ilustrasi keadilan/ist
ilustrasi keadilan/ist
RMOL. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia memandang diskriminasi hukum di negeri ini masih terasa kental dan mencolok, khususnya pada masyarakat miskin yang tidak memiliki sumber daya untuk mengakses keadilan melalui pendampingan hukum prodeo.
"Penegakan hukum masih dibedakan antara di si kaya dan miskin. Si miskin nyolong ayam kena hukuman tiga tahun. Si kaya melakukan korupsi triliunan hanya enam bulan. Di situ si kaya mampu membeli pengacara yang berkelas, juga membeli keadilan di pengadilan," ujar Wakil Ketua YLBHI Alfon Kurnia Talma saat berbincang dengan Rakyat Merdeka Online, di kantornya, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (25/10).
Ironisnya lagi, tambah Alfon, pengadilan cenderung menilai para koruptor sebagai orang-orang terhormat dan dianggap punya jasa terhadap negara. Sementara si miskin tetap tidak bisa mempengaruhi pengadilan. Ia akui memang struktur kenegaraan memang sekarang sudah banyak berubah tapi watak penindasan masih terlihat jelas hingga saat ini.
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Senin, 12 Januari 2026 | 14:15
Senin, 12 Januari 2026 | 14:10
Senin, 12 Januari 2026 | 14:08
Senin, 12 Januari 2026 | 14:03
Senin, 12 Januari 2026 | 14:03
Senin, 12 Januari 2026 | 13:52
Senin, 12 Januari 2026 | 13:40
Senin, 12 Januari 2026 | 13:12
Senin, 12 Januari 2026 | 13:10
Senin, 12 Januari 2026 | 13:04