Berita

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Bisnis

Kemenpar Buka Suara Terkait Maraknya Hotel Dijual di Bali

KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026 | 11:32 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Maraknya penawaran penjualan hotel dan vila di Bali mendapat perhatian serius dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Pemerintah menilai fenomena ini memunculkan risiko ketidakseimbangan antara pasokan akomodasi dan pertumbuhan jumlah wisatawan.

Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Strategi Komunikasi dan Media sekaligus Juru Bicara Kemenpar, Apni Jaya Putra, mengungkapkan bahwa jumlah kamar di Bali melonjak sekitar 45,9 persen pada periode 2024–2025. Di sisi lain, pertumbuhan kunjungan wisatawan hanya naik tipis sebesar 0,65 persen.

"Kami melihat ada risiko ketidakseimbangan antara pertumbuhan pasokan akomodasi dan pertumbuhan permintaan, terutama apabila penambahan kapasitas terus berlangsung jauh lebih cepat daripada pertumbuhan wisatawan," ujar Apni kepada RMOL, Kamis, 24 September 2026.


Kendati demikian, Kemenpar belum menyatakan Bali mengalami kelebihan pasokan (oversupply) secara keseluruhan. Pasalnya, kondisi pasar dinilai sangat bervariasi bergantung pada wilayah dan segmen akomodasinya.

Berdasarkan catatan tahun 2025, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang berada di kisaran 60,8 persen, sementara akomodasi nonbintang tercatat 42,8 persen. Di samping itu, pilihan wisatawan kini semakin beragam, mulai dari hotel berbintang dan nonbintang, vila, pondok wisata, guest house, hingga akomodasi sewa jangka pendek lainnya.

Persaingan dengan akomodasi yang belum berizin turut menjadi sorotan. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu persaingan tidak sehat bagi para pelaku usaha yang telah patuh terhadap standar dan kewajiban hukum. Kendati demikian, Kemenpar menegaskan bahwa akomodasi ilegal bukanlah satu-satunya faktor penyebab banyaknya hotel yang dijual.

"Pelaku usaha yang telah memenuhi standar, memiliki izin, dan menjalankan kewajiban usahanya tentu tidak seharusnya bersaing dengan usaha yang mengabaikan kewajiban yang sama," tegasnya.

Sebagai langkah penataan, pemerintah melakukan verifikasi legalitas terhadap akomodasi yang dipasarkan melalui agen perjalanan daring (online travel agent/OTA) dengan memanfaatkan data Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (OSS). Langkah ini mencakup mekanisme penghapusan (delisting) bagi akomodasi yang belum memenuhi ketentuan.

"Menurut kami, tantangannya bukan semata-mata ketiadaan regulasi, tetapi kepatuhan, pengawasan, dan integrasi data," jelas Apni.

Dari sisi investasi, Kemenpar memilih untuk mendorong penataan dan pengendalian izin akomodasi baru bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, alih-alih langsung menerapkan kebijakan moratorium. Penambahan akomodasi ke depan diminta agar senantiasa mempertimbangkan daya serap pasar, tata ruang, daya dukung lingkungan, infrastruktur, serta pemerataan investasi antarwilayah.

"Arah kebijakan pemerintah bukan menghentikan investasi, tetapi mendorong pertumbuhan investasi yang lebih sehat, terukur, dan sesuai dengan daya serap pasar serta daya dukung destinasi," kata Apni.

"Yang kami lihat saat ini adalah tekanan pasokan (supply pressure) yang perlu dikelola," pungkasnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya