RMOL. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan berharap perayaan Idul Adha bisa lebih khidmat dilakukan karena bangsa ini diterpa banyak bencana.
“Dalam keadaan seperti ini kita lebih banyak berkurban untuk disebarkan ke orang-orang yang menjadi korban bencana alam,†katanya kepada Rakyat Merdeka, Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Apa ajakan seperti ini efekÂtif?
Apa ajakan seperti ini efekÂtif?Kurban itu kan untuk masyaraÂkat yang tidak mampu. Tidak mampu itu termasuk yang sedang mengalami bencana. Jadi, sangat dianjurkan dalam keadaan seperti ini kita lebih banyak berkurban. Kalau dulu misalnya berkurban satu ekor kambing, kenapa tidak dua ekor kambing. Kalau yang punya kemampuan berlebih, bisa berkurban sapi. Pokoknya diperÂbanyak dan itu disebarkan ke tempat-tempat yang mengalami bencana. Karena ini bantuan kepada
dhuafa.Berarti kurban diserahkan ke relawan untuk dimasak ya?Ya, itu lebih bagus. Orang di pengungsian kan tidak mungkin menerima daging mentah untuk digoreng. Kemudian diutamakan dibagikan kepada kaum
dhuafa yang berada di pengungsian.
Tapi untuk penyaluran heÂwan kurban ke lokasi bencana, bagaimana prosedurnya?Yang semacam itu kan ada Rumah Zakat Indonesia. Saya kira Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) juga mengarahnya ke sana. Biasanya itu kalau di rumah zakat ada yang dikalengkan untuk berkurban.
Sementara yang baru berÂkurÂban sekarang, sebaiknya bisa langsung diserahkan ke relawan melalui dapur umum.
Bagaimana Anda melihat dengan banyaknya bencana meÂnimpa negeri ini?Bencana ini bisa dipandang dari berbagai segi. Dari segi spiritual ini peringatan dari Allah SWT kepada kita. Anggaplah teguran supaya kita lebih meningÂkatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Sekarang itu dimanifestaÂsikan dengan berkurban karena Al-quran dalam ayatnya meneÂgasÂkan bukanlah dagingnya yang sampai kepada Allah tapi keÂikhlasan dan ketaqwaan kamu seÂkalian yang sampai kepadaÂNya. Karena ada teguran semaÂcam ini tentunya dengan berkurban.
Kurban ini kan napak tilas dari Nabi Ibrahim yang waktu itu diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya Ismail, tapi itu tidak terjadi dan diganti dengan hewan gibas. Nah, menjadi kewajiban bagi yang berkelebihan untuk berkurban dan dibagikan dagingnya kepada masyarakat.
Bagaimana pandangan Anda dari sisi lain?Kalau dari segi bencana ada
natural disaster yakni bencana karena alam. Tapi ada juga yang namanya
human disaster karena ulah manusia. Dan ada ayat meÂngatakan terjadi keÂrusakan di laut dan di darat karena tangan-tangan manusia. Banjir itu pada dasarnya kalau dikaitkan dengan gundulÂnya hutan kan bisa juga disebabÂkan tangan manusia. BenÂcana tsunami kaÂrena gerakan lemÂÂpeng bumi kataÂÂkanlah meÂruÂpakan benÂcana karena alam, tapi semuaÂnya itu merupaÂkan peringatan kepada kita. KaÂlau kita diingatkan berarti Allah itu masih sayang sama kita. Coba kalau tidak diingatkan, azab saja yang datang.
Apa yang diperbuat kalau diÂperingatkan seperti ini?Kita perlu bertobat. Dulu ada namanya tobat politik atau tobat
nadzuna, yaitu dimulai dari kita sendiri. Kemudian dari keluargaÂnya. Teguran itu kan tujuannya untuk meningkatkan ketaqwaan yang dimanifestasikan dengan berkurban. Kurbannya itu dibagiÂkan antara lain kepada korban bencana. Jadi, jangan kita saja yang makan enak-enak.
Apa Anda punya pesan khuÂsus kepada para korban benÂcana?Kepada para korban bencana alam agar tabahlah, sabar, dan jaÂngan berprasangka buruk keÂpada Allah. Kalau berpraÂsangka buruk kita nanti malah tambah dosa.
Jadi kita harus berprasangka positif, yakni Allah mengingatÂkan kepada kita dengan bencana ini Allah sayang pada kita.
Soal perbedaan penetapan Idul Adha antara pemerintah dan beberapa ormas Islam, baÂgaiÂmana pandangan Anda?Itu klasik. Artinya, ada orang yang menganggap Hari Raya Idul Adha itu hari raya haji. Karena di Arab Saudi itu jatuhnya Hari Arafah itu tanggal 15 November. Hari Arafah itu hanya ada satu di dunia yakni di Padang Arafah.
Setelah Hari Arafah itu kan Hari Raya Idul Adha. Jadi hari raya mereka itu hari ini (Selasa), karena Hari Arafahnya kemarin (Senin, 15/11). Adapun MuhamÂmaÂdiyah bukan mengikuti Saudi, tapi hitungan melalui sistemnya
wujudul hilal.Nah, kalau pemerintah itu hiÂzab dan rukyat. Jadi dihizab dulu posisi bulan di mana dan ternyata ada di atas
wuquf, tapi tidak bisa dilihat karena tidak bisa di-
rukyat. Akhirnya jatuh tanggal 17 NoÂvemÂber. Kedua-duanya punya alasan, jadi jangan dipertenÂtangÂkan. Kedua-duanya sah.
MUI mengikuti yang mana?MUI sebagai lembaga ikut peÂmeÂrintah. Tapi perorangan itu terserah mereka, sehingga ada yang ikut hari ini (kemarin), tapi ada juga yang ikut besok (hari ini),
[RM]