunggu hasilnya,’’ ujar Mahfud.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa Tim ini bekerja se­cara diam-diam?
Itu strategi mereka. Yang jelas, kami tahu Tim In­ves­tigasi  yang dipimpin Refly itu sedang bekerja.

Apa yang sudah di­hasilkan?
Kami nggak tahu. Sebab, tim itu lebih memilih bekerja diam-diam. Padahal, sembilan hakim konstitusi selalu siap untuk di­mintai keterangan. Semua ha­kim sudah standby sejak 8 November lalu.

Bagaimana jika tim itu bisa membuktikan kebenaran yang dilihat dan didengar Refly?
Bila benar, maka MK mela­por­kan hakim tersebut ke KPK untuk diproses secara hukum.

Bagaimana kalau sebalik­nya, tidak bisa dibuktikan?
Bila itu tidak benar, maka harus dijelaskan kepada publik tanpa pernyataan bersayap. Kita harus sama-sama menjadi ksatria. Sebab, pejuang itu tidak boleh ta­kut mengungkap dan tidak boleh malu mengaku. Bang Buyung Nasution dan Bambang Widjo­janto (anggota Tim Investigasi) sudah pernah menjamin bahwa nama MK akan dijaga.

Maksudnya?
Mereka mengatakan, MK ha­rus siap menindak hakimnya bila bisa dibuktikan apa yang dilihat dan didengar Refly itu. Dan Refly siap bertanggung jawab jika tidak bisa membuktikannya. Sebab, semua demi MK. MK hanya bisa dijaga dengan keter­bukaan se­perti itu. MK harus dijaga ber­sama-sama oleh semua yang cinta penegak hukum.

Bagaimana kalau batas wak­tunya molor?
Tanggal 8 Desember 2010 adalah tenggat yang disepakati bersama dengan tim investigasi. Itu tetap dalam komitmen kami. Apapun hasilnya hari itu MK akan bertemu dengan tim meski kami nggak diperiksa.

Tampaknya Anda ngebet untuk diperiksa ya, kenapa?
Itu menggoncangkan karena selama ini isu-isu seperti itu kan bentuknya rumor. Sebab, sesudah dicari faktanya, ternyata semua­nya omong kosong.

Nah, tiba-tiba Refly Harun mem­beri kesaksian bahwa itu fakta, bukan rumor karena kata­nya dia melihat sendiri, men­dengar dan bertemu sendiri deng­an orang yang menyuap Hakim MK atau diperas Hakim MK, atau orang yang mengantarkan uang ke Hakim MK. Itu membuat kami gempar semua, karena kami  meyakini kalau kami bersih.

Itulah sebabnya  sembilan ha­kim konstitusi sepakat kalau kita beri kehormatan  kepada Refly Harun untuk bongkar kasus itu. Kita beri kehormatan.

Masalah ini  berpengaruh ke kinerja Hakim MK ya?
Sejak adanya tulisan Refly Harun itu banyak yang usil juga. Orang sedikit-sedikit bikin SMS ada suap, ada perkara kecil bikin SMS hakim disuap. Itu kan karena orang terpancing isu yang dilontarkan Refly Harun itu.

Bukan hanya kehidupan ins­titusi saja yang terganggu, tapi juga kehidupan keluarga. Se­bab, istri ikut mempersoalkan hal itu. Anak-anak juga menjadi ikut-ikut bertanya seperti me­lakukan audit terhadap uang orang tua­nya. Di­ta­nya, uang ini dari mana, jangan-jangan di­kasih suap seperti yang ditulis Refly Harun itu.

Lalu setiap pergi, kami ini merasa seperti disorot, merasa dilihat secara khusus kan, seakan ini hakim yang menerima suap. Itu sebabnya kami beri kehor­matan pada Refly untuk ungkap itu.   [RM]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya