Berita

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. (Foto: Istimewa)

Pemerintahan

Pemerintah Serap Masukan Akademisi hingga Peneliti untuk Perkuat Ekonomi Biru

JUMAT, 16 OKTOBER 2026 | 05:53 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengaku terbuka menerima masukan dari semua pihak termasuk akademisi dan peneliti atas implementasi kebijakan ekonomi biru di sektor kelautan dan perikanan. 

Terutama yang kaitannya dengan upaya perlindungan ekosistem laut, pengembangan budidaya perikanan, hingga penguasaan teknologi dan inovasi untuk memperkuat daya saing hasil perikanan Indonesia di level global.

“Harapan saya, kami akan mendapatkan rumusan-rumusan pemikiran arahnya mau ke mana, bagaimana Indonesia dalam kurun waktu tertentu mampu menjaga laut kita supaya tetap sehat. Jika kita ingin memiliki keunggulan kompetitif seperti apa yang harus dikuasai," kata Menteri Trenggono saat memberikan sambutan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-22 Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) di Kampus Universitas Udayana, Bali, Kamis, 15 Oktober 2026.


Melalui PIT ke-22 ISOI, Menteri Trenggono berharap para akademisi dan peneliti oseanologi dapat memberikan masukan berbasis ilmu pengetahuan untuk memperkuat kebijakan kelautan Indonesia. 

Menurutnya, tantangan utama pengelolaan laut saat ini adalah meningkatnya tekanan aktivitas ekonomi seiring pertumbuhan penduduk dunia. Kondisi tersebut menuntut Indonesia menemukan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan manusia dan perlindungan ekosistem laut.

Dia memperkirakan jumlah penduduk dunia akan mendekati 10 miliar jiwa pada 2050. Pertumbuhan tersebut akan meningkatkan kebutuhan pangan, energi, dan sumber daya alam, sementara kapasitas lingkungan memiliki keterbatasan. 

"Kalau kita bicara kedaulatan bukan juga hanya kedaulatan wilayah dan negara, namun juga kedaulatan daripada ekologi itu sendiri harus dijaga," ujarnya.

Trenggono menegaskan, keberlanjutan ekologi memiliki implikasi langsung terhadap kehidupan generasi mendatang. Laut, kata dia, bukan hanya sumber pangan dan penghidupan, melainkan juga bagian penting dari sistem alam yang menopang kehidupan manusia.

Konservasi dan Inovasi Jadi Kunci Ekonomi Biru

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan kawasan konservasi laut Indonesia mencapai 97,5 juta hektare pada 2045. Lanjut Trenggono, kawasan konservasi harus dijaga agar rantai kehidupan biota laut tetap berlangsung dan mampu menopang keberlanjutan sumber daya perikanan.

Selain konservasi, pemerintah juga mendorong pengelolaan perikanan yang lebih terukur untuk mengendalikan eksploitasi sumber daya laut. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga populasi ikan sekaligus mempertahankan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Trenggono menyebut sekitar 3,2 juta keluarga Indonesia menggantungkan hidupnya pada wilayah pesisir dan pulau-pulau. Karena itu, pengembangan ekonomi biru perlu dibarengi dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Salah satu upaya yang didorong KKP adalah pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), yang diarahkan untuk memperkuat sarana dan prasarana penunjang aktivitas nelayan. 

Ke depan, pemerintah juga ingin mendorong diversifikasi kegiatan ekonomi masyarakat pesisir, termasuk pengembangan budidaya rumput laut. Komoditas ini dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai bahan baku industri dan energi.

Di sektor budidaya perikanan, KKP juga mengembangkan model budidaya udang terintegrasi dan teknologi budidaya ikan yang lebih produktif. Pemerintah berharap inovasi tersebut dapat meningkatkan pasokan protein nasional tanpa memperbesar tekanan terhadap ekosistem. 

"Ukuran hebat ketika industrinya hidup," ujarnya.

Selain persoalan eksploitasi sumber daya, Trenggono mengingatkan ancaman sampah plastik terhadap ekosistem laut. Dia menilai upaya penanganan sampah tidak cukup hanya dilakukan di laut, tetapi harus dimulai dari pencegahan sampah di daratan agar tidak bermuara ke laut.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kemitraan PLN Perkuat KDKMP jadi Penggerak Ekonomi Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:16

Pemerintah Serap Masukan Akademisi hingga Peneliti untuk Perkuat Ekonomi Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:53

Tak Hanya Tunjuk Kepala Baru, Pemerintah Diminta Serius Benahi BNPB

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:23

BUK dan Bukti Kegagalan SKK Migas

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:59

Korupsi Dana Bencana Bentuk Pengkhianatan terhadap Amanah Kemanusiaan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:29

Wajah Muda Kemiskinan yang Berubah

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:58

Maruli Berjabat Tangan dengan Gibran

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:29

Lokasi Ledakan di Pasar Cimanggis-Ciputat Bukan SPPG

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:00

Selain Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala Perwakilan BPK Jateng Ahmad Luthfi

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:45

Perpaduan Kekuatan Laut dan Udara Warnai Demo Pendaratan Amfibi di Pantai Banongan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:08

Selengkapnya