Berita

ilustrasi

Rumah Kaca

Anak Plisi

Oleh: Hujan Tarigan
SENIN, 25 OKTOBER 2010 | 09:21 WIB

SUJARNO menyembunyikan wajahnya ke dalam lipatan tangan. Dia meringkuk di pojok warung Mak Mona. Sudah satu jam. Nafasnya terus tersengal, sesekali diangkatnya wajahnya untuk melihat orang yang muncul dan minum di warung Mak Mona.

“Biasa, kalah lagi,” Mak Mona menjelaskan kepada Tursiman, seorang warga yang duduk dan memesan kopi stengki. Tursiman mengambil duduk dan terus memerhatikan dengan wajah manyun ke arah Sujarno yang tengah meringis sambil menyembunyikan muka.

“Lawan siapa, No?” tanya Tursiman. Sujarno melengos.

“Itu, Saiman dan anak-anak kampung,” ujar Mak Monah mewakili Sujarno menjawab. Tursiman tersungging. Bibirnya menyeringai. Kumisnya bergerak-gerak. “Weleh, dikeroyok tha?” tanyanya lagi dengan tawa ditahan.

Sujarno bergeming. Terus mengumpulkan sisa tenga untuk melanjutkan segala kemungkinan akan adanya ronde kedua. Tangannya mengepal. Darahnya kembali menggumpal.

"Anak Plisi!” demikianlah remaja tanggung di kampung kami menjuluki Sujarno. Sepintas tak ada yang salah dengan julukan itu. Pasalnya, Sujarno memang seorang anak polisi. Pak Sobur adalah bapaknya, seorang pelayan masyarakat dengan perut gendut yang bertugas di Polsek B. Seluruh warga di kampung kami tahu betul siapa Pak Sobur.

Pagi-pagi dia berangkat lengkap dengan seragam, nanti hampir seperempat malam baru pulang dengan kepala berat dan jalan terhuyung-huyung. Memang tak ada yang salah dengan anggota polisi itu. Karena warga sudah menganggap itu sebuah tradisi dan memaklumkan saja semua tindak-tanduk Pak Sobur. Namun kepada anaknya, si Sujarno, warga suka meneror mental remja itu.

Ya, benar, “Anak Plisi” itu lebih bermakna konotatif. Dan Sujarno paham kalau julukan itu adalah penghinaan baginya, sebagai anak seorang polisi, dan penghinaan karir ayahnya, Pak Sobur yang seorang polisi.

Maka untuk kesekian kalinya, siang ini, Sujarno kembali kesakitan akibat ulahnya sendiri yang tak terima dengan julukan yang sudah diberikan remaja di kampung kami.

“Terus kenapa kalau aku anak plisi? Kau sendiri anak petani,” balas Sujarno kepada Saiman beberapa saat sebelum duel tak seimbang terjadi.

“Setidaknya anak petani lebih baik dari anak plisi. Anak plisi itu cengeng, manja, sedikit-sedikit mengadu pada orangtuanya. Sedikit-sedikit mengancam, sedikit-sedikit main tangan,” olok Saiman.

Sementara Paijan dan Karto yang berdiri di belakang Saiman ikut tertawa dan melengkapi olokan Saiman.

“Diam kau Paijan, tak ada urusan dengan kau. Kau pun tak jelas. Kau cuma punya emak, bapakmu tak pernah ada. Dan kau sendiri, emakmu, itu biasa mangkal di warung Mak Mona sambil menggoda siapa saja yang singgah. Tak tahu malu,”

“Kau bawa-bawa emakku? Emakku lebih baik dari bapakmu,”

Suasana kian panas ketika perang mulut itu berkembang dan meluas.

“Ah, seperti yang sudah-sudah. Percuma, kau dikasih pelajaran, kau ini kan anak manja, nanti juga kau akan adukan kepada bapakmu yang plisi itu,”ujar Karto ketika Saiman menantang ketiga anak itu untuk berkelahi.

“Asal kau tahu ya, aku ini tak seperti anak plisi yang kau kira itu. Apa selama ini kau pernah berurusan dengan bapakku? Urusan kita ya urusan kita. Kau berani tidak?” damprat Sujarno sambil mengambil kuda-kuda. Wajahnya merah. Amarah sudah tak lagi bisa dibantah.

“Banyak omong kau!” maki Saiman sambil menarik Sujarno dan membantingnya ke tanah, sementara Paijan dan Karto ikut memegangi tangan anak plisi itu.

***

Sujarno lelah dengan julukan “Anak Plisi” yang disandangkan kepadanya. Dia pun jengah dengan olok-olokan yang terus menerornya, siang dan malam. Dia pernah bangga dengan julukan itu. Bangga sekali bahkan. Awalnya dia menganggap julukan itu adalah tulus dan benar-benar sebuah julukan penghormatan karena prestasi ayahnya. Sebuah julukan yang pantas disandangkan karena polisi adalah sebuah profesi yang benar-benar mendapat tempat di hati orang banyak. Namun setelah cukup besar, lambat laun dia menyadari, bahwa “Anak Plisi” yang menjadi gelarnya selama ini memiliki makna yang sangat melecehkan. Sujarno lelah karena saban pulang dengan wajah lebam selalu diinterogasi ayahnya, Pak Sobur.

“Kenapa wajahmu biram?”

“Biasa Yah, jatuh mengejar bola,”

“Mengejar bola kok segitunya?”

“….”

Lama-lama Pak Sobur tahu juga perihal perilaku anaknya yang suka bergelut dan bergulat dengan remaja.

“Ayo, siapa yang memukulmu?” desak Pak Sobur hilang sabar.

“Tidak kok Yah, ini bukan dipukul,”

“Bohong, ayo, bilang saja, biar Ayah yang mengurusnya,”

“….”

Bungkam… Sujarno akan bungkam. Semakin didesak dia semakin mengatupkan mulutnya dengan rapat. Semakin dipaksa menjawab dia semakin memupuk dendam. Meski Sujarno paham, entah pada siapa dendam itu dialamatkan.

***

“Anak Plisi, kalah lagi?” olok Wak Leman dengan terkekeh.

“Sudahlah, kau memang tak bakat jadi Anak Plisi,” seloroh Wak Leman sambil mengambil duduk dan memesan kopi stengki kepada Mak Mona. Seberapa waktu kopi yang dipesan pun dating. Sambil meniup dan mengusir panas, Wak Leman dengan santai menyeruput kopi olahan tangan Mak Mona.

Sujarno menahan kesal. Warung Mak Mona menjadi saksi kekesalan Sujarno yang kali ini tak bisa diganjal. Sekali pantik, bara yang yang terpendam di dada Sujarno niscaya terpercik. Lantas membakar segenap saraf motorik yang lelah karena duel beberapa waktu sebelumnya. Sujarno menyala. Terbakar marah yang raya. Dia bangkit, lantas pergi untuk kemudian kembali lagi dengan bata utuh di tangan kanan.

“Wak Leman!”

Prok! Prok! Prok!

Warung Mak Mona sepi dalam peredaran waktu yang konstan.

Sujarno berdiri tegak dengan bata merah di tangan. Dipandanginya mangsanya, meregang nyawa di lantai. Sementara cairan merah pekat terus mengalir dari kepala Wak Leman.

***

“Anak Plisi” demikianlah kami mengenal Sujarno, remaja tanggung yang kini tengah berurusan dengan bapaknya sendiri. Ketika digelandang masuk ke mobil polisi, wajah Sujarno demikian dingin menatap kami, teman sepermainan. Terlebih kepada Saiman, Karto dan Paijan.

Aku tiba di warung Mak Mona setelah segenap kampung riuh dengan pertunjukan nyali “Anak Plisi”. Warga berkumpul, sesak padat mengerubungi. Kulihat sisa kopi stengki milik Wak Leman, tenang menggenang di dalam gelas.

Binjai, 24 Oktober 2010


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya