Berita

Wawancara

Suryadharma Ali, PPP Nggak Bakal Hengkang dari Koalisi Gara-gara Penahanan Bachtiar Chamsyah

SELASA, 31 AGUSTUS 2010 | 06:47 WIB

RMOL. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengancam keluar dari parpol koalisi pendukung pemerintah. Sebab, sesepuh partai berlambang Kabah itu, Bachtiar Chamsyah, ditangkap dan ditahan KPK, Kamis (5/8) lalu.

Sekjen DPP PPP, Irgan Chaerul Mahfidz mengaku kecewa atas penahanan Bachtiar Chamsyah. Keluarga besar PPP kecewa dan sedih atas musibah ini. Tentunya ini berdampak buruk bagi citra partai.

“Segala sesuatunya akan kami bicarakan, termasuk kemungki­nan berada di luar pemerintahan,” ujar Irgan.


Namun Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali, menjamin par­tainya tidak akan hengkang dari parpol koalisi gara-gara Bachtiar Chamsyah ditahan di Lembaga Pemasyarakat Cipinang karena kasus dugaan kasus pengadaan sapi impor, mesin jahit, dan sa­rung di Kemensos.

“Memang siapa yang mengan­cam? Nggak ada itu,” kata Men­teri Agama itu saat dijumpai, di Jakarta, kemarin.

Berikut petikan selengkapnya:

Penahanan Bachtiar Cham­syah diprotes sejumlah elite PPP,  kok sepertinya Anda diam saja?
Lho kok dibilang diam saja. Wong, saya sudah datang ke sana, sudah nengokin kok.

Kapan?
Sudah lama, sebelum puasa.

Gimana tanggapannya?
Ya ini kan masih dalam proses hukum.

Apakah soliditas partai ter­ganggu mengingat sejumlah elit PPP mengancam akan keluar dari koalisi?
Ah nggak ada. Memang siapa yang mengancam?

Sekjen PPP Irgan Chairul Mafidz dan Anggota MPP PPP Lukman Hakim Syaifuddin yang menyatakan PPP akan ke­luar dari koalisi menanggapi pe­nahanan Bachtiar Chamsyah?
Ah, nggak ada itu.

Bachtiar Chamsah kan men­jabat Ketua MPP, apakah tu­gas-tugasnya diserahkan ke orang lain?
Nggak, nggak. Ini kan belum selesai.

Saat ini sejumlah partai besar mengisyaratkan akan mendo­rong peningkatan parliamen­tary threshold menjadi 5 per­sen?
Kalau PPP 2,5 persen tapi se­cara nasional.

Apa pertimbangan PPP kok tidak mau beranjak dari 2,5 per­­sen?
Pertimbangannya itu karena dengan 2,5 persen saja, itu kira-kira ada 16-18 juta suara yang ti­­dak terakomodir di dalam par­­­le­men. Jadi demokrasinya jangan nggak bulat, apalagi ka­lau 5 per­sen. Kalau 5 persen kira-kira an­tara 32-36 juta orang warga ne­gara yang tidak tera­komodir aspirasi politiknya. Belum lagi di­tambah dengan golput, jadi de­mo­krasi kita nanti nggak bulat, bisa gepeng-gepeng.

O ya, saat ini konflik dengan Malaysia makin meruncing, ba­gaimana tanggapannya?
Semua pihak berhak untuk ter­singgung. Tinggal kita semua bagaimana meredam keter­sing­gu­ngan itu agar tidak menjadi emosi yang meledak-ledak.

Tapi pihak Malaysia juga su­dah meledak-ledak?
Kita tetap jangan emosi. Kita harus berikan ruang pada masya­rakat atau or­ga­nisasi apapun atas perilaku yang tidak menyenang­kan yang dilakukan oleh Malay­sia. Tetapi tugas kita sekarang ada­lah bagai­mana ke­tersinggu­ngan itu tidak tera­ku­mulasi men­jadi emosi yang mele­dak-ledak. Biarkan saja di sana marah, kita tenang-tenang saja­dulu walau kete­nangan itu juga ada batasnya.

Sekarang ini banyak Ormas sudah cuek pada penegakan hu­kum, komentar Anda?
Ormas itu tidak boleh melaku­kan kekerasan, harus lebih me­ngedepankan pendekatan hu­kum. Ormas-ormas Islam yang mela­ku­kan amar ma’ruf nahi mungkar itu mestinya lebih cere­wet dari sisi pendekatan hukum­nya. Jadi melaporkan terus, me­laporkan terus kepada aparat pe­negak hu­kum. Pak, disini terjadi begini, terus saja begitu sampai direspon.

Pihak kepolisian seharusnya bertindak bagaimana?
Pihak kepolisian dalam men­jaga ketertiban harus bertindak tegas.

Segara  kekerasan harus diter­tib­kan, itu sudah konsekuensi dari tugasnya. Walau akhirnya ada keraguan, kalau saya tegas apakah ini akan melanggar HAM atau tidak, jadi ada keragu-raguan seperti itu.

Artinya polisi nggak boleh ta­kut terhadap ormas tertentu?
Ya dong. Semuanya harus di­tertibkan kalau sudah melakukan keresahan.

Maksudnya?
Ya harus ditertibkan ormas itu.

Bagaimana dengan Ahmadi­yah?
Ahmadiyah itu sebaiknya di­bubarkan. Untuk ketegasan yang harus diambil adalah sebaiknya dibubarkan karena kalau tidak dibubarkan masalah Ahmadiyah akan terus berkembang. Itu akan terus berkelanjutan. Kalau tidak dibubarkan kita akan me-main­tain masalah. Tahun ke tahun eskalasinya semakin tinggi. Pada saatnya saya kira gesekan masya­rakat tidak terkendali. Seperti per­nyataan Kapolri, polisi susah payah menahan gerakan masya­ra­kat dari berbagai kabupaten untuk menyerbu.

Tapi yang seperti itu kan cuma di wilayah Jawa saja?
Di NTB juga sudah terjadi kok. Tetapi dia sekarang semacam diam tetapi bergerak. [RM]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya