Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendesak progres reformasi pasar modal Indonesia ditunjukkan secara konkret kepada investor domestik maupun asing.
Hal tersebut dikatakan Airlangga menyusul langkah penyedia indeks global MSCI Inc. yang mempertimbangkan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Airlangga menilai, implementasi reformasi menjadi catatan penting yang harus segera ditindaklanjuti pemerintah bersama otoritas pasar modal. Menurutnya, langkah pembenahan tidak cukup hanya dijanjikan, tetapi juga harus menunjukkan perkembangan yang terukur.
“Reform itu harus dijalankan dan progresnya itu harus kelihatan. Terutama progresnya harus kelihatan bagi para investor dalam negeri maupun luar negeri,” kata Airlangga di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026.
Dia mengungkapkan, pengumuman MSCI kali ini datang lebih cepat dari perkiraan pemerintah. Sebelumnya, pengumuman tersebut diperkirakan baru disampaikan pada November, tetapi MSCI justru mengeluarkannya pada Oktober.
Airlangga menyebut MSCI juga memberikan tenggat evaluasi lanjutan pada April dan Juni tahun depan. Karena itu, pemerintah perlu memastikan berbagai komitmen pembenahan pasar modal dapat diimplementasikan sesuai target.
Menurutnya, salah satu persoalan yang menjadi perhatian MSCI adalah lamanya proses implementasi regulasi terhadap tindakan yang dilakukan pelaku pasar modal.
“Kalau kita lihat terkait dengan bidang implementasi daripada regulasi terhadap tindakan yang dilakukan oleh pasar modal, ini kan mereka merasa periodenya agak panjang,” ujarnya.
Airlangga mengatakan pemerintah perlu menjelaskan alasan di balik lamanya proses implementasi tersebut, termasuk tahapan yang harus dilalui sebelum kebijakan dapat diterapkan.
“Nah ini yang harus dijelaskan mengapa prosesnya membutuhkan waktu,” katanya.
Pemerintah, lanjut Airlangga, akan membahas persoalan tersebut bersama Bursa Efek Indonesia (BEI). Dia berharap pembenahan pasar modal ke depan memiliki langkah yang lebih konkret dengan jadwal pelaksanaan yang jelas.
“Tentu ini kita akan bicara dengan Bursa (BEI) bahwa kita berharap bahwa langkahnya konkret beserta timelinenya,” ujarnya.
Di tengah perkembangan tersebut, pemerintah juga menjadwalkan pertemuan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada hari ini.
Pertemuan itu berlangsung saat pasar keuangan domestik berada di bawah tekanan. Nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp18.000 per Dolar AS, sementara perdagangan saham di BEI sempat dihentikan sementara (trading halt).
Airlangga sebelumnya menyebut pengumuman MSCI menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tekanan pasar. Meski demikian, dia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan gejolak yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi sentimen pasar.