Berita

Koperasi Pemulung Berdaya mengumpulkan dan memilah botol plastik PET bekas dari wilayah Jabodetabek untuk disalurkan kembali ke rantai daur ulang (Foto: Istimewa)

Sosial

13 Negara Pelajari Model Daur Ulang Sampah di Serpong

SABTU, 17 OKTOBER 2026 | 08:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Koperasi Pemulung Berdaya di Serpong, Tangerang Selatan, mengumpulkan dan memilah hingga 6 ton botol plastik jenis PET per hari untuk disalurkan ke industri daur ulang. 

Kegiatan ini menopang penghidupan 59 anggota koperasi dan terhubung dengan mata pencaharian sekitar 4.000 pemulung di wilayah Jabodetabek.

Model pengelolaan tersebut menjadi perhatian delegasi dari 13 negara yang berkunjung pada Kamis, 15 Oktober 2026, sebagai bagian dari Jakarta Informal Consultation Meeting terkait perundingan internasional penanganan polusi plastik (Intergovernmental Negotiating Committee on Plastic Pollution).


Kunjungan ini menyoroti peran pekerja sektor informal dalam rantai daur ulang, sekaligus pentingnya memastikan transisi menuju ekonomi sirkular tidak mengabaikan mata pencaharian mereka.

Koperasi yang diinisiasi pada 2010 dan berbadan hukum sejak 2013 itu memperlihatkan bagaimana pengumpulan sampah dapat dihubungkan dengan organisasi pekerja, akses pasar, serta peningkatan perlindungan dan keselamatan kerja.

Public Affairs & Sustainability Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, mengatakan transisi yang adil seharusnya memperkuat peran pekerja informal, bukan menggantikannya.

"Dalam konteks Indonesia, pekerja informal telah menjadi bagian dari ekonomi sirkular yang berjalan selama ini. Karena itu, transisi yang adil bukan tentang menggantikan peran mereka, melainkan memperkuat jalur menuju kondisi kerja yang lebih baik, akses terhadap perlindungan, infrastruktur dan pasar, serta peluang ekonomi yang lebih Tangguh," ujarnya, dalam keterangannya dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 17 Oktober 2026. 

"Melalui Koperasi Pemulung Berdaya, Aqua menunjukkan bagaimana kolaborasi antara industri, pemerintah, koperasi, dan pelaku informal dapat memperkuat rantai nilai daur ulang sekaligus mendorong ekonomi sirkular yang lebih inklusif," lanjut Karyanto.

Penguatan rantai pengumpulan juga berkaitan dengan kebijakan pengurangan sampah oleh produsen. 

Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, mengatakan pemerintah terus menyempurnakan kebijakan tanggung jawab produsen, termasuk Peraturan Menteri LHK Nomor P.75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

"Penguatan tanggung jawab produsen penting untuk mendorong pengurangan sampah sejak dari sumber sekaligus meningkatkan tanggung jawab terhadap produk dan kemasan setelah digunakan. Implementasinya perlu didukung oleh kesiapan infrastruktur, kapasitas pelaku usaha, keterlibatan pemerintah daerah, serta sinergi dengan sektor informal agar sistem pengurangan sampah semakin terintegrasi dan sesuai dengan kebutuhan nasional. Kunjungan ke Koperasi Pemulung Berdaya di Tangerang Selatan memperlihatkan kolaborasi yang baik antara pelaku industri dengan sektor informal dalam rantai daur ulang," ujarnya.

Dalam upaya memperluas pengumpulan material daur ulang, Aqua mengembangkan 10 Unit Bisnis Daur Ulang di sejumlah wilayah.

Bersama para mitra, jaringan tersebut terhubung dengan sekitar 25.000 pemulung dan mengumpulkan 51.000 ton plastik sepanjang 2024.

Model ini diarahkan untuk memperkuat organisasi pekerja, memperluas akses pasar, meningkatkan kapasitas usaha, serta memperbaiki praktik keselamatan kerja. Pendampingan juga mencakup kepastian penyerapan material PET dan akses fasilitas kesehatan seperti BPJS.

Pengembangan ekosistem pengumpulan dan daur ulang tersebut menjadi bagian dari Gerakan #BijakBerplastik yang diluncurkan pada 2018. Program ini mencakup pembangunan infrastruktur pengumpulan, edukasi masyarakat, dan inovasi kemasan, sekaligus mendukung target pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30 persen pada 2029.

Kunjungan delegasi internasional itu menegaskan bahwa penanganan polusi plastik tidak cukup hanya mengandalkan teknologi pengolahan dan kebijakan pengurangan sampah. Keterlibatan pekerja informal, penguatan kelembagaan, serta akses terhadap pasar daur ulang juga menjadi faktor penting dalam membangun sistem yang berkelanjutan.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

MTI: Saatnya Pilih Pemimpin karena Kualitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:29

Korupsi Kredit Perbankan Rp629,8 Miliar Proyek Apartemen Bekasi Diusut

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:18

Ketika Hukum Konstitusi Berhadapan dengan Realitas Pertahanan Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:01

Kesaktian Nusron Terbukti Lagi, KPK Dibuat Tak Bergigi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:48

Masjid Apung An-Nur di Ancol jadi Landmark Baru di Pesisir Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:20

Prabowo Pimpin Rapat Kabinet di Istana Bogor

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:07

KPK Jangan Gertak Sambal: Segera Jemput Paksa Nusron!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:35

Melampaui Efisiensi, Menemukan Peluang Baru

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:20

5 Jurnalis Hilang di Krakatau Dianugerahi Penghargaan Kemanusiaan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:02

Investor Jangan Gampang Panik soal Ancaman MSCI

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya