Ilustrasi (Foto: People.com)
Umat Islam diimbau untuk tidak terlena dengan penggunaan media sosial (medsos) yang serba singkat dan padat.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis dalam acara peluncuran dan bedah buku Sejarah Peradaban Islam karya Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 19 Agustus 2026.
Ulama yang akrab disapa Kiai Cholil ini mengingatkan pentingnya menjaga tradisi membaca buku untuk membangun wawasan intelektual serta fondasi peradaban masa depan.
Kiai Cholil menyoroti fenomena masyarakat digital yang saat ini cenderung bergantung pada platform media sosial untuk bertukar ide. Menurutnya, karakter informasi di medsos yang serba cepat sering kali tidak dibarengi dengan kedalaman wawasan intelektual.
?"Jangan terlena dengan medsos yang padat, singkat, dan seakan-akan sudah bisa mengeluarkan semua ide-ide kita, padahal tidak ada wawasan intelektual," kata Kiai Cholil, dikutip dari MUI Digital, Kamis 20 Agustus 2026.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menambahkan bahwa media sosial sebaiknya digunakan seperlunya saja tanpa mengesampingkan akses terhadap buku maupun literatur ilmiah lainnya.
Dalam penyampaiannya, Kiai Cholil merefleksikan pentingnya tradisi membaca dan menulis dengan meneladani rekam jejak Rasulullah SAW dan para sahabat. Mulai dari perintah membaca melalui wahyu pertama (Iqra'), penguasaan bahasa asing oleh Zaid bin Thabit, hingga pembinaan Ahlus Suffah di Masjid Nabawi.
Bagi generasi saat ini yang tidak menerima wahyu, aktivitas literasi menjadi kunci utama dalam memajukan bangsa. Sebab, membaca dapat mengasah pemikiran mendalam dan memperluas khazanah pengetahuan.
Selain itu, Kiai Cholil menyebut bahwa menulis dapat mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi penerus sebagai amal jariah ('ilmun yuntafa'u bihi).
Kiai Cholil juga mengapresiasi fleksibilitas teknologi masa kini yang memudahkan masyarakat mengakses bacaan berkualitas dalam bentuk digital (PDF/e-book).
Kiai Cholil menilai, kemudahan tersebut mampu mengisi waktu luang secara produktif di tengah kondisi di media sosial.
?"Meskipun sekarang pada kerangka intelektual sudah jurnal, buku tetap diperlukan. Saya pikir buku ini (Sejarah Peradaban Islam) sangat baik dibaca oleh kita semua, para aktivis muslim, hingga mahasiswa," pungkas Kiai Cholil.