Pimpinan PT Chandra Asri Pacific Tbk dalam diskusi bersama Forum Wartawan Industri, Senin, 2 November 2026. (Foto: RMOL/Sarah Alifia Suryadi)
Pembangunan pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) berkapasitas hampir 900 ribu ton ditargetkan menjadi langkah substitusi impor produk kimia di Indonesia.
Proyek dengan investasi hampir 1 miliar Dolar AS ini ditargetkan rampung pada semester II 2027 dan mulai memberikan kontribusi nyata pada 2028.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat PT Chandra Asri Tbk, Suryandi, mengatakan kapasitas produksi tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
"CA-EDC ini tadi pertanyaannya berkaitan dengan kontribusi pendapatan ya? Kapasitasnya ini kurang lebih hampir 900 ribu ton kapasitasnya, dengan investasi kira-kira hampir 1 miliar US Dolar," kata Suryandi dalam diskusi bersama Forum Wartawan Industri di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin, 2 November 2026.
Ia menjelaskan, investasi proyek tersebut terdiri dari sekitar 800 juta Dolar AS untuk konstruksi dan 200 juta Dolar AS untuk kebutuhan lainnya. Adapun kontribusi terhadap pendapatan perusahaan diperkirakan baru terlihat secara penuh pada 2028, setelah pembangunan selesai pada semester II 2027.
Sementara itu, General Manager-Head Of Corporate Communications PT Chandra Asri Tbk, Chrysanthi Tarigan menjelaskan bahwa kebutuhan impor produk terkait di Indonesia mencapai sekitar 400 ribu ton per tahun berdasarkan data Kementerian Perindustrian. Kehadiran pabrik CA-EDC diharapkan mampu menggantikan seluruh kebutuhan impor tersebut.
"Harusnya ya. Harus bisa. Semoga, itu harapan kita sih," ujar Chrysanthi saat ditanya mengenai peluang substitusi impor hingga 100 persen.
Suryandi juga menyebut proyek CA-EDC berpotensi memberikan kontribusi substitusi impor sekitar Rp43,7 triliun dan menghemat devisa Rp65,5 triliun. Namun, ia tidak merinci dasar perhitungan maupun periode yang digunakan untuk kedua angka tersebut.
Di sisi lain, kesiapan bahan baku masih menjadi bagian dari proses yang harus dituntaskan sebelum pabrik beroperasi. Suryandi mengatakan perusahaan masih mengurus perizinan kepada pemerintah untuk mengimpor garam industri sebagai bahan baku CA-EDC.
"Masih dalam proses untuk kita aplikasi ke pemerintah agar supaya kita diberikan izin untuk impor," tandas Suryandi.
Ia menambahkan, pasokan garam industri dari dalam negeri perlu mempertimbangkan kecukupan volume dan kesesuaian jenis. Meski demikian, perusahaan tetap terbuka terhadap pasokan domestik apabila kapasitas dan ketersediaannya mampu memenuhi kebutuhan pabrik.