Berita

Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun (UIC), Musni Umar. (Foto: Istimewa)

Politik

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

SENIN, 02 NOVEMBER 2026 | 20:11 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Aksi boikot terhadap Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad dan konten kreator Willie Salim dinilai mencederai nilai-nilai demokrasi.

Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun (UIC), Musni Umar menilai, konsekuensi dari tegaknya demokrasi adalah tidak boleh ada aksi boikot hanya karena perbedaan pandangan dan kepentingan.

"Kasus yang dialami Raffi Ahmad dan pembuat konten Willie Salim yang diboikot sangat tidak bisa diterima," ujar Musni Umar kepada wartawan di Jakarta, Senin, 2 November 2026.


Terlebih lagi, kata dia, apa yang dilakukan oleh keduanya sangat erat kaitannya dengan peringatan Sumpah Pemuda, yang potensial menyemarakkan kegiatan bisnis untuk pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ia menilai, kehadiran Raffi Ahmad sebagai public figure dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada 29 Oktober 2026, sejatinya menjadi momentum sekaligus penyemangat. 

Acara tersebut semestinya digunakan untuk mengobarkan perpaduan dan persatuan demi mengukuhkan kebersamaan serta kolaborasi.

"Kita bisa berbeda profesi, latar belakang, asal-usul, suku dan agama, tetapi pada momentum peringatan Sumpah Pemuda yang sangat bersejarah, segala perbedaan pandangan, kepentingan dan atribut masing-masing mesti dikesampingkan," tegas Musni.

Lebih jauh, Musni memandang bahwa menoleransi aksi boikot hanya karena perbedaan pandangan akan sangat merugikan bangsa dan negara.

"Tanpa disadari, kita menggali kuburan bagi Indonesia. Sangat berbahaya karena pelakunya pemuda yang merupakan pewaris dan pelanjut Indonesia," tuturnya.

Sebagai penutup, Musni Umar sekadar mengingatkan sebuah pelajaran sejarah penting bagi generasi muda. Ia menyebut bahwa keruntuhan dan kehancuran berbagai negara serta imperium besar di dunia, sumber utamanya bukanlah serangan dari eksternal.

"Tetapi dari internal, karena tidak ada kolaborasi dan saling percaya di antara sesama anak bangsa," demikian Musni menambahkan.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya