Berita

Ilustrasi bendera Iran. (Foto: AI)

Opini Pakar

Iran: Bersepakat soal Ancaman, Berselisih dalam Respons

KAMIS, 15 OKTOBER 2026 | 22:52 WIB

PADA 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. Presiden Trump menyebutnya "operasi tempur besar" dan menyerukan perubahan rezim di Teheran.

Media Iran melaporkan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas. Hingga awal Oktober, menurut pemberitaan Al Jazeera, perang masih berlangsung. Pertanyaan menariknya adalah: apakah elite Iran bersatu untuk menghadapi musuh bersama?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan analisa mendalam untuk memetakan ancaman eksternal dan peran elite domestik Iran sebagai unit dalam menyaring dan menentukan kebijakan berdasarkan tingkat kohesi elite.


Serangan ini sulit dimasukkan ke satu kategori. Ancaman bersifat sistemik: kekuatan besar ekstra-regional memproyeksikan kekuatan dengan armada, pangkalan, dan sanksi yang berasal dari struktur sistem internasional.

Dari medannya, ancaman bersifat subsistemik: Israel adalah rival regional langsung Iran, dan balasan Iran mengenai negara-negara Teluk seperti UEA, Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Dari sasarannya, ancaman bersifat domestik: seruan perubahan rezim membidik kohesi elite dan legitimasi politik Iran di mata rakyatnya.

Lapisan terakhir inilah yang paling menentukan. Bagi rezim yang ideologinya dibangun di atas perlawanan terhadap AS dan Israel, perubahan rezim berarti akhir Republik Islam, bukan sekadar pergantian pemerintah.

Mengapa Ancaman Luar Tidak Otomatis menjadi Kebijakan?

Di sinilah neoclassical realism berguna. Teori ini menerima bahwa tekanan sistemik menentukan arah umum kebijakan sebuah negara, tetapi menegaskan bahwa tekanan itu harus lebih dulu dibaca dan diproses oleh para pengambil keputusan, lalu diterjemahkan lewat kemampuan negara memobilisasi sumber daya. Ancaman tidak bicara sendiri.

Neoclassical realism, menurut Ripsman, Taliaferro dan Lobel (2016), berangkat dari asumsi bahwa tekanan sistemik menentukan arah umum kebijakan luar negeri suatu negara, tetapi tekanan itu tidak diterjemahkan secara otomatis. Variabel tingkat unit (negara) berperan sebagai penghubung (intervening variables) antara struktur internasional dan perilaku negara.

Tiga variabel intervening yang dipakai di sini adalah persepsi pemimpin, kohesi elite, dan hubungan negara-masyarakat, khususnya kemampuan negara mengekstraksi dan memobilisasi sumber daya.

Di Iran, pemetaan dan penilaian ancaman itu terpusat di puncak: Pemimpin Tertinggi, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, dan Garda Revolusi. Presiden dan parlemen yang dipilih rakyat berada di bawah struktur tersebut. Dan pada hasilnya, kesepakatannya kuat. Para pemimpin Iran bersepakat perang ini sebagai ancaman eksistensial.

Logikanya tidak rumit: ketika lawan menyatakan tujuannya adalah menjatuhkan rezim, kubu pragmatis pun tidak punya ruang tawar, sebab kejatuhan rezim berarti mereka kehilangan segalanya.

Sepakat soal Ancaman, Berselisih soal Respons

Namun kesepakatan tentang apa ancamannya tidak sama dengan kesepakatan tentang apa yang harus dilakukan. Retak itu terlihat dalam sepekan pertama perang. Presiden Pezeshkian berjanji tidak akan menyerang negara-negara Teluk. Janji itu ditentang kubu garis keras di Garda Revolusi dan elite ulama, dan ia terpaksa menariknya sebagian.

Jadi sosok yang menengahi kesepakatan ancaman dari berbagai aktor kini tidak sekuat dulu. Otonomi pengambil keputusan puncak Iran memang tinggi, tetapi tidak mutlak. Seorang presiden masih bisa memaksa kompromi, dan seorang presiden juga bisa dipaksa mundur.

Respons Iran mencerminkan logika negara yang menghadapi lawan lebih kuat. Penggunaan salvo rudal dan drone merupakan strategi untuk menguras pertahanan Patriot dan THAAD, membuat perang menjadi lebih mahal bagi lawan.

Front paralel lewat Hizbullah, Houthi, dan milisi Irak, serta gangguan di Selat Hormuz, menjadi strategi asimetris mematikan bukan untuk menang secara konvensional, tetapi tidak hanya membuat perang berkepanjangan, namun juga menyentuh persoalan lain, seperti ekonomi global.

Dari sini ada hal yang perlu dilihat, yaitu kesepakatan elite tentang ancaman tidak menjamin kesepakatan tentang respons, apalagi dukungan masyarakat. Terdapat frustasi ekonomi publik meski bersifat rendah. Serangan yang menargetkan rezim bisa jadi justru mengonsolidasikan persepsi ancaman sambil membuka perdebatan tentang respons. Itu bukan paradoks, melainkan cara kerja tekanan eksternal ketika melewati politik domestik.

Variabel Perantara: Persepsi, Kohesi Elite, dan Kapasitas Negara

Dalam kerangka neoclassical realism, variabel independennya adalah tekanan sistemik, yaitu distribusi kekuatan yang menempatkan Iran jauh lebih lemah secara konvensional dibanding AS dan Israel. Variabel dependennya adalah kebijakan luar negeri: salvo rudal, perang proksi, dan gangguan di Hormuz.
 
Kasus Iran memperlihatkan ketiganya bekerja tidak seragam. Persepsi ancaman nyaris bulat, seperti telah dijelaskan di atas. Kohesi elite hanya sebagian: bila laporan tewasnya Khamenei benar, Iran kehilangan penengah utama yang selama ini mendamaikan Garda Revolusi, ulama, dan pemerintahan terpilih, sehingga perbedaan respons di kawasan Teluk mudah muncul ke permukaan.

Garda Revolusi menguasai aparat koersif sekaligus jaringan ekonomi, sehingga negara tetap sanggup menggerakkan sumber daya di bawah sanksi. Tetapi, di sisi lain, frustrasi ekonomi membuat mobilisasi lebih bertumpu pada paksaan ketimbang persetujuan.

Dari sini perbedaan respons dapat dibaca sebagai perbedaan hitungan biaya domestik, bukan perbedaan penilaian ancaman. Kubu garis keras mengutamakan deterensi dan menaikkan harga perang bagi lawan, termasuk lewat serangan ke Teluk. Kubu Pezeshkian menimbang risiko mengasingkan tetangga yang masih menjadi jalur diplomasi dan ekonomi.

Neoclassical realism tidak memprediksi respons yang paling rasional menurut logika sistem, melainkan kompromi yang mencerminkan keseimbangan kekuatan di dalam rezim: eskalasi terukur, pesan yang ambigu, dan koordinasi yang tidak selalu rapi di lapangan. Ujian berikutnya adalah apakah kohesi elite bertahan ketika ongkos perang menumpuk, sebab di titik itulah tekanan eksternal paling mungkin berubah menjadi retakan internal.

Dua hal yang perlu dilihat. Pertama, daya tahan Iran tidak hanya ditentukan oleh persediaan rudal dan jaringan proksinya, tetapi juga oleh kemampuan rezim menjaga kesatuan langkah di tengah tekanan yang sengaja dirancang lawan untuk memecah belah elite sekaligus masyarakatnya.

Kedua, langkah diplomasi Iran ke depan sebagai kelanjutan perang dengan cara lain dimana Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Presiden Iran Pezeshkian memegang jalur diplomasi, sedangkan kubu garis keras menjaga kredibilitas deterensi. Kesepakatan soal ancaman memberi rezim alasan untuk berunding, tetapi kohesi elite yang terbatas menentukan seberapa jauh konsesi boleh diberikan.

Oleh karena itu, domestik Iran hanya bersepakat pada karakter ancaman, namun berselisih dalam respons, sebagai gambaran perbedaan perspektif kebijakan di tingkat elit Iran dalam merespons ancaman.
 
Yugolastarob Komeini
Pengamat Hubungan Internasional

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Sinopsis Bapak Paling Jujur, Film Komedi Satir Politik Dibintangi Andovi Da Lopez

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:29

KPK Amankan Uang Rp1 Miliar saat OTT Bupati Klaten

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:26

Profil Letjen Kristomei Sianturi, Kepala BNPB yang Baru Dilantik Prabowo

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:13

Danantara Guyur Rp1,79 Triliun per Tahun untuk Beasiswa Dokter Spesialis

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:06

Utang Subsidi Pemerintah ke PT Pupuk Indonesia Bengkak

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:55

20 Orang Terjaring OTT KPK, Ada Bupati Klaten hingga ASN BPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:45

Survei Adidaya Institute: Mayoritas Puas dengan Kinerja Presiden Prabowo

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:43

Jalur Darat dan Sumur Bor Disiapkan untuk Tangani Karhutla Tanjung Puting

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:34

JXB Perkuat Promosi Pariwisata Menuju 5 Abad Jakarta

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:26

Kopdes Merah Putih Pekerjaan Besar Lintas Kementerian dan BUMN

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:23

Selengkapnya