Berita

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat, Tukus Arifan (Foto: RMOL/Reni Erina)

Energi

PLTS Atap Jadi Peluang Industri Tekan Biaya Energi dan Dukung Transisi Energi

KAMIS, 05 NOVEMBER 2026 | 09:37 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kebutuhan energi yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi menuntut pengelolaan pasokan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Di tengah tantangan tersebut, pemanfaatan energi terbarukan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap, dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan, terutama di sektor industri.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat, Tukus Arifan, mengatakan kebutuhan energi akan terus tumbuh karena hampir seluruh aktivitas manusia bergantung pada ketersediaan energi, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga kegiatan industri.

Ia mengilustrasikan, kebutuhan energi bahkan sudah muncul sejak manusia dilahirkan, baik untuk memasak, pemanas, maupun penggunaan listrik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa energi merupakan kebutuhan mendasar yang permintaannya akan terus ada.


Menurut Tukus, tantangan ke depan bukan hanya memastikan ketersediaan pasokan, tetapi juga mengarahkan pemanfaatannya pada sumber energi yang lebih bersih dan efisien.

"Saat ini kita berada pada momen penting, yaitu bagian dari pentingnya transisi energi menuju energi yang bersih, efisien, dan berkelanjutan. Transisi energi bukan hanya sebuah pilihan, melainkan langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi, meningkatkan daya saing industri, serta mendukung pencapaian target Net Zero Emission pada tahun 2060," ujarnya, di acara peresmian PLTS Atap di PT CCEP Indonesia Bekasi 2 Plant dikutip Kamis 5 November 2026

Ia menambahkan, pengembangan energi terbarukan dan peningkatan efisiensi membutuhkan komitmen serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

Di Jawa Barat, upaya memperkuat ketahanan energi juga dilakukan melalui program Listrik Desa (Lisdes), yang menyasar wilayah belum terjangkau jaringan listrik maupun masyarakat yang selama ini masih bergantung pada sambungan listrik milik orang lain.

Namun, menurut Tukus, pemerataan akses listrik juga membawa konsekuensi berupa peningkatan konsumsi energi. Pengalaman di sejumlah wilayah menunjukkan perubahan pola hidup masyarakat setelah memperoleh sambungan listrik secara mandiri.

Ia mencontohkan, sebagian warga yang sebelumnya hanya membayar sekitar Rp20.000 untuk listrik dari sambungan milik orang lain, kemudian harus mengeluarkan biaya hingga Rp100.000 setelah memiliki meteran sendiri.

Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi perubahan kebiasaan penggunaan listrik. Warga mulai menggunakan penanak nasi yang terus terhubung ke listrik, menambah lampu penerangan yang menyala sepanjang hari, hingga memanfaatkan jaringan internet komunal.

Pengalaman itu, kata Tukus, memperlihatkan bahwa akses energi dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong konsumsi listrik. Karena itu, pemerataan pasokan perlu diimbangi edukasi mengenai penggunaan energi secara bijak dan efisien.

Hal serupa dinilai berlaku di sektor industri. Penggunaan peralatan berdaya besar, seperti pompa air otomatis, perlu dikelola agar tidak menimbulkan konsumsi listrik yang berlebihan. Perusahaan juga didorong memanfaatkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekitar mengenai kemandirian dan efisiensi energi.

Di sisi lain, PLTS Atap menjadi salah satu opsi bagi industri untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan. Selain mendukung pengurangan ketergantungan pada sumber energi konvensional, teknologi ini membuka peluang bagi perusahaan untuk mengelola kebutuhan listrik secara lebih efisien.

Tukus menilai, peresmian PLTS Atap di PT CCEP Indonesia Bekasi 2 Plant merupakan contoh kolaborasi antara pelaku industri dan penyedia solusi energi. Proyek tersebut melibatkan CCEP Indonesia dan PT Cikarang Listrindo Tbk.

Ia berharap inisiatif tersebut dapat mendorong lebih banyak perusahaan di Jawa Barat mengembangkan energi terbarukan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, lanjutnya, akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan kota, serta pelaku industri untuk memperluas peluang pengembangan energi bersih.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan energi sekaligus meningkatkan daya saing industri di tengah tuntutan transisi menuju ekonomi rendah emisi.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya