Berita

Wawancara

Tjahjo Kumolo: Terlalu Jauh Kalau Dianggap Mega Pedekate Dengan Obama

MINGGU, 14 NOVEMBER 2010 | 00:37 WIB

RMOL.Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo mengatakan, terlalu jauh kalau ada anggapan kehadiran Megawati Soekarnoputri saat perjamuan makan bersama Barack Obama di Istana sebagai bentuk pendekatan atau pedekate terhadap Presiden Amerika Serikat itu.

“Terlalu jauh ya kalau di­anggap Ibu Mega pedekate dengan Barack Obama. Sebab, Ibu Mega datang ke perjamuan makan itu tidak ada unsur poli­tik,’’ ujarnya kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, Jumat (12/11).

Sebelumnya politisi PPP Ro­mahurmuzy mensinyalir Mega melakukan pendekatan atau pedekate dengan pihak Amerika Serikat untuk maju lagi sebagai capres.

“Dalam personal view tidak menutup kemungkinan Ibu Mega maju lagi, karena kemudian akan membutuhkan dukungan Ame­rika sebagai negara adikuasa,” ujar Romahurmuzy.

Tjahjo Kumolo selanjutnya me­ngatakan, Mega dalam ja­muan makan malam bersama Obama dalam kapasitas sebagai Presiden Indonesia ke-5. Dan hal ini diatur dalam protokoler ke­negaraan.  

Berikut kutipan wawancara dengan Ketua Fraksi PDIP DPR itu:

Apakah ini pertanda hu­bungan Demokrat-PDIP sema­kin mesra?

Saya kira tidak pada konteks­nya ke situ. Ibu Mega diundang sebagai Presiden Indonesia ke­lima. Jadi dalam konteks mem­ba­ngun sebuah demokrasi,  mem­­­­bangun semangat interna­sio­na­lisme, itu yang ingin Ibu Mega tunjukkan kepada Barack Obama.

Intinya, Ibu Mega memperli­hatkan bahwa Indonesia ini kompak untuk bersatu.

Apa itu saja motivasinya?

Ya, seperti itulah. Jadi ini tidak ada sangkut pautnya dengan politik. Ini adalah masalah ke­bangsaan. Ibu Mega itu kalau pertemuan internasional pasti selalu hadir.

Politisi PPP Romahurmuzy malah menilai kedatangan Mega saat Obama di Istana untuk minta dukungan men­jadi Pilpres 2014?

Saya kira kita tidak perlu ter­lalu jauh karena konteksnya beliau diundang sebagai Presiden Indonesia kelima. Negara ini punya tamu. Jadi, Ibu Mega meng­hormati tamu.

Kalau ada kalkulasi politik, itu urusan orang lain. Tapi yang jelas, niat Ibu Mega sangat positif sebagai seorang kawan.

Apa  Mega masih ikut Pilpres 2014?

Kita belum bicara sampai ke­sana. Kita kan bicara dalam kon­teks Indonesia kemarin keda­tangan tamu Obama, itu saja dululah, ha-ha-ha.

Keuntungan apa yang bisa di­raih dengan kedatangan Oba­ma itu?

Memperkuat hubungan kerja sama bilateral Indonesia-AS. Indonesia sebagai negara yang punya prinsip kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif ini harus membuka diri terhadap setiap negara-negara di dunia tanpa terkecuali.

Selain itu?    

Meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan. AS di mata Indonesia memang salah satu pasar. Tapi apakah pasar itu cu­kup efektif ka­rena ne­gara-ne­gara lain seperti Je­pang dan China berebut pasar dengan yang ada di Indo­nesia.

Kemudian di mata AS, ne­gara kita pu­nya po­ten­si sumberdaya alam se­perti di Temba­gapura, Free­port, dan be­berapa sumber gas. Jadi banyak investasi AS di ne­gara kita.

Jadi, kita berharap kunjungan itu tidak hanya simbolik, tapi punya makna yang tentunya Indo­nesia harus menempatkan posisinya setara dengan AS seba­gai negara yang besar, merdeka, berdaulat, dan juga lebih pro­gresif dalam rangka mem-follow up apa-apa yang telah dibicara­kan dengan AS.

Obama dalam pidatonya ke­rap menyebut Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, me­nurut Anda apa ideologi terse­but ma­sih tercermin dalam ke­hidupan berbangsa dan negara kita?

Mengutip pidato Obama di Universitas Indonesia memang banyak mengupas berbagai Ke­bhinekaan, Pancasila, keberaga­man agama, saya kira ini potensi kita untuk menempatkan posisi strategis kita.

Jadi secara konstitusi, AS mengapresiasi bahwa kita punya empat pilar yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kemaje­mu­kan. Saya kira ini sangat pen­ting. Jadi Indonesia tidak perlu malu, harus berani untuk meng­im­plementasikannya. [RM]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya