Berita

Menhan Pakistan Khawaja Asif (Foto: X)

Dunia

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

RABU, 09 SEPTEMBER 2026 | 13:27 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pakistan memperingatkan serangan terhadap Arab Saudi berpotensi mengaktifkan pakta pertahanan bersama Mekkah yang melibatkan Pakistan, Arab Saudi, dan Turki.

Peringatan tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah Arab Saudi hingga melukai sedikitnya 73 warga sipil.

Asif menegaskan agresi tanpa provokasi terhadap salah satu negara anggota, maupun meluasnya konflik Yaman ke wilayah Arab Saudi, dapat memicu pemberlakuan klausul pertahanan kolektif dalam perjanjian yang ditandatangani Pakistan, Arab Saudi, dan Turki di Mekkah pada bulan lalu.


"Seharusnya tidak ada ambiguitas; tidak perlu ada kejelasan bahwa ini adalah perjanjian pertahanan bersama," kata Asif dalam wawancara dengan Geo TV, dikutip Rabu, 9 September 2026.

Dia memastikan Pakistan akan menjalankan kewajibannya terhadap Arab Saudi sesuai ketentuan pakta tersebut.

"Tidak perlu diragukan lagi. Kami terikat oleh syarat dan ketentuan perjanjian ini dan, insya Allah, kami akan menghormatinya jika diperlukan," tegas Asif.

Namun, Asif menekankan pakta tersebut bersifat defensif dan bukan kesepakatan agresif yang memungkinkan ketiga negara melancarkan serangan secara sepihak terhadap negara lain. 

"Ini bukanlah kesepakatan agresif di mana ketiga negara tersebut, atas inisiatif mereka sendiri, akan menyerang negara lain. Tetapi jika terjadi agresi terhadap salah satu negara anggota, ketiga negara anggota tersebut akan merespons," jelasnya.

Asif berharap ketegangan dapat segera mereda dan memperingatkan Houthi agar tidak memperluas konflik Yaman ke luar wilayahnya. 

"Jika mereka mencoba mengekspornya, klausul-klausul dalam perjanjian penanggulangan agresi ini akan diberlakukan," ujarnya. 

Dia menambahkan, kekuatan gabungan Pakistan, Arab Saudi, dan Turki diharapkan mampu menjadi faktor penangkal sehingga respons terhadap agresi tidak selalu harus berupa tindakan militer.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Tim Hukum Febrie Curiga Ada Nama Pejabat Kejagung Dicatut terkait Duit Rp40 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 04:16

Merawat Aceh, Memprioritaskan Kepentingan Rakyat

Rabu, 09 September 2026 | 04:04

Polda Banten-Basarnas Maksimalkan Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Rabu, 09 September 2026 | 03:32

Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mematikan

Rabu, 09 September 2026 | 03:22

PDIP Tafsirkan Pidato AHY: Bisa Jadi Pesan untuk Presiden Menuju 2029

Rabu, 09 September 2026 | 03:09

Wow! Hadiah Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp10,25 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 02:52

Sekolah Tatap Muka di Lampung Batal Gegara Anak Krakatau Kembali Erupsi

Rabu, 09 September 2026 | 02:14

Survei Digdaya: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 56,3 Persen

Rabu, 09 September 2026 | 02:01

Pencarian 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda Terkendala Arus Kencang

Rabu, 09 September 2026 | 01:34

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Selengkapnya