Berita

Ilustrasi Apa Itu Standalone Market (Sumber: Gemini Generated Image)

Finansial

Apa Itu Standalone Market? Ini Arti dan Dampaknya bagi Pasar Saham Indonesia

SABTU, 17 OKTOBER 2026 | 10:08 WIB | OLEH: TIFANI

Istilah Standalone market menjadi sorotan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) memulai konsultasi mengenai usulan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Dalam pengumuman pada Jumat (16/10/2026), MSCI menyampaikan bahwa konsultasi tersebut dilakukan bersama pelaku pasar untuk membahas kelayakan pasar saham Indonesia bagi investor global. 

Keputusan final mengenai status pasar modal Indonesia dijadwalkan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027. MSCI menilai reformasi pasar saham Indonesia sejauh ini belum menunjukkan kemajuan yang konsisten. 

Selain itu, pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran signifikan terkait kelayakan pasar Indonesia sebagai tujuan investasi.


"MSCI akan mengumumkan keputusan final paling lambat akhir Juni 2027 dan dapat memberikan pembaruan sementara mengenai masukan dari pelaku pasar selama periode konsultasi," bunyi pengumuman MSCI.

Usulan tersebut membuat istilah standalone market kembali menjadi perhatian, terutama karena perubahan klasifikasi dapat memengaruhi posisi saham Indonesia dalam indeks global dan keputusan investasi manajer investasi internasional.

Apa Itu Standalone Market?

Standalone market adalah kategori khusus dalam klasifikasi pasar modal MSCI yang mencakup negara-negara yang tidak dimasukkan ke dalam kelompok developed market (pasar maju), emerging market (pasar berkembang), maupun frontier market (pasar perintis). Mengacu pada metodologi MSCI Global Investable Market Indexes, klasifikasi standalone market digunakan untuk pasar yang tidak memenuhi atau tidak lagi memenuhi kriteria untuk dimasukkan ke dalam kelompok indeks utama tersebut.

Penilaian MSCI terhadap suatu pasar dapat mempertimbangkan sejumlah aspek, termasuk aksesibilitas bagi investor asing, likuiditas pasar saham, efisiensi operasional, serta kondisi regulasi dan tata kelola. Pasar yang menghadapi kendala serius dalam aspek-aspek tersebut berpotensi diklasifikasikan sebagai standalone market. 

Status ini menunjukkan bahwa pasar modal suatu negara tidak termasuk dalam kelompok indeks utama MSCI, bukan berarti seluruh aktivitas perdagangan saham di negara tersebut dihentikan.

Mengapa Pasar Modal Bisa Masuk Kategori Standalone Market?

Klasifikasi standalone market dapat berkaitan dengan tingkat keterbukaan pasar terhadap investor asing, kondisi likuiditas, serta hambatan operasional dan regulasi. Aksesibilitas menjadi salah satu aspek penting karena investor global membutuhkan mekanisme yang jelas untuk membeli, menjual, menyimpan, dan memindahkan kepemilikan saham.

Hambatan dalam proses tersebut dapat memengaruhi minat investor internasional. Likuiditas juga berperan dalam penilaian pasar. Pasar dengan aktivitas perdagangan terbatas dapat menyulitkan investor untuk melakukan transaksi dalam jumlah besar tanpa memengaruhi harga saham secara signifikan.

Selain itu, transparansi informasi dan kepastian regulasi turut menjadi pertimbangan dalam menilai kelayakan suatu pasar bagi investasi global. Dalam kasus Indonesia, MSCI menyoroti belum konsistennya kemajuan reformasi pasar saham serta kekhawatiran pelaku pasar mengenai kelayakan pasar Indonesia untuk berinvestasi. 

Namun, usulan perubahan klasifikasi tersebut masih dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final.

Apa Dampak Jika Indonesia Turun ke Standalone Market?

Apabila status pasar modal Indonesia diturunkan dari emerging market menjadi standalone market, salah satu konsekuensi utamanya adalah saham Indonesia tidak lagi masuk dalam indeks MSCI yang menjadi acuan bagi investor global. Indeks MSCI digunakan oleh berbagai manajer investasi, dana pensiun, dan pengelola dana internasional untuk menyusun portofolio serta menentukan alokasi investasi di berbagai negara.

Perubahan klasifikasi tersebut berpotensi mendorong penyesuaian portofolio oleh investor yang mengikuti indeks MSCI. Dampaknya dapat berupa perubahan aliran dana asing ke pasar saham Indonesia, terutama dari strategi investasi yang mengacu pada indeks tersebut.

Meski demikian, besarnya dampak terhadap harga saham dan arus modal akan bergantung pada keputusan akhir MSCI, komposisi portofolio investor, serta respons pelaku pasar. Penurunan klasifikasi juga tidak secara otomatis berarti seluruh investor asing akan meninggalkan Indonesia.

Karena itu, perkembangan konsultasi MSCI dan langkah reformasi pasar modal Indonesia menjadi hal penting untuk dicermati hingga keputusan final diumumkan.

Negara yang Masuk Kategori Standalone Market MSCI

MSCI mengelompokkan sejumlah negara ke dalam kategori standalone market. Negara-negara tersebut tersebar di beberapa kawasan, termasuk Amerika serta Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.

Di kawasan Amerika, negara yang tercatat dalam kategori ini antara lain Argentina, Jamaika, dan Panama. Sementara itu, di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, negara yang termasuk dalam klasifikasi standalone market antara lain Bosnia dan Herzegovina, Botswana, Ghana, Lebanon, Nigeria, Palestina, Ukraina, serta Zimbabwe.

Keberadaan negara-negara tersebut menunjukkan bahwa standalone market merupakan bagian tersendiri dalam sistem klasifikasi MSCI. Status ini dapat mencerminkan kondisi aksesibilitas dan karakteristik pasar yang berbeda dari negara-negara yang tergabung dalam indeks developed market, emerging market, atau frontier market.

Kapan Keputusan MSCI soal Status Pasar Saham Indonesia Diumumkan?

MSCI dijadwalkan mengumumkan keputusan final mengenai usulan perubahan status pasar saham Indonesia paling lambat pada 30 Juni 2027. Sebelum keputusan tersebut ditetapkan, MSCI akan menjalankan periode konsultasi untuk mengumpulkan masukan dari pelaku pasar. 

MSCI juga membuka kemungkinan menyampaikan pembaruan sementara selama proses konsultasi berlangsung. Hasil konsultasi akan menjadi bagian dari proses evaluasi terhadap kondisi pasar saham Indonesia. 

Oleh karena itu, perkembangan reformasi pasar modal, peningkatan transparansi, serta perbaikan aksesibilitas bagi investor global menjadi sejumlah aspek yang akan menjadi perhatian. Hingga keputusan final diumumkan, Indonesia masih menghadapi proses evaluasi atas usulan perubahan klasifikasi tersebut. 

Status akhirnya akan menentukan posisi pasar saham Indonesia dalam sistem indeks global MSCI selanjutnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya