Berita

X-Files

Penyelidikan Kasus BOS-BOP Mandek di Kejati DKI Jakarta

BPKP Belum Lakukan Audit
SABTU, 14 AGUSTUS 2010 | 08:49 WIB

RMOL. Penyelidikan kasus dugaan penyimpangan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) di sejumlah sekolah tingkat SD dan SMP di Jakarta sampai saat ini masih jalan di tempat.

Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang menyelidiki kasus ini belum menemukan potensi kerugian nega­ranya, karena masih menunggu hasil audit dari Badan Pemeriksaan Ke­uangan dan Pembangunan (BPKP).

Hal ini dikatakan Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Soedibyo kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.


“Kita sudah menghubungi BPKP untuk mendata ulang sejumlah uang BOS yang diduga telah disalah­gunakan tersebut. Makanya kita belum bisa sebutkan berapa dugaan peny­a­lahgunaannya,” katanya.

Menurut Soedibyo, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan BPKP sampai ditemukan dugaan penyalahgunaan dana tersebut, dan pelakunya. “Kalau datanya jelas dan akurat, bisa kelihatan kemana arah larinya uang tersebut dan siapa yang menjadi aktor utama di balik kasus ini,” tegasnya.

Pihak BPKP yang dikonfirmasi soal hasil audit dana BOS itu saling lempar. Deputi Investigasi Suradji mengatakan hal itu merupakan kewenangan bidang pengawasan.

Tapi Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Politik Hukum dan Keamanan BPKP, Imam Bastari me­ngaku belum menerima permohonan audit dari Kejati DKI Jakarta. “Saya sendiri belum tahu BOS itu ada pe­nyalahgunaan, tanyakan saja ke bagian investigasi,” ucapnya.

Wakil Menteri Pendidikan Nasioal, Fasli Jalal menegaskan, BOS bukanlah utang negara, tapi bantuan yang digunakan pemerintah untuk meng­atasi defisit anggaran di Kementerian Keuangan.

“Bank Dunia waktu itu ingin mem­bantu defisit Kementerian Keuangan. Kemudian dicari program pemerintah yang paling baik, lalu menunjuk BOS,” katanya.

Fasli menjelaskan, dugaan penyim­pangan BOS seperti yang diungkapkan World Bank, cukup dimengerti. “World Bank mengatakan, 1-3 persen BOS tidak sesuai dengan petunjuknya. Meski begitu World Bank juga menga­takan kalau pengeluaran dari BOS tersebut juga mempunyai alasan,” terangnya.

Meski begitu, Fasli berharap kepada Kejati DKI Jakarta untuk menuntaskan kasus tersebut, agar ada kepastian hukum. “Kalau memang terbukti ada yang menyalahgunakan Bantuan ini silahkan diproses secara hukum asal­kan jelas dan benar data-datanya,” ujarnya.

Ketika ditanyakan apakah selama ini laporan dari BPKP yang diterima Kemendiknas terdapat dugaan pe­nya­lah­gunaan bantuan. Fasli men­jawab, ada terjadi tapi tidak terlalu besar. “Jumlahnya masih wajar dan bukan termasuk perkara korupsi,” jawabnya.

Ayo, Temukan Tersangkanya
Mahyudin, Ketua Komisi X DPR

Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta didesak untuk segera meningkatkan proses hukum penanganan kasus dugaan penyimpangan BOS-BOP di Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) dan sejumlah sekolah lainnya di Jakarta, dan menemukan pela­kunya untuk dimintai pertang­gung­jawaban­nya secara hukum.

“Saya berharap Kejaksaan dapat mene­mukan nama-nama tersangka dugaan kasus penyalahgunaan tersebut. Jangan sampai ada penundaan kasus lagi. Pen­didikan menentukan masa depan Indo­nesia,” kata Ketua Komisi X DPR, Mahyudin, kemarin.

Makanya, politisi Golkar ini mengimbau Kejati DKI Jakarta untuk berkoordinasi dengan lembaga terkait agar kasus tersebut bisa segara dituntaskan.

“Saya harapkan ada koordinasi yang baik. Kejaksaan Tinggi sebagai harus bisa melakukan suatu inovasi dalam bidang hukum. Kami akan terus pantau penggunaan  bantuan ini, bagi kami masalah pendidikan adalah yang nomor satu, supaya masyarakat kita cerdas.” tuturnya.

“Serahkan Ke KPK”
Jhonson Panjaitan, Dir Adkum AAI

Komisi Pemberantasan Ko­rupsi didesak untuk meng­am­bilalih kasus dugaan penyim­pangan dana BOS-BOP dari Kejati DKI Jakarta yang pe­nanganannya dinilai lambat.

Desakan ini disampaikan Direktur Advokasi dan Ban­tuan Hukum Asosiasi Advokat Indonesia (Dir Adkum AAI) Jhonson Panjaitan, kemarin. 

“Kalau Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta tidak mampu menyelesaikan kasus itu lebih baik diserahkan kepada KPK,” katanya.

Jhonson mengaku prihatin dengan kinerja Kejati DKI Jakarta yang tidak maksimal menuntaskan kasus tersebut. Padahal kasus itu menyangkut masa depan generasi bangsa.

“Kalau saya melihat, kinerja dari lembaga yang menangani masalah ini seperti kuburan. Kita sangat prihatin seharusnya Kejati DKI lebih besar pres­tasinya daripada Kejagung. “Bagaimana negara ini mau dikatakan maju kalau dana untuk pendidikan saja masih di korupsi,” sesalnya. [RM]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

Ranny Arafiq Datangi Polda Bukan sebagai Anggota DPR

Minggu, 29 Maret 2026 | 20:11

Yusril Dapat Teror Usai Badko HMI Sumut Diskusi Kasus Penyiraman Air Keras

Minggu, 29 Maret 2026 | 19:28

Bagi SBY, Juwono Sudarsono Sosok di Balik Modernisasi Pertahanan RI

Minggu, 29 Maret 2026 | 19:13

Duh, 94.542 Penyelenggara Negara Belum Lapor LHKPN

Minggu, 29 Maret 2026 | 18:37

Bapera Klarifikasi Dugaan Pengeroyokan di Area Polda Metro Jaya

Minggu, 29 Maret 2026 | 18:06

Juwono Sudarsono Dimakamkan Secara Militer di TMP Kalibata

Minggu, 29 Maret 2026 | 17:46

Anomali Lelang KPK: HP Oppo Rp59 Juta Tak Dilunasi Pemenang

Minggu, 29 Maret 2026 | 17:26

Prabowo Bakal Bahas Isu Strategis dalam Lawatan ke Jepang

Minggu, 29 Maret 2026 | 17:22

Stabilitas Pasokan dan Harga BBM Selama Mudik Dipuji Warganet

Minggu, 29 Maret 2026 | 17:03

Gus Salam Serukan Hentikan Perang Iran-AS Demi Kemanusiaan

Minggu, 29 Maret 2026 | 16:39

Selengkapnya