Berita

Cover buku 'Menyalakan Mercusuar, Menjemput Fajar'. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Resensi

EXECUTIVE SUMMARY

Menyalakan Mercusuar, Menjemput Fajar

RABU, 04 NOVEMBER 2026 | 14:31 WIB

MENYALAKAN Mercusuar, Menjemput Fajar merupakan refleksi pemikiran tentang perjalanan Indonesia dalam menemukan kembali arah, jati diri, dan masa depan sebagai bangsa besar. Buku ini mengajak pembaca melihat Indonesia bukan sekadar sebagai negara yang memiliki kekayaan alam dan wilayah kepulauan yang luas, melainkan sebagai sebuah peradaban yang membutuhkan visi, kepemimpinan, karakter, dan keberanian untuk menentukan nasibnya sendiri.

Berangkat dari pertanyaan mendasar tentang ke mana bangsa ini hendak berlayar, penulis mengkritisi berbagai persoalan kebangsaan, mulai dari krisis kepemimpinan, kemerosotan moral, ketimpangan sosial, oligarki, lemahnya tata kelola pemerintahan, hingga tantangan geopolitik dan persaingan kekuatan global. 

Kekuasaan, menurut gagasan utama buku ini, seharusnya menjadi amanah untuk melayani rakyat, bukan instrumen untuk memperkaya diri maupun mempertahankan dominasi. Indonesia membutuhkan seorang nakhoda yang memiliki integritas, kecerdasan, keberanian, dan orientasi pada kepentingan nasional, bukan sekadar penguasa yang mengejar jabatan.


Buku ini juga mengangkat pentingnya Pancasila dan UUD 1945 sebagai fondasi moral, konstitusional, dan filosofis dalam membangun kehidupan berbangsa. Kedaulatan rakyat, keadilan sosial, persatuan, musyawarah, serta kesejahteraan bersama harus diwujudkan dalam praktik pemerintahan dan pengelolaan sumber daya nasional. Penulis mengajak pembaca melakukan refleksi kritis terhadap perjalanan ketatanegaraan Indonesia dan berbagai perubahan sistem politik yang dinilai perlu dikaji secara historis, filosofis, dan konstitusional.

Salah satu gagasan sentral buku ini adalah kebangkitan Indonesia sebagai bangsa maritim. Mengingat sejarah kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, laut seharusnya kembali ditempatkan sebagai ruang depan peradaban, sumber kesejahteraan, penghubung antarpulau, sekaligus instrumen kedaulatan dan kekuatan strategis negara. 

Melalui pembangunan kekuatan maritim, modernisasi angkatan laut, diplomasi, ekonomi kelautan, teknologi, serta penguatan sumber daya manusia, Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran lebih besar dalam tatanan Indo-Pasifik. Gagasan Indonesia Ocean Policy 2045 menjadi salah satu arah strategis untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Dalam perspektif geopolitik kontemporer, buku ini membahas persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, konflik Rusia-Ukraina, Iran-Israel-Amerika Serikat, dinamika Taiwan, perang ekonomi, keamanan siber, dan cognitive warfare. Perang modern tidak lagi hanya berlangsung di darat, laut, dan udara, tetapi juga di ruang informasi, persepsi, serta pikiran manusia. Karena itu, ketahanan nasional membutuhkan kecerdasan strategis, kemandirian teknologi, kemampuan membaca perubahan lingkungan global, dan ketahanan kognitif masyarakat.

Lebih jauh, penulis menekankan bahwa pembangunan Indonesia 2045 tidak boleh hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, dan kemajuan teknologi. Kemajuan harus berjalan bersama karakter, pendidikan, moralitas, budaya, dan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa. Generasi mendatang membutuhkan bukan hanya negara yang maju, tetapi juga bangsa yang memiliki kehormatan, identitas, dan kesadaran sejarah.

Pada akhirnya, Menyalakan Mercusuar, Menjemput Fajar adalah ajakan untuk membangkitkan kesadaran kolektif bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan semata-mata oleh kekayaan alam atau besarnya populasi, melainkan oleh kualitas manusia, arah kepemimpinan, dan keberanian mengambil keputusan strategis. Mercusuar adalah simbol visi yang menerangi perjalanan, sedangkan fajar adalah lambang harapan akan lahirnya Indonesia yang lebih berdaulat, adil, bermartabat, dan berjaya.

Pesan utama buku ini sederhana tetapi mendalam: Indonesia tidak kekurangan potensi untuk menjadi bangsa besar. Indonesia membutuhkan keberanian untuk menemukan kembali jati dirinya, menentukan arah perjalanannya, dan meninggalkan warisan peradaban yang lebih baik bagi generasi mendatang.


Laksma TNI Salim, S.E, M.Phil
Kepala Pusat Kajian Maritim Sekolah Staf dan Komando TNI AL

 


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya