Berita

Wawancara

WAWANCARA

Busyro Muqoddas: Saya Tidak Merasa Diuntungkan, Yang Untung Itu Pencari Keadilan

KAMIS, 05 AGUSTUS 2010 | 01:09 WIB

Jakarta, RMOL.

Begitu Busyro Muqoddas men­daftar diri sebagai calon Ke­tua Komisi Pemberantasan Ko­rupsi (KPK), 14 Juni 2010, kritik­an langsung mengalir.

Intinya, kenapa tidak mundur dari jabatan Ketua Komisi Yu­di­sial (KY). Ini memberi kesan cari aman dan tidak mau rugi.

Lebih anehnya lagi, Busyro me­nerima saja masa per­pan­jangan jabatannya bersama ko­mi­sio­ner KY yang lain melalui Kep­pres Nomor 82/C/2010 berlaku 2 Agustus 2010.

Padahal, itu momentum bagi Busyro untuk membuktikan ke­pa­da publik bahwa dia sungguh-sungguh tidak cari aman dan idak mau rugi. 

”Saya tidak merasa diun­tung­kan, yang untung itu pencari kea­dilan. Sebab, kepemimpinan KY tidak kosong dengan adanya Kep­pres itu,’’ kata Busyro Mu­qod­­das di sela-sela seleksi calon Ke­tua KPK, di kantor Ke­men­kumham, Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Ah, masa nggak merasa diun­tung­kan dengan Keppres tersebut?

Para pencari keadilan yang diun­­t­ungkan. Itu yang terutama, ya toh.

Atau barangkali negara yang rugi karena Anda sibuk mengiktui seleksi Ketua?

Seleksi di KPK itu kan tidak tiap hari. Waktu yang lain masih bisa melanjutkan tugas di KY. Ja­di ruginya di mana? Nggak ada ruginya toh.

Apa konsentrasi tidak terg­ang­gu saat  seleksi KPK karena ma­sih mejabat Ketua KY?

Saya kira sama-sama tidak akan mengganggu. Di KY masih bisa menye­le­saikan kewajiban-kewajiban sa­ya. Jadi sama sekali nggak ada per­soalan sama sekali. Keduanya lancar-lancar saja.

O ya, apa tidak bermasalah de­ngan Keppres itu?

Tidak ada masalah dengan per­pan­jangan itu melalui Keppres.

Bukankah rawan gugatan kare­na idealnya perpanjangan itu dengan Perppu?

Nggak, nggak ada ke­kha­wa­tiran.

KY saat ini  menyeleksi calon-ca­lon Hakim Agung, bukankah ke­absahan perekrutan itu di­persoalkan nantinya?

Saya tidak bicara tentang ke­absahan. Yang penting komitmen saja. Komitmen untuk mene­ruskan KY.

Menurut Anda, apakah fungsi KY masih lemah?

Iya, masih lemah.

Jadi ke depan, wajah KY harus ba­gaimana?

Tetap menjaga moralitas, in­de­pendensi dan transparansinya. No­mor satu itu karena ini akan mem­perkuat kepemimpinan.

Kalau melihat kondisi KY saat ini, idealnya figur yang cocok ko­­misioner KY periode 2010-2015 seperti apa?

Harus memiliki kompetensi dan kepemimpinan yang po­wer­ful. Itu saja.

Anda bersama 11 calon lain­nya mengikuti seleksi tahap psi­ko­test dan wawancara, ba­gai­mana kira-kira hasilnya?

Saya kira prosesnya cukup pro­fesional, transparan, sebab yang lulus melalui profile dan asses­s­ment itu nanti akan diteruskan di antaranya dengan mengunjungi ling­kungan rumahnya secara inco­gnito. Jadi akan didatangi sebagai bagian cara menyeleksi un­tuk megetahui proses rekam jejak para calon.

Apakah ada perbedaan khas antara seleksi KY dan KPK?

Seleksi KY itu ada tahapan yang sama dengan seleksi Ketua KPK. Kalau KY itu ada letter case yang dikerjakan, kemudian ada investigasi yang dilakukan se­belumnya oleh jejaring-jejaring KY. Kemudian hasil inves­ti­gasinya ya kita confirm dengan d­iterjunkannya tim (seleksi) KY ke tempat-tempat dari calon itu.

Sulit mana menurut Anda se­leksi KY atau KPK?

Nah karena sekarang ini saya se­dang mengikuti seleksi, se­b­e­tul­nya sama-sama cermat, teliti, tapi kalau mau menilai mana yang sulit, itu relatif. Capek juga sih. Tapi itu saya sudah terbiasa. He-he-he... Sudah terbiasa sulit, sudah terbiasa capek, bangsa ini kan bangsa yang sedang meng­alami kesulitan, jadi saya sudah terbiasa sulit.

Apakah ada persiapan khusus menghadapi tes KPK?

Oh iya. Kalau mau tes itu harus ada persiapan. Kalau nggak, ya main-main itu. Jadi saya per­siap­kan segalanya, mental iya, ke­mam­puan iya, serius untuk per­siapan itu.

Nggak baca buku atau latihan simulasi mengerjakan soal-soal?

Nggak, inikan reflektif saja. Psi­kotest ini kan tidak perlu be­la­jar. Ini kan mengorek kejujuran, ori­ginalitas. Jadi apa yang harus dipelajari kalau (soal psikotest) ini membuka diri kita sendiri. Ba­gus ini. Hanya kalau ketahuan konsisten sama tidak. Yang bisa menterjemahkan dinamis saja.

Kalau terpilih menjadi Ketua KPK, apa sudah punya rencana un­tuk mengangkat kinerja KPK?

Sejak dulu, selama masa hi­dup­ku belum pernah berandai-andai. Pokoknya mengalir saja de­ngan apa yang saya lakukan se­lama ini. Ya, sudah hasil akhirnya kita lihat saja nanti.

[RM]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya