Ilustrasi Stevia Jadi Alternatif Gula Pasir (Sumber: Gemini Generated Image)
Stevia menjadi salah satu pemanis alami yang semakin populer sebagai pengganti gula pasir. Berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana, pemanis nabati ini dikenal memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi dibandingkan gula biasa, tetapi hampir tidak menyumbang kalori dalam bentuk ekstrak tertentu.
Popularitas stevia juga meningkat karena kerap digunakan sebagai alternatif gula bagi orang yang sedang menjalani diet maupun ingin mengurangi konsumsi gula. Produk pemanis stevia kini tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari bubuk, butiran, hingga cairan tetes.
Namun, keamanan stevia kembali menjadi perbincangan setelah produk Beeru Stevia disorot oleh dokter sekaligus kreator konten Samira Farahnaz atau yang dikenal sebagai Dokter Detektif (Doktif). Melalui akun Instagram @dokterdetektifreal pada 28 Oktober 2026, Doktif membagikan hasil pengujian laboratorium independen yang disebut menunjukkan ketidaksesuaian antara kandungan produk dan informasi pada kemasannya.
Dalam hasil pengujian yang dibagikannya, sampel Beeru Stevia tercatat memiliki kandungan energi sebesar 188,84 kilokalori per 100 gram dan karbohidrat mencapai 47,21 persen. Temuan tersebut dipersoalkan karena produk sebelumnya dikenal dengan klaim nol kalori.
Meski demikian, hasil pengujian mandiri tersebut belum menjadi kesimpulan resmi mengenai keamanan produk. BPOM masih melakukan penelusuran, pengambilan sampel, dan pengujian untuk memastikan kandungannya.
Di tengah polemik tersebut, penting untuk mengenal stevia lebih jauh, termasuk kandungan, manfaat, dan efek sampingnya. Lantas, apakah stevia aman dikonsumsi sebagai pengganti gula pasir?
Apa Itu Stevia?
Stevia merupakan pemanis yang berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana, tumbuhan yang berasal dari Amerika Selatan. Masyarakat di wilayah tersebut telah menggunakan daunnya sebagai pemanis selama berabad-abad.
Mengutip Cleveland Clinic, industri pangan mengolah daun stevia untuk menghasilkan pemanis dengan kandungan kalori dan karbohidrat yang sangat rendah atau nyaris nol, bergantung pada jenis ekstrak dan formulasi produknya. Rasa manis stevia berasal dari senyawa glikosida steviol yang terkandung dalam daunnya.
Senyawa ini memiliki tingkat kemanisan sekitar 200 hingga 400 kali lebih tinggi dibandingkan sukrosa atau gula pasir. Proses pembuatan ekstrak stevia dilakukan dengan merendam daun dalam air, kemudian menyaringnya untuk memisahkan senyawa glikosida steviol.
Ekstrak tersebut selanjutnya dimurnikan dan dikeringkan hingga menjadi bubuk atau butiran pemanis.
Apakah Stevia Aman Dikonsumsi?
Stevia dapat digunakan sebagai alternatif pemanis yang aman apabila berasal dari ekstrak glikosida steviol dengan tingkat kemurnian tinggi dan dikonsumsi sesuai batas asupan yang dianjurkan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah mengevaluasi penggunaan ekstrak glikosida steviol dengan tingkat kemurnian minimal 95 persen melalui mekanisme Generally Recognized as Safe (GRAS), yakni bahan yang secara umum diakui aman untuk penggunaan tertentu.
Namun, penilaian tersebut tidak berlaku untuk semua bentuk stevia. FDA tidak memberikan pengakuan keamanan yang sama terhadap daun stevia utuh, ekstrak kasar dengan kemurnian di bawah 95 persen, maupun suplemen stevia. Batas asupan harian yang dapat diterima atau Acceptable Daily Intake (ADI) untuk glikosida steviol ditetapkan sebesar 4 miligram per kilogram berat badan per hari dalam bentuk ekuivalen steviol oleh JECFA.
Mengutip Cleveland Clinic, seseorang diperkirakan perlu mengonsumsi sekitar 27 bungkus pemanis stevia setiap hari untuk mencapai batas ADI. Namun, jumlah tersebut dapat berbeda bergantung pada formulasi dan kandungan setiap produk.
Artinya, stevia bukan berarti boleh dikonsumsi tanpa batas. Konsumen tetap perlu memperhatikan takaran penggunaan dan komposisi produk yang dibeli.
Manfaat Stevia sebagai Pengganti Gula Pasir
Stevia banyak digunakan sebagai alternatif gula pasir karena memiliki tingkat kemanisan tinggi dengan kontribusi kalori yang sangat rendah pada ekstrak tertentu. Sejumlah penelitian juga telah mengkaji potensi stevia bagi kesehatan.
Studi yang dipublikasikan pada 2017 menunjukkan bahwa pemanis ini dapat digunakan oleh orang dengan diabetes, obesitas, maupun tekanan darah tinggi sebagai pengganti gula. Penelitian lain turut menyoroti potensi senyawa stevia sebagai antioksidan dan antiperadangan.
Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti stevia dapat digunakan untuk mengobati penyakit tertentu. FDA juga belum menyetujui stevia sebagai obat atau terapi untuk kondisi kesehatan apa pun.
Karena itu, penggunaannya lebih tepat dipahami sebagai alternatif pemanis, bukan pengganti pengobatan medis.
Efek Samping Stevia yang Perlu Diketahui
Meski ekstrak stevia dengan kemurnian tinggi secara umum dinilai aman dalam batas konsumsi yang dianjurkan, sebagian orang tetap berpotensi mengalami efek samping. Mengutip Cleveland Clinic, keluhan yang mungkin muncul antara lain mual dan perut kembung.
Respons tubuh terhadap pemanis juga dapat berbeda pada setiap orang. Sebuah penelitian pada 2024 menemukan bahwa stevia kecil kemungkinannya mengganggu kesehatan usus selama periode pengamatan 12 minggu.
Namun, hasil tersebut belum cukup untuk memastikan seluruh efek jangka panjangnya. Oleh karena itu, masyarakat tetap disarankan mengonsumsi stevia dalam jumlah wajar dan memperhatikan reaksi tubuh setelah menggunakannya.