RMOL.Misalnya saja, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Ahmad Mubarok yang menyataÂkan akan ada 3 sampai 5 menteri diganti. Tapi tidak menyebutkan siapa orangnya.
Sedangkan Ketua DPP Partai Demokrat Achsanul Qosasih memÂÂperkirakan, lima menteri teranÂcam kena reshuffle kabinet, yakni Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, Menteri KomuniÂkasi dan Informasi Tifatul SemÂbiring, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, Menteri Perhubungan Freddy Numberi, dan Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto.
Namun Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom), Ruhut Sitompul menjamin 100 persen bahwa petinggi Partai Demokrat belum tahu soal reshuffle kabiÂnet. Sebab, SBY belum berbicara soal itu.
“Pak Anas Urbaningrum (KeÂtum Partai Demokrat) saja tidak tahu soal reshuffle itu. Jadi, saya heran, dari mana teman-teman saya itu dapat informasi bahwa ada menteri bakal diganti,’’ ujarÂnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan wawancara dengan anggota Komisi III DPR yang dikenal dengan seÂbutan si Poltak Raja Minyak dari Medan itu.
Anda dikenal sering menÂdaÂpat informasi akurat dari IstaÂna, apakah sudah mendapat bocoran soal reshuffle kabinet?
Saya belum mendengarnya. Sejumlah teman-teman saya di lingkaran Istana, tak ada yang bilang dilakukan reshuffle kabiÂnet seusai evaluasi kinerja menÂteri akhir Oktober mendaÂtang.
Apa Presiden pernah ngoÂmong soal itu?
Sepengetahuan kami semua, Pak SBY belum pernah bicara soal ada menteri yang diganti. BaÂpak orangnya kan sangat transÂparan. Kalau memang ada menÂteri yang diganti, tentu sudah ada sinyal-sinyalnya. Ini kan nggak ada. Tidak ada angin sama sekali, kok ada yang memperkiraÂkan ada lima menteri yang diganti.
Yang memperkirakan itu kan pengurus Partai Demokrat juga, berarti akurat dong ?
Ah, belum tentu. Bisa jadi itu hanya dugaan-dugaan saja. Yah, semacam perkiraan begitu.
Lalu apa motivasinya?
Bisa jadi benar apa yang diÂkatakan Patrialis Akbar bahwa orang itu kepingin jadi menteri, makanya selalu gatal menyatakan bahwa dia akan diganti.
Kalau menurut Anda, bagaiÂmana?
Masuk akal, yang meminta diganti itu kepingin jadi menteri.
Makanya saya berharap agar teman-teman saya di Partai DemoÂÂkrat untuk menahan dirilah. Sebaiknya tidak nafsu menjadi menteri.
Maksudnya?
Jangan mendahului atau meÂmaksa Pak SBY untuk mengganti menteri. Itu kan hak prerogatif Presiden. Biarkan saja Presiden yang menilai kinerja menteri. Kalau memang nanti ada yang mendapat rapor merah, kinerjaÂnya jelak, ya kalau menuÂrut Presiden perlu diganti, ya bakal diganti. Nggak usah disuÂruh-suruh.
Lima menteri yang dipreÂdikÂsi diganti itu nggak akurat begitu?
Tolong catat ya. Itu sangat tidak akurat. Saya jamin 100 persen bahwa informasi itu salah. Jujur ya para petinggi Partai DemoÂÂkrat tidak tahu tentang reshuffle itu. Sebab, Presiden belum ngomong. Jadi, tolonglah teman-teman saya untuk menaÂhan diri.
Tampaknya Anda begitu yaÂkin ya, apa alasannya?
Sederhana saja karena kinerja lima menteri yang dimaksud sangat bagus. Barometer menteri diganti kan dari kinerja, bukan dari faktor yang lain.
Kalau faktor isu selingkuh?
Saya kira itu tidak masuk kateÂgori ya. Ada dua menteri dari Partai Demokrat yang diÂterpa isu selingkuh. Keduanya kan sudah membantah, itu tidak ada. Begitu juga istri menteri itu. Jadi, nggak usahlah dikembang-kembangÂkan isu yang tidak benar terseÂbut. Isu itu dihembuskan oleh orang-orang yang kepingin jadi menteri. Janganlah main politik kotor untuk memojokkan seseoÂrang. Tidak baguslah kita menÂjelek-jelekkan teman sendiri.
Apa Anda yakin bahwa itu tiÂdak dijadikan faktor penilaiÂan?
Begini ya, itu isu murahan, nggak tahu kejelasannya. LagiÂpula yang dijadikan barometer itu adalah kinerja. Presiden AS Bill Clinton yang jelas-jelas terbukti selingkuh dengan stafnya di Gedung Putih, Monica LewinÂsky, tidak diganti. Sebab, masyarakat AS menilai yang penting kinerja. Saya yakin, Pak SBY juga meÂnilai dari kinerja menteri.
Emang bagus kinerja dua menÂteri yang diterpa isu selingÂkuh itu?
Saya menilainya kinerjanya sangat bagus. Misalnya Menhub. Indikatornya bisa dilihat saat angkutan lebaran lalu, kinerjaÂnya cukup bagus dan rapi. Salah satu prestasinya adalah sukses melaÂyani pemudik dengan mengÂgunaÂkan berbagai moda transportasi, yakni udara, darat, dan laut.
Indikator lainnya adalah terjadi penurunan kecelakaan dan korÂban meninggal dunia. Kalau tahun 2009 terjadi 1.648 kecelaÂkaan dengan 702 orang meÂninggal dunia, tapi tahun ini 1.397 kecelakaan dengan meÂninggal dunia 311 orang. Ini kan sebuah catatan prestasi.
Lalu kinerja Menteri ESDM?
Itu juga cukup bagus. Saya yakin Pak SBY akan menilai dari kinerja, bukan dari isu murahan. Pak SBY itu punya mata di mana-mana, sehingga tahu mana yang benar dan tahu mana yang tidak benar. [RM]