Berita

Mahfud MD/ist

Refly Harun: Keputusan Mahfud MD Agak Aneh

MINGGU, 07 NOVEMBER 2010 | 19:19 WIB | LAPORAN:

RMOL. Ketua Mahkamah Konstistusi Mahfud MD menunjuk pengamat hukum tata negara Refly Harun sebagai ketua tim investigasi adanya praktik dugaan suap di lingkungan MK.

Refly ditunjuk Mahfud Karena Refly yang mengungkapkan adanya praktik upaya dugaan suap itu lewat tulisannya yang berjudul, MK Masih Bersih? di hariam Kompas edisi 25 Oktober 2010 lalu.

Atas keputusan Mahfud itu, Refly menilai ada keganjilan. "Memang agak aneh. (Pertama, saya) ditetapkan (ketua tim) tapi kemudian yang diperiksa tulisan saya," ujarnya usai diskusi di kantor Lembaga Survei Indonesia, Jalan Lembang Terusan Jakarta Pusat (Minggu, 7/11).


Keanehan kedua, beber Rafly, soal anggota tim dan keberadaan tim itu sendiri. Dia menjelaskan, sampai saat tersebut belum pernah bertemu. Meski Refly mengakui Mahfud MD memberikan deadline kepadanya sampai Jumat lalu untuk membentuk tim investigasi.

Soal pembentukan tim ini, Refly mengaku sudah mencari orang agar mau bergabung dalam tim. Namun, orang yang ia tawari umumnya tidak mau. Alasannya, karena Mahfud MD mengancam akan mengadukan ke polisi bila tim tidak menemukan adanya praktik suap di MK.

"Siapa sih yang mau misalnya bikin tim investigasi tapi ancamannya di kriminalisasi. Kan begitu kira-kira ya," akunya.

Meski akhirnya, mantan staf ahli MK ini menemukan orang yang mau bergabung ke dalam tim investigasi. Yaitu, Adnan Buyung Nasution, Bambang Harimurti, Bambang Wijoyanto, Saldi Isra. Dua nama terakhir merupakan nama yang ditunjuk oleh MK sendiri.

Senin malam besok, tim akan bertemu dengan hakim-hakim MK. Pada saat itulah tim ini akan diberi Surat Keputusan dan diberi penjelasan soal ruang lingkup investigasi yang akan dilakukan. [zul]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya