Berita

Wawancara

WAWANCARA

Bambang Soesatyo: Perlu Diperiksa Anggota Satgas

RABU, 24 NOVEMBER 2010 | 06:57 WIB

RMOL. Yang Mengarah-arahkan Gayus Polisi didesak memeriksa anggota Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum (Satgas PMH) yang meminta Gayus Tambunan untuk membongkar kasus suap pajak grup Bakrie.

“Pengakuan Gayus ini harus ditindaklanjuti. Kapolri harus be­rani memanggil dan meme­riksa anggota Satgas yang mengarah-arahkan Gayus. Dari pengakuan itu jelas-lah siapa yang se­sungguh­nya berada dalam ske­nario kasus Gayus,’’ kata anggota Komisi III DPR, Bambang Soe­satyo, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Dikatakan, pihaknya juga akan mempertanyakan masalah ini kepada Kapolri Timur Pradopo saat rapat kerja dengan jajaran Polri, Senin (29/11) mendatang.


“Kami juga mendorong digu­na­kan hak interpelasi soal kedu­dukan Satgas PMH,’’ ucapnya.

Berikut kutipan wawancara dengan Wakil Bendahara DPP Partai Golkar itu:

Anda melihat ada dugaan rekayasa di situ, bisa disebutkan apa indikasinya?
Dari pengakuan Gayus itu je­las-lah siapa yang sesungguhnya berada dalam skenario kasus Gayus. Presiden juga hendaknya menjelaskan mengapa Satgas bisa terlibat terlalu jauh dalam kasus Gayus ini.

Partai Golkar merasa dipo­jok­­kan ya?
Pernyataan Partai Demokrat yang menyeret-nyeret Golkar sa­ngat tendensius. Dikesankan se­olah-olah selama ini Golkar se­lalu menyalahi hukum dan me­man­faat­kan kekuasaan. Yang terjadi justru sebaliknya. Partai Demokrat se­lama ini mengang­kangi hukum dan memanfaatkan kekuasaan.

Golkar sangat setuju bahwa hu­kum harus ditegakkan tanpa pan­dang bulu dan KPK harus dikuat­kan untuk pemberantasan korupsi. Tapi pertanyaannya, se­lama ini siapa yang selalu pan­dang bulu dalam penegakan hukum, melin­dungi para koruptor dan melemah­kan dan mengkri­minalkan KPK dengan rekayasa hukum.

Lalu siapa yg memberikan re­misi, keistimewaan bagi tahanan korupsi dan bahkan pengampu­nan pada koruptor. Partai Golkar atau partai apapun tidak akan mampu. Yang mampu hanya orang atau partai yang memiliki kekuasaan.

Lalu Golkar menanggapinya seperti apa?
Kami meminta dengan tegas kepada Partai Demokrat untuk mengklarifikasi pernyataan yang mengatakan, Presiden SBY mem­beri pesan pada Golkar bahwa hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu dan koalisi tidak boleh diubah jadi meja transaksi politik untuk menghalangi proses hukum kasus Gayus. Atas dasar apa PD menuding Golkar tidak setuju kasus Gayus diselesaikan secara tuntas. Atas dasar apa pula Golkar dituding mengunakan koalisi sebagai ajang transaksi politik untuk menghalangi proses hukum kasus Gayus.

Anda menganggap tudingan itu tidak beralasan dan sangat tendensius?
Ya, jelas dong. Golkar sangat ke­beratan dengan tudingan-tu­dingan yang dilontarkan Partai Demokrat. Sejak awal sikap Golkar jelas terkait kasus Gayus. Justru Golkar-lah yang mendesak kasus Gayus diusut tuntas. Ka­rena Golkar sangat dirugikan dengan kasus Gayus yang telah di­man­faatkan pihak-pihak ter­tentu untuk memojokkan dan merusak citra Golkar yang berpo­tensi besar memenangkan Pemilu 2014.

O ya bagaimana komentar Anda soal Gayus bisa ke Bali?
Kalau Satgas PMH bekerja independen dan berfungsi efektif, Gayus tak akan pernah bisa ple­siran ke Bali . Kalau Satgas ini hen­dak dipertahankan, ada baik­nya orientasinya ini dilurus­kan. Kasus kepergian Gayus bagi saya terasa tidak logis, mengingat dia berstatus tahanan di Rutan Mako Brimob.

Anda menduga ada yang ber­main?
Kita harus runut dari awal. Boleh diasumsikan ada sejumlah pertimbangan mengapa Gayus harus ditahan di Rutan Mako Brimob.  Antara lain karena dia ter­­sangka pelaku penggelapan pajak. Dia juga aktor utama mafia hukum yang berhasil membe­bas­kan dirinya sendiri dari dakwaan korupsi dengan modus pengge­lapan pajak di PN Tangerang.

Logika kita yang awam menga­takan bahwa sepak terjang Gayus yang demikian itu mestinya me­motivasi Satgas Pemberan­tasan Mafia Hukum (PMH) me­lakukan pengawasan maksimum pada Gayus, sekalipun dia dita­han di Rutan Mako Brimob. Mengacu pada rekam jejak dan keberanian­nya, bukan sesuatu yang berle­bihan atau aneh jika Gayus terus mendapat sentuhan pengawasan dari institusi Satgas PMH.

Jadi, peran Satgas dalam ka­sus ini harusnya sangat relevan dan dominan?
Jika benar Satgas konsen dengan peran Gayus dalam mafia hukum, program pengawasan ekstra bukan hanya relevan, me­lainkan sangat masuk akal. Se­bab, jika dikaitkan dengan fungsi dan tugas Satgas, Gayus adalah sum­ber informasi yang amat ma­hal. Gayus akan membantu ke­gia­tan Satgas, katakanlah dengan men­jadi saksi mahkota bagi Satgas. Maka, selain diawasi, Satgas pun wajib melindungi Gayus agar dia terhindar dari risiko apa pun. Dalam tradisi mafia, saksi kunci yang membe­ratkan umumnya dihabisi. Bu­kan­kah di kantong Gayus tersim­pan banyak data strategis yang mungkin saja akan menyeret banyak orang ke penga­dilan karena melakukan pengge­lapan pajak.

Anda melihat Satgas terkesan tak peduli dengan kasus Gayus saat dia berada di Rutan?
Jika saja Satgas melakukan pengawasan maksimum melalui koordinasi berkesinambungan dengan jajaran Polri, Gayus mes­tinya tak akan pernah bisa leluasa bepergian kemana pun, termasuk ke Bali . Sekali pun untuk alasan berobat atau alasan keluarga yang sangat mendesak, izin bagi Gayus untuk meninggalkan Rutan mes­ti­nya juga sepengetahuan Satgas. Minimal Satgas wajib meminta laporan mengenai apa saja yang dilakukan Gayus.  

Saya bisa katakan Satgas ku­rang peduli pada status Gayus yang layak diibaratkan saksi mahkota. Kedua, kerja sama atau sinergi Satgas dengan institusi-institusi lain tidak jalan. Lalu, ka­lau sinergi itu tidak ada, apa yang sesungguhnya dicari Satgas selama setahun ini? Padahal, kita berasumsi bahwa untuk meme­rangi mafia hukum, Satgas PMH memerlukan masukan dan data dari institusi penegak hukum lainnya.  [RM]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya