ADA kalanya sebuah kata pengantar buku bukan sekadar formalitas di halaman depan. Ia bisa menjadi pintu masuk yang mengantar pembaca memahami mengapa sebuah kisah layak diceritakan, mengapa sebuah ingatan perlu dijaga, dan mengapa sebuah pertanyaan yang belum terjawab tetap layak dicari. Itulah yang tampak dalam kata pengantar yang ditulis Tamalia Alisjahbana, bertanggal 21 September 2026, untuk sebuah buku tentang pesawat RI-002.
Tamalia membuka dengan sebuah peta makna, bahwa kisah pesawat tersebut memiliki tiga dimensi yang saling berkaitan erat. Pertama, perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sebuah babak sejarah ketika Republik yang baru lahir harus mempertahankan keberadaannya di tengah berbagai tekanan.
Kedua, persahabatan antara Bobby Earl Freeberg, penerbang Amerika, dan Petit Muharto Kartodirdjo, kopilot RI-002, sebuah hubungan yang tumbuh di tengah medan perjuangan. Ketiga, upaya panjang mencari kejelasan mengenai hilangnya pesawat dan awaknya. Sebuah pencarian yang tidak selesai dalam hitungan bulan, melainkan merentang sepanjang hidup seseorang.
Ketiga dimensi itu bukanlah tiga cerita terpisah yang ditempelkan satu sama lain. Ketiganya saling mengait. Perjuangan memberi konteks, persahabatan memberi wajah manusiawi, dan pencarian memberi tegangan yang membuat kisah ini terus hidup. Dari kerangka itu saja, pembaca sudah diajak memahami bahwa RI-002 bukan sekadar nomor registrasi sebuah pesawat, melainkan simpul dari sejarah, emosi, dan pertanyaan yang belum tuntas.
Dari Tangan Seorang yang Mengalaminya SendiriSalah satu hal yang membuat buku ini memiliki bobot tersendiri adalah asal-usul naskahnya. Buku ini secara tegas menyebutkan bahwa ia disusun berdasarkan manuskrip yang ditulis oleh Petit Muharto Kartodirdjo, kopilot RI-002. Artinya, fondasi buku ini bukanlah spekulasi orang luar, melainkan catatan seseorang yang mengalami sendiri sebagian penerbangan itu dan mengenal dekat Bobby Freeberg.
Manuskrip tersebut juga memuat penelitian serta kesimpulan Petit mengenai hilangnya RI-002. Ini penting dicatat. Petit bukan hanya saksi yang menunggu jawaban, tetapi juga pihak yang aktif mencari. Ia mengumpulkan, mencatat, dan menyimpulkan. Namun, pengantar buku ini belum menjelaskan siapa yang menyunting dan mengolah manuskrip itu menjadi buku yang diterbitkan.
Celah informasi semacam ini justru mengingatkan pembaca bahwa di balik sebuah buku selalu ada kerja penyuntingan dan pengolahan yang perlu diakui, dan yang dalam kasus ini masih menunggu penjelasan lebih lanjut.
Persahabatan yang Tumbuh dalam PerjuanganTamalia membuka kisah dengan sebuah adegan yang hampir seperti cerita rakyat. Bobby hendak mencapai Yogyakarta untuk bergabung dalam penerbangan bagi Republik Indonesia, tetapi ia tersesat dan terpaksa melakukan pendaratan darurat. Di hadapan penduduk yang mencurigainya, Bobby terus menyebut nama Petit. Petit kemudian datang membantu dan meredakan kecurigaan tersebut.
Adegan itu sederhana, tetapi maknanya berlapis. Di satu sisi, ia memperlihatkan posisi penting Petit sebagai penghubung antara penerbang Amerika itu dengan lingkungan perjuangan Indonesia. Di sisi lain, ia menunjukkan bahwa kepercayaan tidak datang dengan sendirinya, ia dibangun melalui nama, kehadiran, dan tindakan.
Dalam situasi ketika kecurigaan mudah muncul, nama Petit menjadi semacam jaminan sosial, semacam tanda bahwa orang asing ini bukan ancaman.
Sesudahnya, keduanya menjalankan banyak misi RI-002 bersama. Penerbangan tersebut sering berbahaya, tetapi sangat berarti bagi Republik yang sedang berjuang mempertahankan keberadaannya. Hubungan mereka berkembang melalui kepercayaan, kecintaan pada penerbangan, dan kesediaan menghadapi risiko demi Indonesia.
Tidak ada retorika besar dalam deskripsi itu, yang ada hanyalah unsur-unsur sederhana yang justru membuat persahabatan terasa nyata. Kepercayaan yang diuji, kecintaan pada pekerjaan yang sama, dan keberanian yang dibagi.
Kehilangan yang Menjadi Pencarian Sepanjang HidupBagian yang paling menyentuh dari buku ini adalah keterangan bahwa Petit sedang menantikan kepulangan Bobby dari suatu misi agar sahabatnya itu dapat menghadiri pernikahannya di Yogyakarta. Namun, RI-002 menghilang, dan Bobby beserta awaknya tidak pernah kembali.
Ada ketegangan yang sulit dihindari dalam kalimat itu. Sebuah pernikahan yang direncanakan, sebuah kepulangan yang ditunggu, dan sebuah pesawat yang tidak pernah tiba. Peristiwa tersebut meninggalkan bekas mendalam dalam kehidupan Petit. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencari tahu apa yang terjadi terhadap pesawat dan sahabatnya. Ketika meninggal pada 8 Maret 2000, Petit meninggalkan manuskrip yang kemudian menjadi fondasi buku ini.
Dengan latar tersebut, buku ini dapat dipahami sebagai kesaksian seorang pelaku sejarah sekaligus usaha seorang sahabat untuk menjaga ingatan dan mencari jawaban atas kehilangan. Dua hal itu, kesaksian dan pencarian, berjalan beriringan.
Petit tidak hanya mengingat, ia juga bertanya. Dan manuskrip yang ia tinggalkan adalah bentuk paling konkret dari kesetiaan. Sebuah catatan yang tidak dibiarkan hilang bersama penulisnya.
Persahabatan dalam Kerangka Hubungan AntarmasyarakatTamalia kemudian menempatkan persahabatan kedua penerbang itu dalam hubungan yang lebih luas antara masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat. Ia menghubungkan cita-cita kemerdekaan Indonesia dengan gagasan kebebasan, demokrasi, dan hak menentukan nasib sendiri. Surat Sutan Sjahrir kepada Presiden Harry S. Truman pada 25 Desember 1945 digunakan untuk menggambarkan harapan Indonesia terhadap dukungan Amerika.
Dalam kerangka tersebut, Bobby digambarkan sebagai warga Amerika yang menunjukkan dukungannya melalui tindakan langsung. Suratnya kepada keluarga, sebagaimana dikutip dalam pengantar, memperlihatkan simpati terhadap rakyat Indonesia dan penolakannya terhadap penindasan kolonial. Sebutan "duta persahabatan tidak resmi" bagi Bobby merujuk pada arti kehadiran dan tindakannya di mata masyarakat Indonesia, bukan suatu jabatan diplomatik.
Frasa "tidak resmi" itu justru menjadi kuncinya. Bobby bukan pejabat, bukan utusan negara, bukan bagian dari aparatur diplomatik. Ia adalah seseorang yang memilih hadir dan bertindak. Dalam sejarah hubungan antarbangsa, peran semacam ini sering luput dari catatan resmi, padahal justru di situlah simpati dan persahabatan antarmasyarakat terbentuk.
Harapan akan PenghargaanPada bagian penutup, Tamalia menyatakan harapan agar pengorbanan Bobby, Petit, dan seluruh awak yang pernah bertugas di RI-002 memperoleh penghargaan yang layak. Perlu dicatat dengan jujur bahwa pernyataan tentang belum adanya pengakuan bagi keduanya merupakan penilaian penulis kata pengantar pada saat teks itu dibuat. Halaman ini sendiri tidak memuat pemeriksaan lengkap atas riwayat penghargaan mereka.
Kejujuran semacam ini penting. Ia menunjukkan bahwa kata pengantar ini bukan klaim yang berlebihan, melainkan sebuah seruan yang sadar akan batas pengetahuannya.
Pesan terpenting adalah bahwa RI-002 merupakan bagian dari sejarah kemerdekaan yang perlu dikenang melalui manusia-manusia di balik penerbangannya. Melalui keberanian Bobby, peran Petit, dan pengorbanan para awaknya, penerbangan tampil sebagai sarana penting untuk mempertahankan hubungan, menopang perjuangan Republik, dan membangun persahabatan yang melampaui batas kebangsaan.
Siapa Tamalia AlisjahbanaUntuk memahami mengapa kata pengantar buku ini memiliki bobot, perlu diketahui siapa penulisnya. Tamalia Alisjahbana adalah putri sastrawan dan pemikir Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Ia berlatar pendidikan hukum, aktif dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan, serta pernah menjadi Direktur Eksekutif Yayasan Gedung Arsip Nasional RI.
Hubungannya dengan Petit Muharto dan Bobby Freeberg dapat dijelaskan sebagai berikut. Dengan Petit Muharto, Tamalia pernah bertemu dan mengenal Petit secara langsung. Dalam wawancara dengan Smithsonian, ia mengenang betapa kuatnya kesan persahabatan dengan Bobby dalam diri Petit, bahkan puluhan tahun setelah pesawat itu hilang. Namun, sumber yang ditemukan belum menunjukkan adanya hubungan keluarga antara Tamalia dan Petit.
Dengan Bobby Freeberg, hubungan yang terdokumentasi adalah melalui penelitian dan pelestarian kisah perjuangannya. Tamalia menjadi kurator pameran RI-002 pada 2009 yang mengangkat jasa Bobby dan Petit. Ia juga ikut mengusahakan penelusuran lebih lanjut mengenai nasib Bobby. Belum ditemukan bukti hubungan keluarga antara keduanya.
Dengan buku yang memuat kata pengantarnya, Tamalia menulis kata pengantar itu sendiri. Ia menerangkan bahwa manuskrip peninggalan Petit merupakan dasar buku tersebut dan menyerukan penghargaan bagi Bobby, Petit, serta seluruh awak RI-002.
Jadi, peran Tamalia yang paling jelas adalah sebagai peneliti, kurator, dan penggerak pelestarian sejarah RI-002 yang juga pernah mengenal Petit secara pribadi. Adapun kedudukannya sebagai editor atau inisiator penerbitan buku ini masih perlu dipastikan lebih lanjut.
Menelusuri Buku, Flying for Our FreedomSejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia juga berlangsung di udara. Ketika hubungan antardaerah terancam terputus dan komunikasi dengan dunia luar menghadapi berbagai hambatan, penerbangan menjadi bagian penting dari kemampuan Republik untuk bertahan.
Dalam konteks itulah kisah Petit Muharto Kartodirdjo, penerbang Amerika Bobby Freeberg, dan pesawat RI-002 memiliki tempat yang patut diperhatikan. Melalui susunan babnya,
Flying for Our Freedom—An American Airman in Revolutionary Indonesia menawarkan pertemuan antara pengalaman pribadi, sejarah perjuangan, dan pencarian jawaban atas nasib seorang sahabat.
Buku ini tampaknya tidak langsung membawa pembaca kepada misteri Freeberg. Tiga bab awal,
The Early Years, The Japanese Occupation, serta The Proclamation and The First Year of Independence, lebih dahulu menempatkan pengalaman tokohnya dalam perubahan besar yang melanda Indonesia.
Susunan tersebut memberi ruang untuk memahami bagaimana masa muda, pendudukan Jepang, dan kelahiran Republik membentuk pilihan serta tindakan seseorang. Perjuangan di bidang penerbangan dengan demikian hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah yang lebih luas.
Salah satu judul bab yang paling menarik adalah
My Life As A "Nonpilot" Pilot: Meeting Bobby Freeberg. Ungkapan "penerbang yang bukan penerbang" mengundang pembaca untuk memahami posisi Petit Muharto sebelum menjadi pilot. Diletakkan berdampingan dengan pertemuannya dengan Freeberg, judul tersebut mengisyaratkan bahwa hubungan keduanya merupakan bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Sementara itu, bab
Becoming a Pilot baru muncul kemudian. Urutan ini membuka sudut pandang menarik tentang hubungan antara pengalaman lapangan, tuntutan perjuangan, dan pembentukan kecakapan profesional.
Dari sini, buku tersebut berpotensi memperluas cara kita memahami sejarah penerbangan. Perhatian tidak hanya tertuju kepada pesawat dan orang yang menerbangkannya, tetapi juga kepada hubungan antarmanusia yang memungkinkan sebuah misi berlangsung. Kepercayaan, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kemampuan bekerja bersama dalam keadaan terbatas merupakan unsur yang layak ditelusuri dalam hubungan Petit Muharto dan Freeberg.
Bab
The Emergency Landing, Who Was Bob Freeberg?, serta
Yogya Captured and The "Long March menunjukkan rentang cerita yang bergerak dari pengalaman penerbangan menuju pengenalan tokoh dan situasi perang. Pergantian fokus tersebut menjanjikan kisah yang memiliki dimensi teknis sekaligus manusiawi.
Bagi pembaca yang mengenal dunia penerbangan, judul tentang pendaratan darurat juga menimbulkan pertanyaan mengenai keadaan pesawat, cuaca, fasilitas pendaratan, dan keputusan awak. Jawabannya tentu harus dicari, tetapi pertanyaan itu sendiri memperlihatkan betapa pentingnya melihat keberanian bersama kondisi operasional yang dihadapi.
Dari Pengalaman Menuju RekonstruksiPerubahan arah paling jelas terlihat pada bagian akhir. Mulai dari
The Discovery dan
The Search for Answers, buku kemudian menghadirkan
Dutch Sources, American Sources, The Security Situation, hingga
What Might Have Happened.
Susunan ini mengisyaratkan peralihan dari penuturan pengalaman menuju upaya merekonstruksi sebuah peristiwa. Kenangan pribadi ditempatkan berdekatan dengan sumber dari negara lain dan pembacaan terhadap keadaan keamanan.
Di sinilah terletak salah satu daya tarik utama sekaligus ukuran kritis untuk menilai buku ini. Pemisahan bab mengenai sumber Belanda dan Amerika menyediakan ruang bagi perbandingan perspektif. Namun, keberadaan beragam sumber belum dengan sendirinya memastikan suatu kesimpulan.
Nilai penelusurannya bergantung pada bagaimana penulis mempertemukan dokumen, menguji kesaksian, menjelaskan pertentangan informasi, dan mengakui bagian yang masih kosong.
Judul bab terakhir,
What Might Have Happened, juga patut diperhatikan. Rumusan "apa yang mungkin telah terjadi" memberi isyarat tentang adanya batas kepastian. Dalam penulisan sejarah tentang hilangnya seseorang, perbedaan antara fakta yang terverifikasi, kesaksian, dan dugaan sangat menentukan kepercayaan pembaca.
Apabila batas itu dijaga dengan jelas sepanjang uraian, ketidakpastian justru dapat menjadi bagian dari kejujuran buku.
Mengapa Kisah Ini Penting bagi IndonesiaBagi sejarah Indonesia, arti penting kisah ini terletak pada kesempatan untuk melihat perjuangan kemerdekaan melalui pengalaman para pelaku penerbangan. Petit Muharto dan Freeberg menghadirkan dimensi persahabatan lintas bangsa dalam perjuangan Republik. Pada saat yang sama, kisah RI-002 mengingatkan bahwa kemampuan bergerak dan menjaga hubungan merupakan kebutuhan mendasar sebuah negara kepulauan.
Berdasarkan kerangka isinya, buku ini menjanjikan bacaan yang mempertemukan perjalanan hidup, perjuangan udara, dan usaha panjang memahami sebuah kehilangan. Daya tarik terbesarnya adalah hubungan antara ingatan seorang pelaku dan pencarian bukti sejarah. Bagi generasi muda Indonesia, kisah tersebut mengandung pelajaran yang tetap relevan.
Kemerdekaan perlu dipahami melalui pengalaman konkret orang-orang yang memperjuangkannya, termasuk mereka yang menjaga hubungan Republik melalui udara. Dari RI-002, kita dapat belajar bahwa bagi Indonesia, penerbangan memiliki arti strategis dalam mempertahankan kehidupan, persatuan, dan kelangsungan negara.
Buku ini meninggalkan kesan tentang sesuatu yang jarang alias langka. Kesetiaan yang dirawat dalam bentuk yang tenang dan tekun. Petit merawat ingatan akan Bobby melalui manuskrip. Tamalia merawat kisah itu melalui penelitian, kurasi pameran, dan kata pengantar. Buku ini sendiri menjadi wadah yang mempertemukan keduanya yakni kesaksian seorang pelaku dan usaha seorang sahabat.
RI-002 menghilang, dan hingga kini sebagian pertanyaan tentangnya mungkin masih terbuka. Namun, justru di situlah nilai kisah ini. Ia mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu selesai dengan jawaban. Kadang ia bertahan justru karena pertanyaannya terus dijaga. Dan di antara pertanyaan-pertanyaan itu, ada nama-nama yang layak dikenang.
Bobby Earl Freeberg, Petit Muharto Kartodirdjo, dan para awak yang pernah menerbangkan RI-002 untuk sebuah Republik yang sedang berjuang untuk tetap ada.
Penulis Merupakan Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia