RMOL. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan, makan siang bersama dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (25/11), demi menepis gunjingan kedua partai lagi berantem.
“Agar gunjingan itu tidak menjadi konflik beneran, kami sepakat duduk-duduk, ngobrol santai sambil makan siang. Kami ingin memberi tanda bahwa Partai Demokrat (PD) dan Partai Golkar (PG) tetap konsisten mengawal pemerintahan SBY-Boediono sampai 2014,†katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Sabtu (27/11).
Berikut kutipan selengkapnya:
Ah, masa sih hanya itu saja motivasi pertemuannya?Ya, hanya itu, silaturahmi biasa. Kami ingin memberi sinyal bahwa gunjingan berantemnya PD dan PG itu hanya khayalan saja. Mungkin saja ada yang berÂharap kami berantem, tapi itu tidak pernah terjadi sampai 2014. Sebab, kami sepakat untuk tetap konsisten di jalur koalisi.
Bukannya pertemuan itu diÂpicu kian mesranya hubungan Partai Demokrat dengan PDIP?Sama sekali tidak. PD memang berkomunikasi dengan semua partai, baik di dalam Setgab ParÂpol Koalisi maupun yang tidak tergabung dalam Setgab. Dengan PDIP misalnya, kami berkomuÂnikasi baik.
Berarti benar dong lagi meÂsraÂan seperti dibilang Puan MaÂharani?
Ya, saya setuju dengan apa yang dibilang Mbak Puan, PD dan PDIP memang kian hangat dan mesra. Kader-kader PD meÂmang cukup sering berkomuniÂkasi dengan kader-kader PDIP.
Tetapi bukan gara-gara huÂbungan mesra ini saya bertemu Bang Ical (panggilan akrab AbuÂrizal Bakrie). PG nggak cemburu kok, mereka juga menjalin komuÂnikasi politik dengan PDIP.
PD dan PG itu keluarga besar koalisi. Jadi, pertemuan itu seÂbagai kongkow antar saudara daÂlam satu keluarga.
Apa ada perbincangan dengÂan topik khusus, seperti kasus Gayus?Tidak ada bahasan khusus atau materi pembicaraan khusus. IntiÂnya adalah kesepahaman bahwa PD dan PG tetap kompak. GuÂyon-guyon saja sambil menikÂmati makan siang. Bang Ical dan teman-teman meludeskan nasi timbel, saya pilih bakmi rebus. Kalau mau dikasih judul kira-kira begini,
Diplomasi Timbel-Bakmi untuk Pemantapan Koalisi, he-he-he ...
Kenapa pertemuannya tertuÂtup?Siapa yang bilang tertutup. Itu pertemuan semi terbuka. BuktiÂnya para wartawan tahu semua, tempatnya di ruang makan. KeÂbetulan saja ruangannya tertutup. Soalnya kalau di ruangan terbuka bisa mengganggu orang lain yang sedang meÂnikÂmati makan siang. Intinya itu adalah pertemuan biaÂsa, silaÂturahÂmi rutin saja. Tidak ada yang khusus apalagi rahasia.
Apakah ada petinggi PG yang protes?
Nggak ada protes. Wong guÂyon-guyon kok pakai protes. ApaÂlagi Golkar adalah partai senior dan berpengalaman. Mana mungkin protes kepada PD yang masih muda dan sedang tumbuh. Protes itu biasanya dari yang muda kepada yang tua. Apalagi tidak ada materi yang masuk kateÂgori layak protes. Yang ada adalah ngobrol ringan, hangat dan berkomitmen untuk kebaikan bersama. Soal PD dan PG kaÂdangÂkala berbeda, itu hal-hal yang lumrah, sama-sama kami meÂmahaminya. Yang penting tidak konflik dan berselisih.
Apa hasil pertemuan itu, apa ada kesepakatan baru?Ada hasilnya, sangat substantif dan konstruktif, yakni semangat kebersamaan dalam demokrasi, saling menghormati, dan kerja sama untuk kebaikan bangsa dan negara. Juga kesepakatan untuk terus menjaga silaturahim.
Apa yang mesti dibenahi agar hubungan kedua partai tetap kompak?Ya itu tadi, konsisten dalam kebersamaan koalisi dan menjaga tali komunikasi dan silaturahim politik. Jaga komunikasi dan jauhÂkan perselisihan.
Apa Ical curhat soal kasus Gayus?Tidak ada curhat. Saya dan Bang Ical kan partner politik, buÂkan kawan curhat. Kalau mau curhat pasti dengan istrinya, he-he-he...
Sebelumnya Anda bertemu Menteri BUMN Mustafa AbuÂbakar, apa Anda tidak takut diÂnilai negatif ?Kalau ada pertemuan silaÂturaÂhim, sebaiknya jangan dipotret dari kacamata curiga. Berpikiran dan berprasangka baik akan sangat membantu keadaan.
Silaturahim itu harus saya dan teman-teman lakukan. Salah satu inti dari politik adalah komuniÂkasi dan silaturahim. Kalau Anda putus silaturahim, maka tidak bisa bekerja politik untuk keÂbaikan bersama. Tanpa komuÂnikasi acapkali terjadi kesalahÂpahaman. Minimal kesepahaman untuk melihat agenda bersama. Kami berkomunikasi dengan Presiden, Wapres, para menteri, para pimpinan lembaga negara, pimpinan parpol, pimpinan ormas, para tokoh dan masyaÂrakat luas.
O ya, apa pertimbangannya PD memilih Busyro Muqoddas menjadi Ketua KPK ?Sejak awal saya sampaikan bahwa kalau pilihannya antara Pak Busyro dan Pak Bambang, itu tidak perlu memilih. Pejam mata saja tetap dapat yang bagus, mampu dan kredibel. Itu mirip memilih antara intan dan berlian. Karena itu diserahkan kepada Komisi III DPR. Ketika Pak Busyro yang terpilih, kami berÂharap Pak Bambang mendapatÂkan tugas di tempat lain yang penting dan tidak kalah mulianya. Keduanya adalah mutiara dalam wajah penegakan dan pemajuan hukum kita.
[RM]