Berita

SAFARI AKTIVIS

Akhiri Pemerintahan Citra, Belasan Aktivis Kunjungi Lokasi Lumpur Lapindo

JUMAT, 27 AGUSTUS 2010 | 19:37 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Akhir Mei 2006 silam lumpur panas menyembur dari lokasi pengeboran minyak milik PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Porong-Sidoarjo, Jawa Timur. Semburan lumpur itu masih belum berhenti sampai hari ini. Setidaknya 12 desa di tiga kecamatan tenggelam. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian.

Setelah empat tahun berlalu, dan banyak korban masih tinggal di tenda pengungsi serta ganti rugi yang belum jelas, malam ini (Jumat, 27/8) belasan aktivis berangkat menuju Sidoarjo dengan menggunakan kereta Semberani dari Stasiun Gambir Jakarta.

Slamet D. Royeni, salah seorang aktivis yang berangkat, mengatakan bahwa aksi mereka ini bukan sekadar gagah-gagahan. Ini adalah bentuk solidaritas kami terhadap korban yang hingga kini masih tak jelas nasibnya, kata dia.

Adapun Ketua Walhi Pusat, Berry Nahdian, menyayangkan sikap pemerintah yang menurutnya mengabaikan persoalan ini.

“Pemerintah tidak mengejar korporasi yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Kalau disebut bencana, maka itu adalah bencana yang buat oleh korporasi. Pemerintah tidak bisa diharapkan lagi karena hanya menggunakan kasus ini untuk pencitraan politik saja. Pemerintah tidak memiliki agenda yang cukup baik secara teknis maupun secara politis dalam menangani kasus Lapindo,” katanya kepada Rakyat Merdeka Online sebelum berangkat ke Sidoarjo (Jumat petang, 27/8).

Di tempat yang sama, Ketua Komite Anti Utang (KAU), Dani Setiawan, mengatakan ketidakberdayaan pemerintah menghadapi korporasi, dalam hal ini PT Lapindo Brantas, memperlihatkan bahwa Presiden SBY tidak memiliki otoritas.

“Bagaimana mungkin pemerintah membantu korporasi dengan menggelontorkan dana dari APBN untuk korban,” ujarnya.

Safari yang dilakukan aktivis ke Sidoarjo ini berupa pesan moral untuk memperlihatkan kepada pemerintah dan korporasi yang bergandengan tangan dengan pemerintah bahwa elemen masyarakat sipil tidak tinggal diam menghadapi kezaliman ini.

“Safari ini juga kami maksudkan untuk mencari pemimpin sejati. Cukup sudah pemerintahan citra. Pesan sosial kami adalah bahwa kami yang ada di Jakarta tetap solid dan terus menerus memperjauangkan nasib korban Lapindo. Mereka tidak sendirian mengalami bencana ini,” demikian Dani. [guh]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Antam dan Pegadaian Ikut Uji Keaslian 55 Keping Platinum OTT Bupati Langkat

Minggu, 12 Juli 2026 | 20:16

Proses Hukum Febrie Adriansyah Wujud Ketegasan Pemerintahan Prabowo

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:54

Prabowo: Kopdes Merah Putih Akan Ciptakan Perputaran Uang Rp223 Triliun di Desa

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:43

Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:33

Kopdes Merah Putih Siapkan Kredit Super Mikro, Bunga 8 Persen

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:03

Taruna Akmil Pahami Pemikiran Sun Tzu dan Doktrin Pertahanan Negara

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:55

Prabowo Kritik Neoliberalisme, Dorong Kembali Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:51

Kemensos Evakuasi Bocah Sukabumi yang Suka Cium Tangki Motor Warga

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:34

Prabowo Tetapkan Barang Subsidi Wajib Disalurkan Lewat Kopdes Merah Putih

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:17

Karhutla Mengamuk di Jawa dan Kalimantan, 1 Warga Pingsan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:03

Selengkapnya