Berita

Wawancara

WAWANCARA

Letjen TNI Burhanudin Amin, Pramono Edhie Wibowo Lebih Baik dari Saya

JUMAT, 05 NOVEMBER 2010 | 08:39 WIB

RMOL. Setelah pensiun, Panglima Komando Strategis TNI AD atau Pangkostrad Letjen Burhanudin Amin akan menjadi petani. Lelaki asal Sumatera Selatan ini, hari ini akan menyerahkan jabatannya kepada Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo yang juga adik ipar Presiden SBY. Dia menilai Pramono sebagai pengganti yang layak.

“Ke depan, Kostrad tentu akan lebih baik,” kata Burhanudin yang akan segera memasuki masa pensiun di usia 58.

Selama menjadi tentara dan se­puluh bulan menjabat Pang­kos­trad, Burhanudin mengaku ba­nyak mengalami suka duka. “Se­lama itu terasa betul-betul saya menjadi tentara. Saya puas. Saya mendapat kehormatan yang luar biasa di Kostrad ini,” tu­turnya.


Burhanuddin diangkat sebagai Pangkostrad pada Januari 2010 menggantikan George Toisutta yang dipromosikan menjadi Ke­pala Staf TNI AD (KASAD). Se­telah pensiun, dia mengaku tidak akan terjun ke dunia politik.

Setelah pensiun, Anda mem­per­timbangkan menjadi pe­tani. Kenapa tidak terjun ke du­nia politik?
Saya tidak berminat. Kalau saya diajak berpolitik, terutama di partai, mungkin saya tidak ber­bakat. Berpolitik itu perlu ba­kat. Kalau saya diajak berbisnis, itu juga belum tentu ada bakat. Jadi untuk sementara saya kon­solidasi dulu.

Suka duka menjabat Pang­kos­trad?
Dukanya hampir tidak terlalu banyak. Misalnya, karena ba­nyak latihan, sering meninggal­kan anak istri. Sering pindah-pindah. Sehingga, anak saya yang seko­lah tidak bisa mapan betul karena sering pindah-pin­dah. Sukanya, saya senang betul merasakan jadi tentara sampai Pangkostrad ini. Dulu dinas pertama saya di Sula­wesi selama 10 tahun. Di Kodam. Tapi se­lama itu terasa betul-betul saya menjadi tentara dan saya puas. Saya mendapat kehormatan yang luar biasa di Kostrad ini.

Kenapa Anda bisa sampai ke Kostrad...
Saya di Kostrad mulai men­jabat Komandan Batalyon tahun 1993-1995, kemudian 1995-1996 sempat menjadi Kepala Staf Brigade 6 Kostrad Solo. 1996 saya pindah ke Jakarta menjabat Wasintel Kostrad, lalu 1997-1998 saya diberi kesem­patan menjadi Komandan Bri­gade 6 Kostrad Solo. Lalu seko­lah Seskuabri, setelah itu kem­bali ke Makostrad menjadi Asin­tel Pangkostrad. Saya ditugaskan di luar Kostrad dan baru kembali lagi ke Kostrad pada 2003 sebagai Kepala Staf Divisi I Kostrad. Lalu keluar lagi jadi Kasdam, jadi Pangdam Bukit Barisan dan kembali lagi ke Kostrad Januari 2010 hingga pensiun.

Dari seluruh kehidupan ten­tara yang Anda alami, mana yang paling sulit?
Yang paling sulit biasanya pada tahap-tahap awal. Saat pertama kali jadi tentara, banyak keter­batasan.

Saya sempat kontrak rumah, rumah dinas tidak ada, bahkan sampai posisi kapten. Itu saja masa-masa sulit saya.

Bagaimana Anda di Kos­trad?
Saya melanjutkan tugas Pang­kostrad terdahulu, dari George Toisutta kan ada program-pro­gram beliau yang belum selesai, ya saya lanjutkan, lalu saya tam­bah dan benahi. Hanya saja, November 2010 ini, ada latihan-latihan yang sangat penting tapi tidak bisa saya ikuti. Yang per­tama, latihan Batalyon Tim Per­tempuran yang dilakukan di Sangga Buana, kedua, nanti ada juga latihan militer dengan Singa­­pura. Kemudian, ada lati­han pa­sukan reaksi cepat di Kalimantan Timur oleh Divisi II di Malang, itu sayang sekali tidak bisa saya ikuti padahal saya sangat senang mengikuti latihan-latihan ter­sebut.

Selain bertani, apa yang akan dilakukan se­telah pen­siun?
Pertama, saya menyadari ke­ter­batasan saya. Basic saya, awal saya, keluarga saya dari petani. Jadi tidak tertutup kemungkinan kembali jadi petani seperti orang tua saya di Sumatera Selatan. Kebetulan orang tua saya , mer­tua saya punya ladang. Paling-paling mulai dari situ.

Jadi benar-benar fokus ke pertanian nih?
Kalau dibilang fokus menjadi petani sih tidak. Saya masih kon­sultasi dulu, baru kita lihat pe­luang mana yang cocok.

Ada saran kepada pengganti Anda?
Saya kira tidak ada saran. Karena beliau sudah sangat pro­fesional karena background be­liau kan di Kopassus, punya pengalaman latihan dan telah banyak menghadapi situasi dan kondisi. Saya yakin beliau (Pra­mono Edhie Wibowo) lebih baik dari saya, sehingga Kostrad bisa lebih bagus lagi.

Saat ini banyak perwira-per­wira muda yang mumpuni. Untuk bisa menduduki jabatan prestisius seperti Pangkostrad misalnya, apa yang mereka ha­rus kem­bangkan?
Persyaratannya, pertama, ke­mampuan atau kapabilitas. Ke­dua, acceptabilitas, diterima ling­kungan. Dan ketiga, loya­litas. Tiga itu harus terpenuhi. Tapi tidak menjamin, karena faktor nasib juga ada ber­penga­ruh. Banyak yang pintar tapi tidak loyal, tidak bisa juga. Dia loyal sekali tapi tidak ada pengalaman operasi dan latihan, tidak bisa juga, dan sebagainya.

Apa yang Anda bayangkan dan harapkan dari wa­jah TNI ke de­pan?
Saya berharap, ke depan, TNI ma­­kin kuat dan besar. Bukan kecil efektif, tapi besar efektif, itu yang benar. Perlu di­ingat, tidak ada ne­gara besar di dunia yang tidak didukung oleh Ang­katan Ber­senjata yang kuat, berarti negara kita harus kuat per­sen­jataannya. Negara kita ini dari segi pen­duduk saja nomor empat setelah China, India dan Amerika Serikat. Dari segi garis wilayah, kita sama dengan Eropa Barat, Eropa Timur, itu berapa puluh negara, sementara kita satu ne­gara. Ditambah potensi sum­ber­daya alam yang luar biasa, ber­limpah-limpah. Jadi, kita ha­rus me­miliki angka­tan per­sen­jataan yang kuat.

Dengan kondisi ini, bagai­mana Anda melihat kesiapan ten­tara kita di wilayah per­ba­tasan?
Sebenarnya kita tidak kalah kuatnya dengan negara-negara sahabat kita, Singapura maupun Malaysia. Di ASEAN kita negara paling besar.

Apakah dari segi militer, kita juga yang terbesar?
Ya. Militer kita juga besar. Ke depan, kita berharap bisa menjadi yang ter­be­sar dan ter­kuat.   [RM]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya