Berita

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dalam acara Indonesia International Geothermal Conference and Exhibition (IGCE) tahun 2026, di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026. (Foto: YouTube Kementerian ESDM)

Bisnis

Bahlil Dorong Multiplier Effect Geothermal Kebut Target Net Zero Emission

RABU, 19 AGUSTUS 2026 | 23:23 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Target implementasi emisi nol bersih (net zero emission) nampaknya akan dikebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melalui pengembangan dan inovasi Geothermal atau panas bumi sebagai salah satu sumber daya alam (SDA) yang melimpah di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Bahlil dalam acara Indonesia International Geothermal Conference and Exhibition (IGCE) tahun 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.

"Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo itu sudah memutuskan bahwa perubahan atau mengkonversi dari energi fosil kepada energi bersih bukan hanya menuju net zero emission, tetapi bagaimana kita meninggalkan warisan bumi kepada anak cucu kita yang lebih baik," ujar dia.


Bahlil mengungkapkan, kesepakatan negara-negara di dunia terkait dengan Paris Agreement, mendorong Indonesia untuk merealisasikan net zero emission pada tahun 2050 hingga 2060.

Namun di sisi yang lain, dia menuturkan bahwa Pemerintah telah menetapkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk tahun 2025 sampai dengan 2035 menargetkan 70 sampai 75 persen diimplementasikan dengan bauran energi atau sekaligus dengan energi baru terbarukan (EBT).

"Mulai dari gas, mulai dari solar panel, mulai dari geothermal, mulai dari air, semuanya," sambung Bahlil menyebutkan SDA yang dapat dikelola menjadi EBT.

Ketua Umum Partai Golkar itu menyebutkan, untuk saat ini Presiden Prabowo Subianto telah mencanangkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. 

"Dan tahun ini kita akan sudah mulai di tahun 2025, 2026, kita akan mulai masuk tahap pertama dengan pembangunan 30 gigawatt," katanya.

Sedangkan untuk lifting minyak dan gas (migas) Indonesia, disebut Bahlil, sampai dengan sekarang ini tidak kurang dan tidak lebih baru dapat menghasilkan 600 sampai 610 ribu barel per hari, sementara konsumsinya mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari.

Adapun upaya untuk mengurangi ketergantungan impor, dia memastikan akan terus menggenjot produksi B50 yang saat ini mampu mengkonversi kurang lebih sekitar 300 ribu sampai 350 ribu barel per hari.

"Rata-rata kita masih membutuhkan impor kurang lebih sekitar 700 ribu barel per tahun. PLN itu membutuhkan kurang lebih sekitar 200 sampai 250 ribu barel, tergantung dia kalau gasnya habis, produksi dari energi baru terbarukan tidak ada, dia masuk lagi ke diesel (solar)," ungkap Bahlil.

"Nah, cara-cara seperti ini, ketergantungan kita (terhadap impor migas), harus segera kita meminimalisir dalam rangka menuju kepada kedaulatan energi," sambungnya.

Dari situ, Bahlil memandang geothermal sebagai potensi SDA yang dapat dikelola dengan baik untuk EBT, dan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan produksi pasokan listrik di dalam negeri tetapi juga dapat dikembangkan untuk sektor lainnya.

"Geothermal dalam pandangan saya tidak hanya pada konteks bagaimana kita meningkatkan kemampuan listrik kita di sektor geothermal. Tapi juga bagaimana kita mampu melakukan konversi untuk melahirkan ekonomi yang lain gitu loh supaya menciptakan lapangan pekerjaan," tuturnya.

"Di beberapa tempat itu sudah terjadi dengan pengeringan kopi, beberapa industri yang lain, petrokimia. Saya pikir inilah bagian daripada kreativitas kita, jadi jangan persepsi kita bahwa geothermal itu hanya didorong untuk sektor kelistrikan. Harus ada multiplier effect-nya di situ yang akan kita lakukan," demikian Bahlil menambahkan.


Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

UPDATE

Menteri Haji Usul BPIH 2027 Naik 10-15 Persen

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:22

Perpres Ojol 2026 Dikebut, Ini 3 Tarif yang Bakal Diatur Pemerintah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:12

Film Insidious: Out of the Further Resmi Tayang di Indonesia, Ini Sinopsisnya

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:01

Penyegaran AKD Golkar Strategis Perkuat Kinerja DPR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:54

Rupiah Menguat Rp17.840 Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:38

Trump Hentikan Latihan Militer AS-Korsel Lebih Cepat Demi Hubungan Baik dengan Korut

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:26

IGCE 2026 Momentum Indonesia Jadi Raksasa Geothermal Dunia

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:23

Polri-Kejagung Kompak Minta Hakim Tolak Praperadilan Febrie Adriansyah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:21

Mantan Pelatih Pelatnas Panjat Tebing Jadi Tersangka Pelecehan Atlet

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:01

Gerak Cepat Pemerintah Harus Dirasakan Rakyat NTT

Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:45

Selengkapnya