Berita

Wawancara

WAWANCARA

Gamawan Fauzi: Saya Nggak Pernah Ke Luar Negeri, Anggarannya Cuma Rp 8 Miliar Kok...

KAMIS, 30 SEPTEMBER 2010 | 07:24 WIB

RMOL. Gamawan Fauzi mengaku tidak pernah melakukan kunjungan kerja  ke luar negeri setelah menjabat Menteri Dalam Negeri.

Makanya bekas Gubernur Sumatera Barat itu tidak merasa ri­sau atas suara-suara miring ter­kait dana perjalanan dinas pejabat ke luar negeri.

’’Dana perjalanan dinas ke luar negeri sebesar Rp 8 miliar. Itu pun digunakan sebagaimana mes­tinya. Misalnya, me­nye­le­sai­kan persoalan perbatasan dengan Malaysia dan Papua Nugini. Tidak satu sen pun dipakai untuk sa­ya,’’ ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.    


Berikut kutipan selengkapnya:   

Ah, masa sih nggak pernah ke luar negeri?
Ya, betul. Saya tidak ada per­jalanan dinas ke luar negeri yang mempergunakan dana Ke­men­dagri. Sebab, memang tidak di­ran­cang untuk itu. Jadi, sesen pun tidak ada yang saya pakai ang­garan tersebut.

Kalau nggak salah bukannya Anda pernah ke Australia?
O, itu beda. Saya pergi ke Australia  tidak mempergunakan anggaran Kemendagri. Sebab, saya diajak Bapak Presiden SBY. Itu terjadi setelah setahun saya menjadi Men­dagri.

Ke depan juga nggak ada ren­cana ke luar negeri meng­gu­na­kan dana Kemendagri?
Tidak dirancang seperti itu. Jadi, saya tidak ada rencana ke luar negeri.

Apa Anda tidak merasa iri de­ngan menteri lain yang sering nge­­lancong ke luar negeri?
Ya, nggaklah, tidak masalah itu. Tugas menteri kan bukan ke luar negeri, itu bisa diwakilkan ke staf saja.

Bagaimana kalau pejabat ese­lon I dan lainnya?
Itu tentu ada. Tapi itu untuk me­menuhi agenda yang sudah di­se­pakati dengan negara lain. Ma­ka­nya dialokasikan dana sekitar Rp 8 miliar  per tahun untuk pergi ke luar negeri.

Maksudnya?
Ya, memenuhi agenda dengan negara tetangga.  Misalnya, pem­bahasan kerja sama dengan Ma­lay­sia, kerja sama dengan Papua Nugini.

Masa ya sih hanya urusan itu saja?
Hanya itu yang diagendakan. Kalau tidak diagendakan, kita tidak berani menggunakan ang­gar­an. Sebab, dana Kemendagri un­tuk ke luar negeri kecil sekali.

 Rp 8 miliar itu kecil ya?
Ya, relatiflah. Cuma yang be­rang­kat itu tergantung kebutuhan. Jadi, paling tertingginya Rp 8 miliar. Biasanya dana itu juga ng­gak habis dipakai.

Kenapa Anda bilang segitu ke­cil?
Ini kalau dibandingkan dengan ke­menterian yang lain. Tadi ada media yang bandingkan, katanya Ke­menterian Budaya dan Pari­wisata anggarannya sebesar Rp 300 miliar. Sedangkan dana Ke­men­dagri  cuma Rp 8 miliar, kan jauh bedanya.

Kalau agendanya cuma urusan per­batasan dengan Malaysia dan Papua Nugini, tentu wajar saja kan?
 Ya, begitulah. Saya hanya men­dukung untuk yang sudah di­sepakati. Misalnya rapat ke Kuala Lumpur. Tapi bukan saya yang be­rangkat. Staf yang terkait. Ha­nya itu saja. Di luar itu kita tak pu­nya program-program lain.

Masa anggaran studi banding ti­dak punya?
Program-program studi ban­ding itu nggak ada. Kita hanya program yang jelas karena ada ke­sepakatan kegiatan dengan ne­gara-negara tetangga. Itu pun an­ta­ra pejabat eselon I saja. Dana itu hanya menunjang kesep­a­kat­an-kesepakatan itu. Tak ada studi banding, apalagi jalan-jalan, nggak ada sama sekali itu. Yang ada cuma untuk perundingan-pe­rundingan perbatasan dan per­janjian kawasan.

Apa Anda puas dengan hasil kunjungan staf itu?
Kan ada laporannya. Tindak lan­­jutnya bagaimana, jadi pro­gress tiap perundingan. Apa yang di­sepakati, itu yang ditin­dak­lanjuti satu demi satu. Ada pe­nan­datanganan kesepakatan MoU.

O ya, biasanya berapa tim yang diberangkatkan untuk per­jalanan dinas ke luar negeri?
Kalau dari Kemendagri, kita hanya mengirim dua orang saja.

Untuk tahun 2011 berapa dana dialokasikan untuk pergi ke luar negeri?
Itu belum. Sebab, masih dalam proses.

Apa mungkin lebih rendah dari tahun 2010?
 Itu bisa saja. Lagipula, walau sudah dianggarankan, kalau sisa, tentu dikembalikan ke kas ne­ga­ra. Kan kita memakainya ter­gan­tung dari penerapannya. Terus terang saja ya, staf saya selalu me­makai dana itu secara efisien.

Bagaimana caranya?
Misalnya rencananya yang be­rangkat ada empat orang. Saya lang­sung katakan, kenapa harus empat. Kenapa nggak dua orang saja. Begitu kembali, langsung si­sa dananya disetorkan ke kas ne­gara. Kalau hanya sehari be­rang­kat, ya sehari, tidak ditambah-tambahin.   [RM]

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

UPDATE

Kebijakan WFH Sehari Tunggu Persetujuan Presiden

Kamis, 26 Maret 2026 | 12:03

Tito Pastikan Skema WFH Sehari Tak Hambat Layanan Pemda

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:55

Purbaya Guyur Dana Lagi Rp100 Triliun ke Bank Himbara

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:45

Efisiensi Anggaran Harus Terukur dan Terarah

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:33

Pengamat Soroti Pertemuan Anies, SBY, dan AHY: CLBK Jelang 2029

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:22

Prabowo Tambah 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp239 Triliun

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:16

Efisiensi Energi Jangan Korbankan Pendidikan lewat Pembelajaran Daring

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:11

Emas Antam Mandek, Buyback Merosot ke Rp2,49 Juta per Gram

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:01

Akreditasi Dapur MBG Jangan Hanya Formalitas

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:00

KSP: Anggaran Pendidikan Tak Dikurangi

Kamis, 26 Maret 2026 | 10:58

Selengkapnya