Berita

Wawancara

WAWANCARA

Meutya Viada Hafid: Banyak Yang Mencibir ke Saya Kok Mau Jadi Anggota DPR Sih...

RABU, 29 SEPTEMBER 2010 | 06:28 WIB

RMOL. Sudah sebulan Meutya Viada Hafid menjadi anggota Komisi XI DPR, tapi bekas presenter Metro TV itu mengaku belum bisa berbuat banyak. Sebab, masih belajar dengan tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat.

Selain itu, wanita cantik yang pernah ditahan di Irak oleh pasu­kan gerilyawan tersebut, juga bela­jar untuk menerima segala predikat jelek terhadap anggota DPR.

“Sekarang ini banyak suara negatif tentang DPR. Makanya ada yang mencibir ke saya, kok mau jadi anggota DPR sih, se­karang kan DPR lagi buruk. Tapi saya nggak mungkin marah deng­an ucapan itu. Saya menerima saja. Tapi saya berjanji akan mem­­­berikan yang terbaik,’’ ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, belum lama ini.


Berikut kutipan selengkapnya:

Bagaimana rasanya setelah dilantik menjadi anggota DPR?
Ini amanah dan tantangan baru bagi saya. Tantangan dalam artian, supaya kita lebih punya peranan dalam masyarakat. Dulu peranannya sebagai jurnalis. Tapi setelah dilantik menjadi anggota DPR, tentu dunianya berbeda.

Banyak yang harus dipelajari di DPR ini. Beda sekali dengan karakter yang dulu saya jalani di dunia jurnalis. Saya pelan-pelan belajar menyesuaikan juga. Sebab, adaptasinya memang beda dengan profesi sebelumnya.

Kira-kira enakan mana?
Kalau ditanya sekarang nggak fair. Sebab, kan baru dilantik. Istilah orang kan, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian. Jadi, masa perjuangannya masih terasa berat. Karena banyak yang belum saya ketahui. Banyak yang harus saya pelajari di situ. Tapi mudah-mudahan saya juga dapat mencintai tugas saya di sini. Seperti dulu saya mencintai pro­fesi sebagai wartawan. Dulu kan saya cinta banget sama profesi war­tawan seperti nggak ada beban. Mudah-mudahan di poli­tik juga bisa begitu.

Berarti sekarang belum ada beban ya?
Ya, sekarang sih belum. Sebab, masih dalam masa transisi, se­hingga penyesuaiannya perlu makan waktu.

Ceritakan dong awal terjun ke politik?
Waktu itu saya bekerja sebagai wartawan sudah cukup lama juga, yakni 9 tahun. Setelah saya pu­lang dari Irak, saya merasa kalau bisa menambah peran saya dari sebelumnya.

Maksudnya?
Kalau dulu sebagai wartawan bisa menjadi mata dan telinga masyarakat. Tapi belum bisa mewakili dari hal-hal ke­bijakan. Di sini saya ber­harap ke depan bisa mewakili dalam bentuk yang lebih konkret.

Kapan mulai bergabung ke Partai Golkar?
Saya masuk ke partai awal tahun 2008.

Bagaimana Anda bisa terta­rik dengan Partai Golkar?
Ini pertanyaan yang menarik.  Karena yang mengajak saya jus­tru yang saya  gantikan se­karang yakni Burhanuddin Napitupulu yang beberapa bulan lalu me­ninggal dunia. Jadi, seolah-olah saya sudah diper­siapkan.  

Pak Burnap – begitu sapaan akrab Bur­ha­nuddin Napitupulu — banyak mengajarkan saya untuk masuk ke Dapil Sumatera Utara. Kemudian mendidik saya untuk mengikuti pemilihan le­gislatif. Tapi beberapa bulan lalu  me­ninggalkan kursinya untuk saya.

Saya merasa Partai Golkar memberi peluang yang cukup besar bagi saya yang masih muda agar bisa bersama-sama berkarya dengan politisi senior. Mereka cukup terbuka dengan orang-orang baru seperti saya.

Lalu kenapa tertarik dengan Partai Golkar?
Saya melihat partai ini lebih egaliter. Sebab partai ini tidak ber­gantung pada satu sosok saja. Dan partai ini besar bukan hanya semata tokoh ketua umumnya.

Apakah jadi anggota DPR menjadi impian Anda?
Oh, ini bukan impian. Ini tugas bagi saya untuk dijalani dengan baik. Justru sekarang lagi ribet untuk mempersiapkan segalanya. Apalagi saya masuk tidak dari awal, sehingga banyak yang harus saya kejar. Banyak sidang-sidang dari awal yang belum saya ikuti sehingga banyak yang harus saya pelajari.

Harapan ke depan?
Supaya bisa menjalankan tugas ini sebaik-baiknya, sehingga tidak mengecewakan masyara­kat. Saya tahu sekarang ini ba­nyak suara negatif tentang DPR. Dan itu tantangan buat saya. Tapi saya tidak bisa menolak itu. Sebab, kenyataannya seperti itu. Jadi, banyak yang harus dibenahi. Kalau ada orang yang menga­takan, kok di DPR sih, sekarang kan DPR lagi buruk. Tapi saya nggak mungkin marah dan akan saya terima pernyataan itu.  Apa pun omongan orang menjadi masukan buat saya.  [RM]

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

Penyegelan Tiffany & Co jadi Pesan Tegas ke Pelaku Usaha yang Curang

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:57

Istri Mantan Kapolres Bima Kota Turut Diperiksa soal Kepemilikan Narkoba

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:36

Dokter Diaspora Kenang Kisah Bersama PDIP saat Bencana Sumatera

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:19

Kepala BGN Hingga Puluhan Perwira Polri Peroleh Bintang Jasa dari Prabowo

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:57

Sekjen PDIP: Bencana adalah Teguran Akibat Kebijakan yang Salah

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:32

Garda Satu Papua Barat Tempuh Jalur Hukum Atasi Aksi Premanisme

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:10

Kerry Riza Chalid Dituntut Bayar Uang Pengganti Rp13,4 Triliun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:01

Legislator Demokrat Jakarta Pimpin Kader Ziarahi Makam Misan Syamsuri

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:54

Polisi Tangkap Warga Malaysia Pengedar Narkoba Senilai Rp39,8 Miliar

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:28

BPKH Dorong Peningkatan Diplomasi Ekonomi ke Arab Saudi

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:07

Selengkapnya