Berita

Anggota Komisi VII DPR Bambang Haryo Soekartono. (Foto: Istimewa)

Parlemen

Operasional LRT Sumsel Masih Bergantung APBN

Tiap Tahun Telan Dana Rp300 Miliar
JUMAT, 06 NOVEMBER 2026 | 07:27 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Operasional Light Rail Transit (LRT) Sumatera Selatan (Sumsel) hingga kini masih bergantung pada subsidi pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Setiap tahunnya, pemerintah pusat harus menggelontorkan anggaran hingga Rp300 miliar untuk menutupi kebutuhan operasional transportasi massal yang dibangun dengan investasi hampir Rp 12 triliun tersebut.

Kondisi ini menjadi sorotan Anggota Komisi VII DPR Bambang Haryo Soekartono, saat melakukan peninjauan langsung terhadap operasional LRT Sumsel.


Bambang mengatakan, pembangunan LRT Sumsel membutuhkan anggaran yang sangat besar, sehingga keberlangsungan operasionalnya tidak seharusnya terus-menerus menjadi beban pemerintah pusat.

"Pemerintah daerah, baik Pemprov Sumatera Selatan maupun Pemkot Palembang, perlu ikut mengambil peran dalam mendukung operasional LRT Sumsel," kata Bambang, dikutip Jumat 6 November 2026.

Menurutnya, ini fasilitas kereta tanpa hambatan yang dibangun dengan biaya cukup besar. Pada waktu itu anggarannya hampir mencapai Rp12 triliun. Sehingga hal ini pasti menjadi beban negara yang cukup berat.

"Kebutuhan subsidi untuk operasional LRT Sumsel saat ini mencapai sekitar Rp 300 miliar per tahun," kata Bambang.

"Besarnya subsidi tersebut tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh dari operasional LRT. Bahkan, untuk biaya listrik saja membutuhkan anggaran sekitar Rp8 miliar per bulan, sedangkan pendapatan yang diperoleh hanya sekitar Rp 1,2 miliar per bulan," sambungnya.

Bambang juga menyoroti tingkat pemanfaatan LRT yang dinilai masih belum maksimal. Ia mencontohkan saat dirinya datang dari bandara dan menggunakan LRT, jumlah penumpang yang terlihat hanya sedikit dibandingkan kapasitas angkut yang tersedia.

"Lihat saja tadi yang dari stasiun bandara, jumlah pengguna bahkan hanya 2 persen dari kapasitas angkut," kata Bambang.

Karena itu, ia meminta Gubernur Sumsel bersama Wali Kota Palembang menginisiasi gerakan untuk mendorong masyarakat lebih banyak menggunakan transportasi publik tersebut.

Selain meningkatkan jumlah penumpang, Bambang meminta pemerintah daerah mengembangkan kawasan ekonomi di sekitar 13 stasiun LRT Sumsel.

Menurutnya, keberadaan LRT seharusnya dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan kawasan komersial di sekitar stasiun.

Ia juga menilai Pemkot Palembang perlu memanfaatkan ruang-ruang komersial yang tersedia agar kawasan sekitar stasiun menjadi lebih produktif dan mampu memberikan tambahan pendapatan bagi LRT.

"Harusnya dikembangkan juga wilayah di sekitar stasiun LRT ini oleh pemerintah kota. Jangan dibiarkan seperti ini. Saya berharap pemerintah kota dan pemerintah provinsi mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar stasiun kereta LRT," kata Bambang.

Ia menegaskan, apabila pemerintah daerah tidak ingin mengambil alih biaya operasional, setidaknya harus ada dukungan nyata untuk mengurangi beban subsidi pemerintah pusat.

"Jangan sampai bebannya dibebankan pada PT KAI. KAI sendiri tentu tidak cukup untuk menutup biaya operasionalnya kalau tidak didukung anggaran tambahan dari APBN," kata Bambang.

Lebih lanjut, Bambang menegaskan bahwa PT KAI tidak akan mampu menanggung sendiri biaya operasional LRT apabila subsidi pemerintah dihentikan.

Ia mengingatkan, penggunaan APBN untuk membiayai LRT Sumsel merupakan uang rakyat dari seluruh Indonesia.

"Sementara itu, manfaat langsung transportasi tersebut lebih banyak dirasakan masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan. Ini tentu tidak adil," kata Bambang.

Karena itu, Bambang meminta pemerintah provinsi dan pemerintah kota segera mengambil langkah konkret agar operasional LRT tidak terus bergantung pada subsidi pemerintah pusat.

Ia juga mengingatkan perlunya evaluasi terhadap pengelolaan dan pembiayaan LRT apabila pemerintah daerah tidak memberikan dukungan terhadap keberlangsungan transportasi massal tersebut.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya