RMOL. Ternak milik korban bencana Merapi kerap kali dimanfaatkan beberapa oknum tengkulak untuk memperkeruh kekisruhan di tengah keadaan sulit yang melanda korban merapi.
Situasi bencana dimanfaatkan untuk meraup keuntungan dengan menjatuhkan harga ternak lebih dari setengah harga normal kerap kali dilakukan. Untuk saat ini, pemerintah telah menyiapkan dana proteksi untuk melindungi para peternak korban merapi agar harga ternak sesuai dengan harga normal.
Dana 100 Miliar yang disiapkan Kementerian Pertanian misalnya, meski hanya dapat meng-cover seperenam kebutuhan riil yang seharusnya disiapkan pemerintah, untuk tahap awal akan sangat membantu dalam melindungi kepentingan peternak.
Kenyataan di lapangan bahwa, para peternak sekitar gunung Merapi sangat enggan menjual ternaknya. Ini menunjukkan para peternak masih sangat bersemangat dalam menjalankan kegiatan memelihara dan membesarkan
ternak-ternak miliknya.
Anggota Komisi IV DPR, dalam RI dalam keterangan pers kepada
Rakyat Merdeka Online (Minggu, 28/11), menyoroti keadaan para peternak korban Merapi sedikit berbeda dengan apa yang dilakukan pemerintah.
Begitu cintanya para korban merapi dengan ternak-ternak yang dimilikinya seharusnya disiapkan program khusus pembinaan minimal selama 6 bulan ke depan untuk me-
recovery atau memulihkan proses produksi peternakan yang dilakukan di Merapi mendekati kondisi normal. Keadaan ini juga berlaku juga bagi para petani.
Dana yang dibutuhkan akan sangat besar dan butuh partisipasi lintas kementrian atau instansi untuk berperan dalam proses pemulihan proses normalisasi kehidupan petani dan peternak di sekitar merapi.
"Setidakya ada 3 kementerian yang sinergi yaitu kementrian pertanian, kementerian kokesra (Koordinator kesejahteraan rakyat), dan kementerian sosial untuk turut membantu meringankan beban peternak korban merapi. Dengan sayangnya korban merapi kepada ternak-ternaknya, tawaran jual hewan ternak seharusnya bukan satu-satunya pilihan yang ditawarkan pemerintah," jelas politisi PKS ini.
[zul]