Berita

Ilustrasi Perusahaan di Kalimantan Disanksi Kemenhut Buntut Karhutla (Sumber: Gemini Generated Image)

Publika

Karhutla Membara, Gubernur Malah Kawin Lagi

KAMIS, 15 OKTOBER 2026 | 12:57 WIB

KALIMANTAN sedang dipanggang. Langit kuning kecokelatan seperti kopi susu dicampur oli bekas, paru-paru rakyat dijadikan knalpot truk, dan 283.270 orang terserang ISPA hanya dalam dua bulan. 

Kalimantan Selatan menyumbang 74.636 penderita, 27.202 hektare lahan terbakar, 4.926 kejadian kebakaran, dan 44.741 titik panas. Di Kalimantan Tengah, puluhan ribu hotspot bertebaran. Enam provinsi prioritas masih menyisakan ratusan hektare belum padam.

Anak-anak batuk, lansia megap-megap, sekolah diliburkan. Namun, para gubernurnya justru tampil seperti peserta audisi pelawak, panggungnya kebetulan bernama bencana nasional. Hutan terbakar, rakyat sesak, tetapi akal sehat pejabat seperti ikut diasapi.


Agustiar Sabran, Gubernur Kalteng, menyebut 97 persen karhutla disebabkan ulah manusia. Lalu muncullah petuah legendaris, “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.”

Gila! Hutan terbakar, solusinya kawin lagi. Ini gubernur atau penghulu salah masuk ruang rapat? Barangkali kalau seluruh penduduk Kalimantan bercerai berjamaah, kemudian menikah massal, api langsung padam karena malu menyaksikan pesta pora administrasi perkawinan.

Pemadam kebakaran cukup diganti KUA. Mobil tangki diganti mobil pengantin. Selang air diganti penghulu berseragam. Kalau api masih menyala, berarti akadnya kurang khusyuk!

Rudy Mas’ud, Gubernur Kaltim, punya jurus berbeda. Ketika kualitas udara disebut aman terkendali, warga menghadapi asap, sementara foto sarapan dan pemeriksaan kesehatan di Singapura menjadi sorotan.

Tentu, setiap orang berhak berobat ke mana saja. Namun, ironi sosialnya membuat paru-paru rakyat ingin mengajukan surat pindah kewarganegaraan. 

Rakyat menghirup PM2.5, pejabat menghirup udara Singapura. Rakyat sarapan sambil batuk, pejabat sarapan sambil memeriksa kesehatan. Rupanya slogan pemerataan sudah berhasil, semua sama-sama bernapas, cuma kualitas oksigennya beda kelas.

Muhidin, Gubernur Kalsel, juga menyuguhkan logika kelas galaksi. Kalau belum ada helikopter menyiram air, berarti kebakaran belum parah. Luar biasa! Kalau ambulans belum datang, pasien pasti sehat. Kalau pemadam belum tiba, rumah masih aman. Kalau gubernur belum melihat api, mungkin itu cuma ilusi optik akibat rakyat kurang piknik.

Setelah dikritik, beliau meminta maaf. Bagus. Tetapi rakyat memerlukan pemadaman, bukan kompetisi mengumpulkan permintaan maaf. Api tidak bisa disiram dengan kata “maaf”, kecuali bahan bakar terbaru ternyata air mata pejabat.

Ria Norsan, Gubernur Kalbar, punya resep komunikasi lebih brutal. Ketika mahasiswa memprotes karhutla, ia bertanya, “Mahasiswa ada turun? Memadamkan api?” Lho, Pak! Mahasiswa menyampaikan kritik, bukan mendaftar menjadi pemadam kebakaran sukarela seumur hidup. Apa rakyat harus membawa selang, mengenakan baju tahan api, dan menyetor sertifikat pemadaman sebelum boleh mengkritik pemerintah?

Kalau begitu, kritik jalan rusak harus disampaikan sambil mengaspal. Kritik banjir sambil berenang. Kritik korupsi sambil menangkap koruptor. Pemerintah tinggal duduk manis, rakyat mengerjakan semuanya. Negara ini berubah menjadi perusahaan outsourcing, tetapi rakyat tidak pernah menerima gaji.

Zainal Paliwang, Gubernur Kaltara, mengakui keterbatasan peralatan dan mengajak memakai apa yang tersedia. Semangat gotong royong memang penting, tetapi jangan sampai ember kamar mandi menjadi simbol kecanggihan penanggulangan bencana.

Lima gubernur, lima gaya. Ada berpantun kawin lagi, ada disorot karena sarapan di luar negeri, ada menunggu helikopter, ada menyuruh mahasiswa turun, dan ada yang mengandalkan peralatan seadanya.

Tentu, tidak semua berarti mereka tak bekerja. Namun, jabatan gubernur bukan jabatan komentator pertandingan api. Rakyat membutuhkan pencegahan, pemadaman, perlindungan kesehatan, dan penegakan hukum.

Sebab, ketika Borneo terbakar, eh salah, dibakar, rakyat tidak membutuhkan gubernur jago melawak. Mereka membutuhkan pemimpin mampu bekerja. Bukan gubernur yang seolah-olah kerja, padahal unfaedah.

Kalau asap saja bisa membuat ratusan ribu orang sesak, jangan sampai tingkah pejabat membuat rakyat sesak sekaligus naik darah. Hutan terbakar, eh salah, dibakar, rakyat terkapar, pejabat berkomentar. Kalau begini terus, jangan-jangan paling cepat dipadamkan bukan api, melainkan harapan rakyat!

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya