RMOL. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengaku hanya 12 kali pergi ke luar negeri dalam setahun. Tapi itu pun untuk mempromosikan Indonesia, sehingga dalam setahun mampu menjaring 70 juta wisatawan asing.
Untuk itu, menteri dari Partai Demokrat tersebut yakin dapat rapor biru saat evaluasi setahun kinerja menteri yang dilakukan 20 Oktober mendatang.
“Saya kan sudah memonitor semuanya, pasti rapor kemenÂterian saya bagus. Waktu kita sekolah saat ulangan umum, ada 10 soal, dan merasa bisa angkaÂnya minimum 8, sudah kebaÂyanglah itu,†katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:Benar nih senang, jangan-jangÂan dag-dig-dug kalau dieÂvaÂluasi kinerjanya?
Nggaklah, kan saya sudah tahu. Saya bekerja ini, dan sukses semua. Jadi, nggak dag-dig-dug saya.
Ah, masa sih, kenapa begitu percaya diri? Sesuai dengan monitoring UKP4 (Unit Kerja Presiden biÂdang Pengawasan dan PengendaÂlian Pembangunan) dari semua konÂtrak kinerja, sudah saya kerÂjaÂkan semuanya dengan baik. Jadi semua item yang ada dalam konÂtrak kerja saya dengan PresiÂden yang dimonitor UKP4 seÂmuaÂnya 100.
Jadi nggak ada masalah nih?Saya kan sudah mengalami ini 6 tahun. Karena kepribadian saya juga itu tipe komunikasinya cepat, saya kejar semua termasuk program 100 hari, setahun, lima tahun itu semua saya bukukan, sehingga di KIB II saya jadi menÂteri lagi, saya sudah tahu caranya.
Emang ada menteri yang geÂraknya tidak cepat?Paling kita saling uber saja. Saya alami 6 tahun bisa, asal sama-sama rajin berkomunikasi. Contohnya, membuka
visa unÂderrival kantong-kantong wisataÂwan, seperti dari China. Itu kan tidak bisa dari saya saja, harus mengÂajak Kemenkumham, Deplu, malah koordinasi dengan Menko Polhukam, saya temui, saya yakinkan, bisa itu.
Untuk berikutnya apa lagi yang akan jadi program prioÂritas?Kita sedang mengemas sekaÂrang branding nasional. Untuk bisa membuat itu semua, saya tidak jalan sendiri karena ini nanti akan dipakai branding itu oleh Budpar, oleh Perdagangan dan DKPN.
O ya, apa Anda sering ke luar negeri?Kadang-kadang sebulan dua kali, tapi bisa juga berbulan-bulan nggak ke luar negeri. Kan saya keliling Indonesia juga. Kalau di dalam negeri banyak urusan, ya nggak ke luar negeri. Keluar neÂgeri paling kalau ada yang penÂting-penting saja.
Berapa jumlah anggarannya ke luar negeri?Anggaran untuk ke keluar negeri, kalau perginya itu tidak banyak. Saya sekali pergi paling menghabiskan uang untuk saya, atau dengan tim saya, paling Rp 100 juta. Total itu sudah. Dalam setahun 12 kali ke luar negeri. Jadi, Rp 1,2 miliar, nggak baÂnyakÂlah habiskan uang untuk saya.
Biasanya berapa hari di luar negeri?Paling 3 sampai 4 hari.
Senang dong jalan-jalan ke luar negeri?Ah, saya sebetulnya nggak beÂgitu suka terbang, tapi kan namaÂnya tugas. Jadi tidak boleh ada kesan di masyarakat bahwa saya pergi piknik, ya nggaklah. Malah saya sering pergi tidak sempat lihat objek-objek wisata. Dari hotel, press conference, ketemu traÂvel agent dan itu sampai maÂlam. Jadi nggak sempat lihat apa-apa.
Biasanya ditemani siapa?Ya tergantung. Seperti rapat pariÂwisata ASEAN, itu sudah ada timnya, ada Dirjen, ada Sekjen, ada Kepala Kerja Sama Luar Negeri. Kadang-kadang ada proÂmosi wisata juga bawa tim penari, bawa wartawan 2-3 orang. Itu timnya.
Memang berapa alokasi angÂgaÂÂran untuk setahun?Setahun saya punya anggaran promosi ke luar negeri itu Rp 60 miÂliar. Itu kan ada bikin tempat jualan pariwisata terbesar di dunia seperti di Berlin, London, Jepang, Timur Tengah. Jadi pasar-pasar itu kita promosikan Indonesia.
Tapi sebanding tidak dengan negara lain ?Oh sangat kurang jika dibanÂdingÂkan dengan Malaysia yang anggarannya untuk itu 100 juta dolar AS setahun. Kita masih jauh ketinggalan. Karena menurut WTO, World Tourism OrganisaÂtion, untuk menjaring satu turis itu biaya promosinya harus 10 dolar AS. Jadi mancing dengan 10 dolar dapat satu turis dengan belanjanya 1.000 dolar. Jadi kalau kita mau dapatkan turis tujuh juta setahun, biaya promosinya mestiÂnya tujuh juta kali 10 dolar. Jadi, butuh 70 juta dolar AS. Ini berarti Rp 700 miliar.
Tapi biaya itu sudah diperÂjuangkan?Sudah, tapi kan belum dapat. Tahun ini totalnya, termasuk iklan-iklan, sekitar Rp 250 miÂliar. Tapi kan dapat tujuh juta wiÂsataÂwan. Tapi kita sudah perjuangkan dan DPR juga ikut memperÂjuangÂkan. Sebab, menuÂrut mereka biaÂya promosi kuÂrang. Tapi neÂgara ini kan ada prioritasnya. PendiÂdikÂan nomor satu, kesehatan noÂmor dua, pertahanan dan pekerjaÂan umum nomor tiga, sehingga pariwisata masih di bawah. Tapi sudah, dengan modal yang ada nggak boleh menyerah.
Kalau anggaran promosi naik, devisa kita juga bertambah?Bisa. Kalau naik pancinganÂnya mesti bisa tambah itu devisa kita. Ini yang kita diskusikan di DPR.
[RM]