Berita

Wawancara

WAWANCARA

Amidhan: MUI Belum Mendapat Laporan Koruptor Mati Tak Dishalatkan

RABU, 25 AGUSTUS 2010 | 00:45 WIB

RMOL. Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum mendapat laporan adanya koruptor meninggal yang jenazahnya tidak dishalatkan.
Wacana ini memang sempat menghebohkan. Tapi MUI tidak akan membuat fatwa seperti itu. Kalau sekadar kampanye mela­wan koruptor, itu sah-sah saja.

Begitu disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, kemarin.

Amidhan dimintai pendapat­nya setelah seminggu wacana yang disampaikan Katib Am atau Sekjen Suriyah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Malik Madani agar jenazah orang yang pernah dipenjara gara-gara kasus korupsi tidak perlu dishalatkan oleh para ulamanya.

Amidhan dimintai pendapat­nya setelah seminggu wacana yang disampaikan Katib Am atau Sekjen Suriyah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Malik Madani agar jenazah orang yang pernah dipenjara gara-gara kasus korupsi tidak perlu dishalatkan oleh para ulamanya.

“Kalau jenazahnya para korup­tor cukup dishalatkan oleh Banser atau Garda Bangsa saja,” kata Malik, Rabu (18/8) lalu.

Amidhan selanjutnya mengata­kan, dalam ajaran Islam jasad seo­rang muslim wajib dishalat­kan, sekalipun itu jasad seorang koruptor.

“Jika jenazah tidak dishalatkan sekadar kampanye pemberanta­san korupsi, hal itu sah-sah saja,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Jadi, usulan itu nggak cocok ya ?
Kalau saya pribadi sih, itu ada dua hal. Pertama, soal koruptor. Itu memang wajib diperangi. Kedua, soal  jenazah dishalatkan atau tidak, itu hal lain.

Kalau digabung, maka korup­tor yang meninggal apakah boleh dishalatkan atau tidak, ya boleh. Walaupun koruptor, ka­lau mu­slim, ya wajib disha­lat­kan dong.

Memang apa sih hukum dari menyalatkan jasad koruptor itu ?
Hukumnya fardhu kifayah. Artinya jenazah muslim itu wajib dishalatkan. Tapi kalau tidak ada sama sekali yang menyalatkan, nah berdosa seluruh masyarakat di tempat itu.

Adapun wacana koruptor itu tidak boleh dishalatkan oleh ula­ma karena konon ada hadistnya. Pada waktu zaman Nabi setelah selesai perang, ada sahabatnya mengkorup atau mengambil harta rampasan untuk kepentingan pri­badinya, sehingga Nabi ber­kata, saya tidak akan menyalat­kan orang itu.

Kalau Nabi tidak menyalatkan bukan berarti yang lain tidak menyalatkan. Karena fardu kifa­yah-nya tetap.

Jadi, nggak perlu usulan itu di­ikuti ?
Usulan NU itu memang sah selama menjadi bagian kampanye melawan korupsi. Tapi MUI tidak akan membuat fatwa haram soal shalat jenazah koruptor. Alasan­nya, dalam Islam hukum tersebut fardhu kifayah.

Maksudnya ?
Dalam ajaran Islam jasad seo­rang muslim wajib dishalatkan, sekalipun itu jasad seorang ko­ruptor.

Berarti MUI tidak setuju dong, kalau koruptor tidak di­shalatkan ?
Ya, tapi saya tidak setuju dengan tindakan para koruptor. Maka untuk mencegah agar orang tidak melakukan korupsi boleh saja disebarkan wacana seperti itu. Tetap saja wajib di­shalatkan. Yang tidak wajibkan adalah ulama yang tidak mau menyalatkan.

Jadi usulan itu hanya seka­dar menakuti saja ya ?
 Saya kira begitu. Itu berguna untuk bisa menakuti saja. Lagi­pula sifatnya kan frekuensi, arti­nya untuk mencegah dan menim­bulkan efek jera bagi yang sudah melakukan.Tapi kalau yang belum melakukan, agar jangan melakukannya.

Menurut Anda korupsi seka­rang ini seperti apa ?
Korupsi itu suatu kejahatan yang luar biasa karena merugikan bangsa dan negara. Jadi, wajib dihukum seberat-beratnya.  [RM]

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

Penyegelan Tiffany & Co jadi Pesan Tegas ke Pelaku Usaha yang Curang

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:57

Istri Mantan Kapolres Bima Kota Turut Diperiksa soal Kepemilikan Narkoba

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:36

Dokter Diaspora Kenang Kisah Bersama PDIP saat Bencana Sumatera

Sabtu, 14 Februari 2026 | 01:19

Kepala BGN Hingga Puluhan Perwira Polri Peroleh Bintang Jasa dari Prabowo

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:57

Sekjen PDIP: Bencana adalah Teguran Akibat Kebijakan yang Salah

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:32

Garda Satu Papua Barat Tempuh Jalur Hukum Atasi Aksi Premanisme

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:10

Kerry Riza Chalid Dituntut Bayar Uang Pengganti Rp13,4 Triliun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 00:01

Legislator Demokrat Jakarta Pimpin Kader Ziarahi Makam Misan Syamsuri

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:54

Polisi Tangkap Warga Malaysia Pengedar Narkoba Senilai Rp39,8 Miliar

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:28

BPKH Dorong Peningkatan Diplomasi Ekonomi ke Arab Saudi

Jumat, 13 Februari 2026 | 23:07

Selengkapnya