Putra ketiga Abubakar Baasyir, Abdul Rochim mengatakan, keluarga besar sangat terkejut dan terpukul atas penangkapan ayahnya oleh Tim Densus 88, di Banjar, Jawa Barat, Senin (9/8) lalu, saat dalam perjalanan menuju Solo, Jawa Tengah.
Terutama Ibunya, Aisyah Baradja, yang sempat shock karena melihat kejadian seperti itu. Apalagi sempat ditangkap sebentar bersama ayahnya.
“Ibu kan melihat langsung keadaan yang sebenarnya. Beliau tidak suka dengan kejadian itu, sehingga terkejut, sedih dan sebagainya. Pokoknya bercampur jadi satulah,” ujar putra bungsu Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) itu, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Bagaimana perasaan Anda dan keluarga tentang penangkapan itu?
Kalau keluarga jelas sangat terpukul dan kecewa sekali dengan penangkapan ini. Kami merasa diperlakukan dengan cara yang tidak sewajarnya. Kami tidak bisa menerima itu, walaupun polisi mengaku mempunyai bukti kuat dan sebagainya. Bagi kami, belum bisa terimalah.
Mengapa?
Karena dulu kejadiannya begitu. Ditangkap yang dulu juga begitu. Katanya punya bukti kuat-bukti kuat. Tapi realitanya juga tidak ada. (Sebelumnya polisi sudah dua kali menangkap Baasyir.
Pertama, tahun 1983 dengan tuduhan menghasut orang untuk menolak azas tunggal Pancasila dan melarang santrinya hormat bendera merah putih.
Kedua, pada Oktober 2002 dengan tuduhan makar).
Bagaimana keadaan Ibunya sekarang?
Kondisi Umi (panggilan untuk Ibunya)
alhamdulillah sudah pulih dan enakan. Setelah pulang dari Mabes keadaannya masih sedikit shock karena melihat kejadian seperti itu. Umi kan ikut ditangkap sebentar bersama Abi (panggilan untuk Ayahnya). Dan melihat langsung penangkapan bagaimana keadaan yang sebenarnya. Beliau tidak suka dengan kejadian itu sehingga sedikit terkejut, sedih dan sebagainya. Jadi, saat pulang dari kantor polisi itu masih agak shock.
Sudah berapa kali menjenguk?
Saya baru sempat sekali, yakni sehari setelah ditangkap. Artinya, besoknya saya ke Jakarta berusaha bertemu dengan beliau. Tapi dari pihak polisi belum mengizinkan karena masih 7 X 24 jam hak yang dimiliki oleh polisi. Katanya belum bisa ditemui. Walaupun beberapa teman wartawan mengatakan, dasar hukumnya apa, kok tidak boleh ditemui 7 X 24 jam. Tapi tidak dijelaskan.
Kemudian saya minta tolong kepada TPM (Tim Pengacara Muslim) untuk melobi polisi. Saya kan datang dari jauh bersama kakak saya. Kalau nggak boleh ketemu, ya kebangetanlah. Akhirnya alhamdulillah bisa ketemu, tapi maksimal setengah jam. Setengah jam kemudian saya disuruh keluar lagi.
Lantas bagaimana perasaan Ayahnya?
Beliau senang sekali kami bisa besuk. Yang jelas saya memang membawakan pakaian-pakaian beliau. Karena berangkat dari ceramah dan sampai ditangkap, beliau tidak membawa apa-apa.
Memang bawa apa saja?
Jubah yang sering dipakai beliau. Beberapa baju, handuk dan sebagainya.
Bagaimana keadaan Ayahnya?
Beliau cukup tenang menghadapi kondisi ini dan cukup memaklumi. Bahwa memang ini agenda dari Barat (Amerika Serikat) dan ini resiko dari beliau. Ya memang Barat menginginkan kalau mungkin bisa dibunuh, ya dibunuh. Beliau berkeyakinan begitu.
Mengapa?
Karena intinya politik Barat itu tidak suka dengan beliau yang bebas mendakwahkan Islam yang seluas-luasnya ke masayarakat, sehingga mereka berusaha untuk menahannya. Makanya menggunakan otoritas yang ada di sini.
Walaupun dalam hal ini, polisi menampikkan bahwa ini tidak menjalankan agenda negara lain. Tapi tanda-tanda seperti itu sangat terasa. Para pengamat politik maupun pengamat lain bisa mengetahui masalah ini.
Kapan ada rencana jenguk lagi?
Masih belum tahu. Karena ketika saya ke sana dari pihak kepolisian memberitahu bahwa dalam 7 hari tidak boleh menjenguk. Walaupun saya protes kenapa kok nggak boleh. Tapi sudahlah saya tidak mau mempermasalahkan itu. Karena tidak ada gunanya. Kalau rencana mau jenguk lagi mungkin setelah tujuh hari itu. Selasa atau Rabu depan saya kesana.
Kalau jenguk apa sekeluarga atau sendiri?
Rencana sih sama keluarga. Tapi kami belum tahu, karena saya juga masih sibuk di Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki (Solo), ada beberapa acara yang bersamaan dengan Ramadhan. Kakak saya juga begitu. Sedangkan Umi mungkin masih belum sempat ke sana. Wallahu A’lam kalau memang minggu depan berangkat, ya berangkat. Kalau nggak, mungkin minggu depannya lagi. Kalau saya sendiri sih, mungkin berangkat Selasa (17/8).
Lantas apa yang akan dibawa ketika akan menjenguk lagi?
Kalau nggak salah Abi minta selimut. Tapi tadi Umi bilang, saya disuruh bawa selimut yang agak tebal yang biasa dipakai di rumah, dan beberapa obat-obatan yang lain. Karena beliau punya penyakit maag jadi mungkin madu saya bawakan juga.
Apa makanan kesukaannya dibawa?
Kita minta tolong kepada salah satu keluarga yang di Jakarta untuk dimasakin.
Memang apa sih kesukaan makanan beliau?
Kalau beliau favoritnya pindang kambing. Kalau yang lain paling sayur untuk mengimbangi. Karena beliau memang suka sayur-sayuran.
Sayuran seperti apa sih?
Yang sifatnya lalap-lalapan. Kemudian kacang panjang dipotong-potong. Untuk mengimbangi serat makanan seperti itu yang disukai.
Kalau polisi yang masak, nanti ada yang nggak tahu seleranya. Mungkin dibikin pedas atau gimana. Jadi nanti nggak cocok. Malah nggak karuan.
Jadi beliau nggak doyan pedas ya?
Pedas sebenarnya doyan. Tapi sekitar hampir setengah tahun ini penyakit maagnya semakin parah. Jadi beliau tampaknya menghindari itu, tidak mau makan pedas.
Bagaimana perasaannya saat Ramadhan seperti ini tidak bersama Ayahnya?
Jelas kita merasa kehilangan, ada yang kuranglah. Kalau biasanya kita sahur dan buka, beliau ada bersama kita. Walaupun sebenarnya tidak begitu kehilangan, karena sudah biasa beliau itu meninggalkan kami untuk kegiatannya sendiri. Bahkan jatah untuk keluarga saja hanya sedikit. Karena saking banyaknya kegiatan beliau yang tidak berhenti. Paling maksimal satu minggu itu, tiga hari beliau di rumah. Jaranglah satu minggu penuh di rumah.
Mungkin faktor itu yang membuat tidak begitu terasanya. Tapi karena kehilangannya istimewa, jadi lain. Kalau dulu tidak di rumah karena acara. Sekarang tidak di rumah karena ditangkap polisi. Itu yang membuat kami sedih.
Biasanya kegiatan ayahnya di bulan Ramadhan apa saja?
Biasanya kalau Ramadhan sudah penuh kegiatan. Khusus 20 hari pertama. Sekarang aja sudah banyak yang meminta beliau. Tapi karena beliau ditangkap jadi batal semuanya.
Memang ada berapa acara?
Jumlah persisnya saya kurang tahu. Mungkin 15 pengajian dan tabligh. Karena beliau hanya menerima acara dua kali pertama Ramadhan. Biasanya kalau sudah tanggal 20, sudah tidak mau, karena mau mendekati Idul Fitri.
[RM]