Berita

Ketua Bidang Lingkungan Hidup PP Gerakan Kristiani Indonesia Raya (Gekira) Yerry Tawalujan. (Foto: Istimewa)

Politik

Kasus Penyadapan Terungkap, Momentum Bersihkan Kabinet dari Loyalis Ganda

KAMIS, 05 NOVEMBER 2026 | 18:24 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Tindakan penyadapan adalah perbuatan pengkhianat. Palagi, jika yang menjadi targetnya adalah seorang presiden.

Begitu dikatakan Yerry Tawalujan, Ketua Bidang Lingkungan Hidup PP Gerakan Kristiani Indonesia Raya (Gekira), atas kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Bareskrim Polri telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam penyadapan ilegal, penghapusan data elektronik, dan akses ilegal.


Ketiganya adalah Kepala Staf Kepresidenan (KSP) yang juga mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kepala Divisi Hukum Polri Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution, dan Irjen Pol Eko Hadi Santoso.

"Penyadapan terhadap Kepala Negara yang dilakukan oleh pimpinan Polri adalah tindakan pengkhianatan, pembangkangan, dan penghinaan terhadap Presiden," ujar Yerry kepada wartawan, Kamis 5 November 2026.

Penyadapan terhadap Presiden, lanjut Yerry, adalah tindakan insubordinate, ketidakpatuhan, melawan atasan, bahkan pelecehan terhadap wibawa Presiden sebagai  Kepala Negara.

"Penyadapan ini bentuk pelecehan terhadap Kepala Negara. Bahkan bisa berujung ke upaya makar untuk menggulingkan Presiden," tegas Yerry.

Lebih jauh, kata Yerry, kasus penyadapan ini membuktikan banyaknya pejabat tinggi pembantu Presiden yang tidak loyal. Loyalitas mereka bukan pada presiden tapi pada oknum yang meng-endorse mereka menjadi pejabat.

"Kabinet dan lembaga-lembaga tinggi negara, termasuk Istana perlu dibersihkan dan steril dari para loyalis ganda. Menteri-menteri kabinet yang di-endorse oleh oknum yang sama yang telah endorse LSP harus diganti semua," tegas Yerry.

"Jika kabinet, TNI, Polri, Istana dan lembaga-lembaga yang terkait langsung dengan Presiden tidak dibersihkan dari para loyalis ganda, kasus pembangkangan dan pengkhianatan seperti ini akan terulang lagi, dalam bentuk yang berbeda," pungkas Yerry.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

UPDATE

Demi Keamanan, Kapolri Patut Didukung Usut Dugaan Penyadapan Terhadap Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 16:34

Potensi Wisata Besar Belum Dongkrak Ekonomi Sabang

Kamis, 05 November 2026 | 16:27

Pertamina Drilling Gandeng Halliburton Perkuat Operasional Migas di Timteng

Kamis, 05 November 2026 | 16:12

DPR Taruh Harapan di Pundak Suyudi dan Jajaran Usut Tuntas Kasus Listyo Sigit Dkk

Kamis, 05 November 2026 | 16:00

Bobolnya Lapis Pengaman Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 15:48

Ekonomi Aceh Tetap Tumbuh Positif Meski Dihantam Bencana

Kamis, 05 November 2026 | 15:46

BPS: Pengangguran RI Berkurang 77 Ribu Orang per Agustus 2026

Kamis, 05 November 2026 | 15:38

Pertamina Hulu Energi Catat Torehan Manis Jelang Akhir Tahun

Kamis, 05 November 2026 | 15:33

ABP: Rakyat Tetap Berdiri Bersama Presiden Prabowo

Kamis, 05 November 2026 | 15:28

Jokowi Keberatan Roy Suryo Minta Ijazah Diperiksa Lagi

Kamis, 05 November 2026 | 15:22

Selengkapnya