boediono/ist
boediono/ist
RMOL. Menjelang satu tahun masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, banyak masyarakat memberikan catatan kritis atas kinerja pemerintahan selama ini. Dan yang menjadi fokus masyarakat lebih banyak ditujukan kepada Presiden SBY, tidak Boediono.
Hal ini diakui dosen Ilmu Politik Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Muhammad Nasih. Dalam kepemimpinan, Muhammad Nasih menilai, yang sering dianggap adalah orang nomor satu, bukan orang nomor dua.
"Soal kepemimpinan inikan orang nomor satu. Orang nomor dua ini sering tidak dianggap. Apalagi kalau proses rekruitmen politik SBY kemarin, itu kan menempatkan Boediono sebagai orang yang tidak powerfull. Sehingga kalau menghantam SBY itu sama dengan menghantam semuanya. Kalau mengantam Boediono tidak ada artinya. Yang paling signifikan kan menghantam SBY," ujar Nasih kepada Rakyat Merdeka Online Rabu malam (13/10).
Nasih melihat, SBY memilih Boediono sebagai wakil presiden pada saat pemilihan presiden 2009 lalu memang disengaja. Karena Boediono tidak memiliki kekuatan politik sehingga dianggap tidak membahayakan.
"Memilih Boediono karena nanti Partai Demokrat dapat bertahan. Kalau yang diambil orang partai maka dia punya potensi bisa naik. Kalau SBY lengser, maka orang kedua ini menjadi orang yang pertama," demikian Nasih. [zul]
Populer
Sabtu, 25 April 2026 | 15:43
Sabtu, 25 April 2026 | 05:15
Sabtu, 25 April 2026 | 02:37
Kamis, 23 April 2026 | 12:34
Minggu, 26 April 2026 | 11:05
Kamis, 23 April 2026 | 01:30
Senin, 27 April 2026 | 03:59
UPDATE
Senin, 04 Mei 2026 | 06:21
Senin, 04 Mei 2026 | 06:06
Senin, 04 Mei 2026 | 05:41
Senin, 04 Mei 2026 | 05:21
Senin, 04 Mei 2026 | 05:07
Senin, 04 Mei 2026 | 04:24
Senin, 04 Mei 2026 | 04:18
Senin, 04 Mei 2026 | 04:03
Senin, 04 Mei 2026 | 03:27
Senin, 04 Mei 2026 | 03:19