PELAKSANAAN penyelenggaraan ibadah haji 2026 telah tuntas. Publik banyak memberikan apresiasi terhadap kementerian yang hari ini baru berumur satu tahun. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Agustus lalu telah merilis hasil Indeks Kepuasan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI) yang mencapai 91,45 persen, tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ini menjadi awal pembuktian bahwa negara dengan salah satu jumlah umat Muslim terbesar di dunia ini terus berbenah memberikan pelayanan terbaik bagi setiap warga negara, wabil khusus dalam menyempurnakan salah satu rukun Islam yang kelima.
Pertanyaannya adalah, apakah angka kepuasan yang cukup fantastis tersebut berkorelasi dengan fakta kualitas penyelenggaraan haji di lapangan? Bisa jadi jawabannya belum tentu, karena rasa kepuasan jamaah mungkin banyak didominasi oleh standar ekspektasi yang memang dari awal sudah rendah.
Jamaah kita sudah banyak disuguhi cerita dan berita yang kurang mengenakkan pada penyelenggaraan haji tahun-tahun sebelumnya, seperti fasilitas yang kurang memadai, tingginya angka kematian, banyaknya oknum yang selama ini memanfaatkan ibadah haji untuk kepentingan diri sendiri, bahkan sampai petugas yang dianggap kurang berkomitmen dalam memberikan pelayanan kepada jamaah. Untungnya, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) sangat konsen dan fokus sehingga dapat menjawab, mengatasi, bahkan melampaui ekspektasi jamaah sehingga mendapatkan angka kepuasan yang cukup tinggi.
Salah satu keberhasilan yang paling terasa adalah dari sisi reformasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026.
Meski sempat dihantui pesimisme, tidak sedikit juga yang mengolok-olok terkait diklat PPIH yang menggunakan metode semi-militer dengan durasi yang dianggap terlalu lama, namun, pada fakta di lapangan justru inilah titik awal yang menyelamatkan marwah kementerian ini. Hasil diklat justru membuat seluruh personel PPIH memiliki bonding yang kuat sehingga ada kesamaan visi, misi, kesadaran, serta komitmen yang jauh lebih tinggi dalam melayani seluruh jamaah Indonesia yang jumlahnya 221.000 jamaah, termasuk tertinggi dibanding negara-negara lain.
Alhamdulillah, kita juga mendengar informasi bahwa Kemenhaj juga berencana melakukan diklat serupa untuk seluruh personel petugas, baik itu daerah maupun kloter.
Imbas dari keberhasilan kementerian dalam membina PPIH 2026 adalah tingginya animo masyarakat untuk bergabung dalam seleksi PPIH 2027. Tercatat 75.000 orang melakukan registrasi, jauh lebih tinggi, sekitar 581 persen dari tahun sebelumnya dengan jumlah pendaftar 11.000 orang.
Jika kuota yang tersedia adalah untuk 1.000 orang, maka 75 peserta akan bersaing untuk memperebutkan satu posisi. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kemenhaj dalam mengelola seluruh calon PPIH. Apabila seluruh prosesnya dilakukan secara objektif, publik pun akan menerima dan menjadi capaian positif bagi Kemenhaj, karena semakin banyak masyarakat yang mendaftar, maka negara akan mendapatkan petugas terbaik dari hasil seleksi tersebut.
Jika berkaca pada proses seleksi tahun sebelumnya, kita patut memberikan apresiasi bagi Kemenhaj karena sudah melakukan evaluasi dengan melakukan kolaborasi bersama Badan Kepegawaian Negara (BKN) dalam ujian Computer Assisted Test (CAT) untuk memperkuat aspek transparansi, objektivitas, dan akuntabilitas. Pelaksanaannya pun tersebar di 36 titik lokasi dengan dua gelombang sehingga memberikan kemudahan bagi peserta agar bisa melaksanakan proses seleksi dari daerah asal masing-masing. Masalah yang terjadi pada tahun lalu seperti kedisiplinan, kebocoran soal, hingga aksesibilitas peserta pun sudah bukan menjadi kendala tahun ini.
Pada akhirnya, menjadi PPIH adalah tugas yang sangat mulia, sekaligus juga menjadi tugas yang diimpi-impikan banyak masyarakat Indonesia untuk menjadi pelayan tamu-tamu Allah. Petugas akan banyak dihadapkan pada posisi yang sulit. Keikhlasan menjadi pondasi utama sehingga seberat apa pun bebannya akan terasa lebih ringan, termasuk ikhlas jika tahun ini belum lolos seleksi.
Saat ini, sebagian calon petugas sudah melaksanakan tes CAT gelombang 1 pada 5 September 2026, dan 12 September 2026 akan dilaksanakan tes CAT gelombang 2.
Kita berharap proses seleksi yang masih berlangsung ini dapat selesai sesuai dengan rencana sehingga terpilih para petugas haji yang siap menjalankan tugas negara sekaligus amanah yang mulia ini, serta penyelenggaraan ibadah haji tahun 2027 dapat menjadi lebih baik lagi.
Penulis adalah Direktur Eksekutif Haji Insider Akademisi Universitas Muhammadiyah Tangerang, sekaligus peserta PPIH Arab Saudi 2026