Berita

Presiden Prabowo Subianto dan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP). (Foto: istimewa)

Politik

Penyadapan Prabowo Bisa Rontokan Kepercayaan Investor

JUMAT, 06 NOVEMBER 2026 | 07:29 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret nama mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP) dinilai tidak serta-merta berdampak terhadap iklim investasi di Indonesia.

Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz mengatakan, pergerakan pasar keuangan dipengaruhi banyak faktor sehingga dinamika politik domestik tidak selalu berimbas langsung terhadap keputusan investor.

"Jadi politik ada cost-nya. Pergerakan di pasar digerakkan banyak faktor," kata Irman dalam kegiatan Pelatihan Wartawan Semester II 2026 bertema "Penguatan Ekonomi Regional untuk Mendukung Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Nasional" di Sabang, Aceh, Kamis, 5 November 2026.


Menurutnya, kondisi pasar global relatif membaik. Salah satu faktor pendorongnya adalah perkembangan geopolitik Amerika Serikat setelah hasil pemilu sela atau midterm election yang berpotensi membatasi ruang gerak Presiden Donald Trump.

Jika ruang gerak Trump semakin terbatas, peluang deeskalasi geopolitik akan semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga minyak dunia sehingga tekanan inflasi global dapat mereda.

"Jika ruang gerak Trump semakin terbatas, peluang deeskalasi geopolitik akan semakin besar sehingga harga minyak dunia berpotensi turun dan tekanan inflasi dapat mereda," ujarnya.

Ia melanjutkan, penurunan harga minyak berpotensi menciptakan tekanan disinflasi di berbagai negara. Negara-negara yang selama ini menghadapi tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi pun berpeluang memperoleh ruang kebijakan yang lebih baik.

Di sisi lain, perkembangan politik AS juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter global. Penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury dapat memberikan ruang bagi negara lain untuk menjaga daya tarik pasar keuangannya.

Irman mengatakan, penurunan US Treasury yield mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir. Imbal hasil tersebut tercatat turun dari sekitar 5 persen menjadi 4,8 persen, seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap terbatasnya ruang gerak pemerintahan Trump setelah pemilu sela.

"Kalau US Treasury yield bisa turun, maka yield kita juga sebenarnya bisa turun. Yang penting dijaga adalah spread atau daya tarik relatif pasar obligasi kita," jelasnya.

Peluang lainnya berasal dari potensi pembatasan kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat. Meskipun kewenangan penerapan tarif berada di tangan eksekutif atau Presiden Trump, Senat dan House of Representatives tetap memiliki kewenangan memanggil pemerintah dan meminta penjelasan atas kebijakan tersebut.

Terkait dinamika politik dan hukum di dalam negeri, Irman menilai hal yang perlu menjadi perhatian adalah kepastian bagi investor. Transparansi penegakan hukum dan konsistensi kebijakan perlu terus ditingkatkan agar investor memiliki kepercayaan terhadap iklim usaha di Indonesia.

Dengan demikian, meskipun gejolak politik tidak selalu berdampak langsung terhadap pasar, ketidakpastian hukum dan perubahan kebijakan tetap menjadi faktor yang dapat memengaruhi pertimbangan investor dalam menanamkan modalnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya