Seorang Direktur PT Brantas Abipraya (Persero) hingga karyawannya dipanggil tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan korupsi pembangunan gedung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan tahun anggaran (TA) 2017-2019.
Jurubicara KPK, Budi Prasetyo mengatakan, hari ini, Rabu, 9 September 2026, tim penyidik memanggil 9 orang sebagai saksi.
"Pemeriksaan dilakukan di dua tempat berbeda, yakni di Polresta Malang Kota dan di Gedung Merah Putih KPK," kata Budi kepada wartawan, Rabu siang, 9 September 2026.
Saksi yang dipanggil untuk hadir dan diperiksa di Gedung Merah Putih KPK, yakni Suradi selaku Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Brantas Abipraya.
Sedangkan saksi-saksi yang dipanggil untuk hadir dan diperiksa di Polresta Malang Kota, yakni Endy Cristianto selaku karyawan swasta, Nur Mujahadah selaku ibu rumah tangga (IRT), Roza Noor Sholihah selaku wiraswasta.
Selanjutnya, Agus Prayitno selaku staf administrasi Keuangan Abipraya (Jaya Abadi KSO), Syukur Mursid Brotosejati selaku swasta, Hadri Achmad selaku wiraswasta, Agus Budi Hartanto selaku Project Manager KSO, dan Mochammad Chilman Azdi selaku karyawan PT Graha Nirwana Konstruksi.
Dalam perkara ini, KPK telah menahan tiga tersangka pada Selasa, 2 Juni 2026, yakni Mokh Sukiman selaku PPK, Ahmad Abdillah selaku Direktur PT Agung Pradana Putra, dan Herman Dwi Haryanto selaku General Manager Divisi Regional 3 periode 2015-2019.
Sementara satu tersangka lainnya, Muhammad Yanuar Marzuki selaku Komite Manajemen Proyek ditahan pada keesokan harinya, Rabu, 3 Juni 2026.
Proyek pembangunan Gedung Kantor Pemkab Lamongan bermula dari keinginan Bupati Lamongan saat itu, Fadeli, yang pada pertengahan 2016 berencana membangun gedung perkantoran baru dan memerintahkan jajarannya untuk menindaklanjuti rencana tersebut.
Selanjutnya, pada 5 Mei hingga 22 Juni 2017 digelar proses lelang pekerjaan pembangunan Gedung Kantor Pemkab Lamongan dengan nilai Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sebesar Rp154,4 miliar. Dari proses tersebut, Abipraya-Jaya Abadi KSO ditetapkan sebagai pemenang lelang.
Pada 21 Juli 2017, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Mokh Sukiman menandatangani kontrak pekerjaan dengan Herman Dwi Haryanto selaku kuasa Abipraya-Jaya Abadi KSO senilai Rp151,24 miliar.
Dalam penyidikannya, KPK menemukan dugaan penyimpangan pada proses pemilihan penyedia, di antaranya pembentukan kemitraan atau KSO yang diduga hanya formalitas untuk memenuhi persyaratan administrasi lelang.
KPK juga menduga terdapat penyimpangan pada tahap pelaksanaan kontrak, pemeriksaan pekerjaan, pembayaran, hingga serah terima hasil pekerjaan.
Selain itu, Ahmad Abdillah selaku Direktur PT Agung Pradana Putra diduga telah diminta menjadi kontraktor pelaksana sejak tahap perencanaan dan penganggaran proyek, meski saat itu proses lelang belum dimulai.
KPK juga menduga Mokh Sukiman selaku PPK menerima sejumlah uang dari pihak Abipraya-Jaya Abadi KSO.
Akibat berbagai penyimpangan tersebut, volume dan kualitas hasil pekerjaan dinilai tidak sesuai dengan yang tercantum dalam kontrak. Berdasarkan hasil penghitungan penyidik, perkara ini mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp35,7 miliar.