Berita

Wawancara

Freddy Numberi: Aneh, Banyak Orang Salahkan SBY Padahal yang Salah Bawahannya

MINGGU, 17 OKTOBER 2010 | 02:16 WIB

Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengaku prihatin dengan kondisi bangsa ini. Sebab, setiap kekurangan pemerintah selalu Presiden SBY yang disalahkan.

“Jangan selalu Presiden yang disalahkan dong, tapi salahkan yang diberi wewenang, siapa pelaksana tugas tersebut,’’ ujar Freddy Numberi saat peluncuran buku karyanya Kepemimpinan Sepanjang Zaman, di Wisma Elang Laut, Jakarta, kemarin.

Peluncuran buku setebal 206 halaman itu dipandu Andy F Noya (presenter Metro TV) deng­an pembedah antara lain Tanri Abeng (bekas Menneg BUMN) dan Freddy Numberi.


Menurut Laksamana Madya TNI (Purn) itu, tugas Presiden itu  hanya aspek kebijakan saja. Tapi implementasinya kepada sektor yang mengerjakannya.

“Misalnya, ada kebijakan men­teri yang turun ke bawah, tapi pelayanannya tidak jalan, kok Presiden yang salah. Pihak pe­laksananya dong yang salah,’’ ucapnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa Anda berkata seperti itu, apakah ini ada kaitannya dengan sejumlah tokoh yang selalu menyalahkan Presiden?
Saya merasa aneh saja. Banyak orang menyalahkan Prsiden SBY, tanpa menganalisa terlebih da­hulu siapa yang bertanggung jawab atas kerjaan itu.

Bukankah Presiden sebagai pucuk pimpinan yang harus di­salahkan?
Presiden hanya memberikan kebijakan, misalnya ke menteri.

Jangan gara-gara para menteri, Presiden yang disalahkan. Itu kan tidak benar dong. Kalau kita yang bersalah maka kita yang harus bertanggung jawab.

Pernyataan ini bukan men­cari simpati kepada SBY kan?
O, tidak. Sedikit-sedikit ada salah, maka yang disalahkan Pre­siden.

Jangan salahkan yang atasan­nya dong. Kita harusnya sudah bisa menebak, yang salah pada implementasinya.

Jangan kalau ada salah sedikit, langsung ditujukan ke Presiden. Kan tidak benar juga. Jadi, ma­syarakat kita salah kaprah juga. Padahal kebijakan sudah baik, tapi implementasi yang harus kita awasi.

Apa harapan SBY terhadap buku ini?
Beliau mengatakan, mudah-mudahan buku ini juga mendo­rong generasi muda untuk me­mimpin Indonesia dengan baik. Sebab, pemimpin Indonesia itu unik. Begitu beragam masyarakat bangsa yang perlu kesadaran. Tapi utamanya membangun ko­mu­nikasi. Intinya  jangan me­nutup diri.

Bagaimana perasaannya se­te­lah diluncurkan buku ini?
O, tentunya bahagia dong. Saya bersyukur karena selama dua tahun menyulis buku ini, akhirnya bisa diluncurkan. Ini bisa menambah perpus­takaan di Indonesia tentang ba­gai­mana me­mim­pin yang baik.

Kendala apa yang dihadapi untuk menulis buku itu?
Banyak, harus melakukan pe­nelitian-penelitian.

Mengapa Anda menulis di tengah kesibukan sebagai Men­hub?
Kepemimpinan paling utama di dalam menggerakkan roda-roda pemerintah yang ada. Dan saya berpikir, tidak ada salahnya memberi sumbangsih.

Apa yang ditonjolkan dalam buku ini?
Pemimpin Indonesia harus orang nasionalis. Kalau negeri ini diharapkan bisa langgeng sampai kiamat, nasio­nalisme harus di­ang­kat. Setiap anak bangsa ber­diri sama tinggi, duduk sama rendah.

Di sisi lain yang saya ung­­kap­kan bahwa diera refor­masi ini harus menuntun kerak­yatan. Makanya dalam bab ter­akhir itu termuat tentang the servant leadership. Makanya yang kita laku­kan ada­lah bagai­mana mela­yani masya­rakat da­lam mem­bangun negeri ini. Jadi, saya pikir mudah-mu­dahan dalam tulisan ini bisa membantu gene­rasi muda, teru­tama bagai­mana nilai kepe­mimpinan Indo­nesia ke depan bisa kita bangun lebih baik.

Apa yang Anda mau capai?
Pemimpin Indonesia ke depan tetap memiliki komitmen dengan idealisme-idealisme yang tinggi.

Bukan ini bagian menaikkan citra Anda menjelang evaluasi setahun kinerja menteri?
Ah, nggak ada seperti itu. Saya ingin sumbangsih saja. Saya pernah menjadi Gubermur Papua yang menerapkan asas keber­samaan.

Maksudnya?
Papua adalah negeri kita ber­sama. Di mana setiap putra-putra lain boleh ikut masuk di sana dan ikut membangun. Jadi terbuka. Dari Jawa, Batak, dan suku-suku lainnya. Jadi, pemimpin di daerah harus membuka diri ikut merang­kul semua yang ada di daerahnya. Hanya dengan demikian kita bisa jaga kebersamaan itu. Jangan terkontaminasi dengan kepen­tingan dan ke­lompok.

Anda bilang ada dua Jen­­deral Angkatan Darat yang paling dikagumi, yakni Douglas Mac Arthur dan SBY, kenapa?
Banyak jenderal yang saya kagumi, tapi kedua jenderal itu yang paling saya kagumi karena sebelum mengambil keputusan selalu meminta pendapat dari bawahannya.

Misalnya, Douglas Mac Ar­thur di Era Perang Dunia II yang lulusan West Ponit Military Aca­demy ini selalu bertanya dan men­dengar semua saran dari per­wira di bawahnya, bahkan pra­jurit sekalipun. Sebelum meng­ambil keputusan penting , semua perwira yang dipimpinnya di­mintai pendapat, setelah itu keputusan tetap di tangan sang jenderal legendaris.

Kalau SBY?
Sama dengan Mac Arthur. Saat memberikan tugas ke ba­wahan­nya  ada rasa respek. Saya sebagai bawahan dikoreksi dan itu sangat membangun pada bawahannya.

Anda mengagumi SBY bu­kan karena Presiden kan?
Tidak. Presiden SBY adalah salah satu pemimpin perubahan di Indonesia.  Di mata rakyat, be­liau menjadi kekuatan dan inspi­rasi perubahan besar di negeri ini. Tak terbantahkan, angin peruba­han telah mengembuskan rasa bangga dan kecintaan rakyat ter­hadap pemimpinnya.  [RM]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya