Berita

Wawancara

Indria Frenida: Kami Berharap Jaksa Agung Yang Baru Berani Menuntaskan Kasus Semanggi I

MINGGU, 14 NOVEMBER 2010 | 00:09 WIB

RMOL.Kemarin, genap 12 tahun tragedi Semanggi I, tapi aparat hukum belum menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat tersebut.  

Makanya keluarga korban berharap agar Jaksa Agung yang baru punya keberanian untuk me­nuntaskan kasus yang merenggut 13 korban itu, delapan di antara­nya dari mahasiswa.

“Kami berharap Presiden me­milih Jaksa Agung yang berani menuntaskan kasus Semanggi I agar kasus ini tidak berlarut-larut,’’ ujar Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kon­tras), Indria Frenida, kepada Rak­yat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Sebaiknya Jaksa Agung itu dari internal atau dari luar?

Kami tak persoalkan dari mana. Yang penting harus berani tuntaskan kasus pelanggaran HAM. Tapi berdasarkan pengala­man, Jaksa Agung dari internal kurang berani. Jadi, sebaiknya Presiden melirik dari luar.

Misalnya siapa?

Orangnya harus yang indepen­den, yang punya komitmen tinggi terhadap penuntasan pelanggaran HAM di masa lalu.

Jadi, harapan kami agar Presi­den memilih Jaksa Agung yang punya keberanian menuntaskan kasus pelanggaran HAM ini.

Sejauh ini kan komitmen poli­tik untuk penyelesaian kasus ini tidak pernah muncul. Itu yang menjadi catatan kami, bahwa Jaksa Agung yang baru itu tidak hanya punya komitmen untuk pemberantasan korupsi saja. Tapi juga penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM yang berat. Itu kan janji dari Presiden SBY ketika mau menjadi Presiden.

Apa Anda yakin dengan ter­pilih Jaksa Agung yang baru kasus-kasus pelanggaran HAM yang berat akan terselesaikan?

Ya, ini jadi ukuran dari Jaksa Agung yang baru. Harapan kita sih orangnya harus mampu me­nyelesaikan kasus-kasus pe­langga­ran HAM, termasuk kasus Semanggi.

O ya, apa inti peringatan 12 tahun tragedi Semanggi?

Negara hendaknya menyele­sai­kan kasus-kasus pelanggaran HAM, khususnya Semanggi I. Kami meminta agar aparat hu­kum  melakukan penyidikan. Se­bab sampai saat ini, belum mela­kuakn penyidikan terhadap pela­ku-pelaku penembakan maha­siswa dalam kasus Semanggi ini.

Kenapa menuntut kepada Presiden?

Ya, kami menuntut Presiden untuk mencari Jaksa Agung baru yang punya komitmen tinggi dalam menindak para pelanggar HAM, termasuk menyelesaikan kasus Trisakti dan Semanggi.

Siapa saja yang ikut dalam  pe­ringatan ini?

Semua korban Semanggi. Tapi salah satu keluarga korban Se­manggi I, ibu Sumarsih tidak ikut. O ya, nanti malam (kemarin) akan ada Misa di Atmajaya. Kami tadi juga ke kuburan para korban Semanggi.

Selama ini keluarga korban Se­manggi selalu melakukan berbagai unjuk rasa, tapi tetap saja tidak dituntaskan, apa saja langkah-langkah yang dilaku­kan Kontras?

Ya, ini sebenarnya jadi tanggung jawab negara untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu, ketika kita mau beranjak kesatu titik demokrasi akan lebih baik. Nah, persyaratan dari transisi demokrasi itu adalah penye­le­saian di masa lalu yang harusnya bisa membuka ruang-ruang ke­benaran yakni keadilan dengan menghukum para pelakunya, memperhatikan hak-hak keluarga korban, dan menjamin peristiwa serupa tidak terulang lagi. Nah, ketika semua hal itu tidak dija­lankan dan diabaikan peristiwa ini akan terulang kembali. Ter­bukti selama 12 tahun demokrasi kita belum berjalan sempurna.

Apa yang dilakukan agar apa­rat hukum menyelesaikan kasus ini?

Sebenarnya nggak ada alasan dari pemerintah untuk tidak me­nemukan pelakunya. Karena Komnas HAM sebagai lembaga negara sudah melakukan pe­nye­li­dikannya, sudah menyim­pulkan adanya pelanggaran HAM berat untuk kasus Trisakti, Semanggi, serta sudah mere­komendasikan beberapa nama para pelakunya untuk diperiksa oleh Jaksa Agung.

Kita sih orangnya harus mam­pu menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM, termasuk ka­sus Semanggi. [RM]



Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya