Berita

Wawancara

WAWANCARA

Muhidin Mohamad Said: Nggak Ada Waktu Jalan-jalan Kami Murni Studi Banding

SENIN, 08 NOVEMBER 2010 | 07:00 WIB

RMOL. Ketua rombongan studi banding anggota DPR ke Italia, Muhidin Mohamad Said mengatakan, pihaknya tidak melakukan plesiran, tapi murni studi banding tentang perumahan.

“Kalau nggak percaya, bisa telepon Duta Besar Indonesia untuk Italia Mohamad Oemar. Jujur ya, kami sungguh-sungguh bekerja di sana, waktunya sangat padat sekali, sehingga nggak mungkin jalan-jalan,’’ ujar Wakil Ketua Komisi V DPR itu kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:


Ah, masa sih nggak ada wak­tu untuk jalan-jalan?
Bisa dicek saja deh, di web site kami, apa saja jadwal kami di sana. Kalau tidak yakin lagi, tolong tanya sama senator di sana atau tanya ke Dubes kita di Italia.

Benar nih nggak plesiran?
Gimana mau plesiran. Kami bekerja di bawah sumpah kok. Tapi saya nggak tahu kalau anggota dewan yang lain yang studi banding ke negara lain. Yang jelas rombongan kami be­kerja sangat luar biasa.

Emang apa pentingnya sih studi banding itu?
Ya, penting. Ini menyangkut mempersiapkan Undang-undang, saya kira wajib dilakukan studi banding. Tanpa pembanding, saya kira kita tidak mungkin menghasilkan Undang-undang yang bagus dan efektif. Sebab, negara kita masih banyak ke­kurangan.

Di negara kita banyak ben­cana, kenapa para wakilnya di DPR ramai-ramai studi ban­ding yang menghabiskan uang negara, padahal korban ben­cana perlu dibantu?
DPR kalau terlambat melaku­kan tugas pokoknya, yakni legis­lasi, pengawasan, dan budgeting, tentu disorot juga. Tapi karena di negara kita terjadi bencana, tentu kami mempercepat kunjungan di sana. Setelah bahan-bahan kami dapatkan, kami pulang.

 Waktu kita pergi ke sana be­lum ada bencana. Bencana sete­lah kami ada di luar negeri. Dan kami pun kaget. Karena kami berangkat tanggal 26 Oktober malam. Dan terus terang kami merasa prihatin, sehingga mem­percepat kunjungan yang awal­nya direncanakan tujuh hari men­jadi lima hari.

O ya, berapa orang yang ikut studi banding?
Kami semua 15 orang sesuai dengan jumlah Panja. Karena yang berangkat hanya Panja saja.

Apa ada anggota keluarga yang ikut?
Saya sebagai pemimpin rom­bongan sudah menegaskan tidak boleh membawa anggota ke­luarga. Sebab, itu pasti meng­ganggu.

Bagaimana studi banding­nya?
Begitu tiba di sana kami disam­but Duta Besar Indonesia untuk Italia Pak Mohamad Oemar. Ka­rena kami tiba sore hari, lang­sung istirahat. Besoknya kami diterima Senat Italia. Mereka sangat welcome.

Apa yang dibicarakan?
Kami berdiskusi tentang pe­rumahan.

Apa perbandingannya?
Kebijakan perumahan di Italia itu juga bermasalah walau negara maju. Negara yang masuk dalam kelompok G-8 juga mengalami permasalahan perumahan. Sebab, rumah itu merupakan kebutuhan dasar masyarakat.

Tapi di sana pemerintah pusat hanya memberikan bantuan, kemudian pengelolaan semuanya diserahkan ke pemerintah daerah. Karena di sana sering terjadi krisis ekonomi, pemerintah tidak menambah subsidinya. Justru pemerintah berupaya bagaimana meningkatkan pendapatan rak­yat­nya, sehingga mampu mem-beli rumah.

Perbedaannya dengan Indo­ne­sia bagaimana?
Di sini pemerintah tidak mam­pu menambah subsidi. Sedang­kan di Italia kalau tidak mampu menambah subsisi, pemerintah di sana berupaya meningkatkan pe­rekonomian, sehingga rakyatnya bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan untuk membeli rumah.

Apa implementasi dari studi banding itu?
Inilah yang kita diskusikan, kita cari pola untuk memperbaiki kondisi Indonesia. Tidak mung­kin juga kita sesuaikan dengan Italia. Bagaimana peranan peme­rintah pusat dan daerah. Di sana cukup pemerintah pusat mem­be­rikan bantuan sebesar 1,9 miliar Euro per tahun. Kemudian dibagi secara proporsional ke Pemda.

Implementasi seluruhnya di­atur Pemda. Sementara pemerin­tah pusat hanya mengawasi kalau terjadi sesuatu dilaporkan kepada penegak hukum. Pemerintah pusat tidak ikut melaksanakan. Tapi di sini  sulit untuk melaku­kan itu. Sebab, peranan pusat masih dibutuhkan. Karena SDM pusat jauh lebih bagus dibanding di daerah.

O ya, kapan RUU mengenai perumahan itu digarap?
Setelah ada masukan-masukan dari luar negeri atau dari dalam negeri. Kemudian kita perdebat­kan, mana yang paling pantas untuk Indonesia.

Target pembahasannya?
Januari 2011 harus selesai. Se­bab, begitu masuk tahun per­si­dangan, kita sudah harus bahas itu.

Yakin selesai?
Insyaallah. Februari 2011 harus sudah disahkan.  [RM]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya