RMOL. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop dan UKM) Syarief Hasan mengaku tidak mau energinya tersedot untuk memikirkan soal reshuffle kabinet.
Yang penting, melaksanakan tugas secara maksimal dan sebaik mungkin.
Makanya menteri dari Partai Demokrat itu terus melakukan teroÂbosan-terobosan untuk peÂningkatan koperasi dan UKM demi perbaikan ekonomi kerakÂyatan.
“Urusan reshuffle kabinet nggak usah dipikirin. Sebab, itu hak prerogatif Presiden. Yang penting bagi saya adalah bekerja dan bekerja untuk memperbaiki ekonomi masyarakat,’’ ujar Syarief Hasan kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Berikut kutipan wawancara dengan Sekretaris Setgab Parpol Koalisi itu:
Sepertinya Anda percaya diri nggak kena reshuffle ya?Ah, nggak seperti itu juga. Yang saya maksud adalah nggak usah terlalu risau soal reshuffle kabinet itu. Kita sebagai menteri, kan punya kewajiban untuk bekerja keras. Nah, kita lakukan saja secara maksimal. Soal reÂshuffle kabinet, kan urusan Presiden.
Tapi ada reshuffle kabinet seÂusai evaluasi kinerja menteri?Saya tidak tahu. Itu kan keweÂnangan Presiden.
Anda kan kader Partai DeÂmoÂÂkrat yang dikenal dekat dengan SBY, masa nggak tahu sih?Yang saya tahu itu tanggal 20 Oktober mendatang dilakukan evaluasi terhadap kinerja menÂteri. Kalau soal reshuffle kabiÂnet, saya nggak tahu. Itu sepeÂnuhnya keÂwenangan Presiden. Meski beliau sebagai Ketua Dewan Pembina Partai DemoÂkrat, kami tidak tahu soal itu. Lagipula, Partai DemoÂkrat tidak ada niat untuk mengÂusulkan adanya reshuffle kabinet. Jadi, semuanya terserah Presiden saja.
Tapi sejumlah kader Partai Demokrat dengan terang-teÂrangÂan meminta perlunya reÂshuffle kabinet? Itu kan pendapat pribadi, bukan suara Partai Demokrat. Kalau partai kami sudah jelas, tidak ada niat untuk mengusulkan reshuffle kabinet.
O ya, apa ada pembicaraan soal reshuffle kabinet saat raÂpat Setgab Parpol Koalisi? Tidak ada. Sebab, semua peÂserta rapat tahu bahwa ini meruÂpakan hak prerogatif Presiden. Dalam rapat tiap minggu itu selalu langsung ke materi pemÂbahasan. Misalnya saja yang terakhir, rapat soal APBN. Sedikit pun tidak menyinggung soal reshuffle.
Apakah ada pergesekan?Ooo, tidak ada. Malah menjeÂlang evaluasi setahun kinerja menÂÂteri, peserta rapat Setgab Parpol Koalisi kian kompak dan sangat akrab. Nggak ada masalah apa-apa. Semuanya normal saja.
Siapa saja yang hadir dalam rapat Setgab?Ya, semuanya, termasuk pimÂpinan enam Fraksi DPR (Partai Demokrat, Partai Golkar, PAN, PKS, PPP, dan PKB). Kami semuanya solid. Ini tentu cukup menyenangkan.
Apakah ini pertanda tidak ada reshuffle?Itu juga saya nggak tahu. Bagi saya, yang penting itu bekerja maksimal dan optimal. Soal reshuffle, serahkan saja kepada Pak SBY.
Apakah Anda sudah maksiÂmal bekerja?Kalau menurut saya, itu ya. Saya bekerja maksimal untuk melaksanakan tugas-tugas yang diembankan ke saya.
Jadi sudah siap dievaluasi 20 Oktober mendatang?Siap atau tidak siap, kan harus siap.
Apa target sudah dicapai semuanya?Sudah. Mudah-mudahan deÂngan kerja keras selama ini, peÂnilaiannya nanti bagus. Apalagi penilaian
Unit Kerja Presiden bidang Pengendalian dan Pengawasan Pembangunan (UKP4) sebelumÂnya juga bagus. Jadi, kita tentu berharap hasilnya tetap bagus.
Apa saja target yang sudah dicapai itu?Antara lain penyediaan Tempat Praktik Ketrampilan Usaha (TPKU), pembentukan kewirauÂsahaan, pemberdayaan koperasi, dan usaha kecil menengah (UKM), memperbanyak revitaliÂsasi pasar tradisional, memperÂbanyak Koperasi Usaha Rakyat (KUR).
Apakah ada upaya merubah paradigma agar mahasiswa seÂtelah lulus bukan mencari peÂkerÂjaan tapi menciptakan peÂkerjaan?O ya, tentu terus diupayakan itu. Makanya saya sering ke kampus-kampus. Sampai sekaÂrang ini sudah 15 kampus saya kunjungi. Kemudian kita adakan workshop kewirausahaan, dan memfasilitasi mereka dengan peÂnyediaan dana lewat kredit. Ini dilakukan untuk mencegah pengÂangÂguran dan bisa menciptakan wirausaha muda.
Yakin strategi ini berhasil?Saya yakin generasi muda bisa mengubah paradigma itu, tapi tentunya butuh waktu. Makanya kami terus-terusan melakukan kunjungan ke kampus-kampus untuk meyakinkan mahasiswa agar begitu lulus bisa berupaya untuk membuka bisnis.
Soal revitalisasi pasar traÂdisional?Ini untuk meningkatkan ekoÂnomi kerakyatan. Kan di pasar ini banyak koperasi dan UKM. Kalau pasar tradiosonal menggeÂliat, tentu ekonomi rakyat mengÂgeliat.
Begitu juga soal KUR. Kalau target pemerintah berhasil dilaÂkukan, yakni bisa menyalurkan Rp 18 triliun per tahun, tentu ini positif untuk pengembangan usaha.
Dengan begitu bisa meningÂkat terus dari usaha mikro (inforÂmal) menjadi pengusaha kecil. Dalam setahun ini terjadi peningkaÂtanÂnya 12 persen. Sedangkan pengÂuÂsaha kecil ke pengusaha meÂnengah terjadi peningkatan 4 persen. KemuÂdian pengusaha menengah meÂningkat ke penguÂsaha besar sebanyak 400 orang.
Bagaimana kalau koperasi?Itu juga ada peningkatan. Kalau sebelumnya 155.000-an, kini sudah meningkat menjadi 175.102 koperasi. Jadi, koperasi juga perkembangannya sangat bagus. Ini mencakup koperasi produsen, konsumen, koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam (KSP/USP), pemasaran, serta koperasi jasa.
[RM]