Berita

Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Kalimantan Bagian Selatan (Kalbagsel), Muhtadi. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Bisnis

Ekspor Sawit di Pangkalan Bun Sumbang Rp1,7 Triliun ke Kas Negara

JUMAT, 31 JULI 2026 | 10:37 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Pangkalan Bun mencatat penerimaan negara dari ekspor kelapa sawit dan produk turunannya melalui wilayah tersebut menembus lebih dari Rp1,7 triliun sepanjang 2026.

Nilai tersebut berasal dari penerimaan bea keluar sebesar Rp882 miliar dan pungutan dana sawit sekitar Rp860 miliar.

Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Kalimantan Bagian Selatan (Kalbagsel) Muhtadi mengatakan, sektor sawit menjadi penyumbang terbesar penerimaan negara dari aktivitas ekspor di wilayah kerjanya. Komoditas yang diekspor didominasi crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya.


"Jadi sekitar hampir Rp1,7 triliun lebih ya. Ini adalah di kami, di Kalimantan bagian Selatan ini adalah kontribusi terbesar dari penerimaan dari sisi ekspor ya," kata Muhtadi kepada awak media di Kalimantan Tengah, Jumat 31 Juli 2026.

Muhtadi mengungkapkan India menjadi negara tujuan utama ekspor sawit dari Pangkalan Bun. Produk yang dikirim didominasi CPO dan berbagai produk turunan sawit yang memiliki permintaan tinggi di negara tersebut.

"Terbesar untuk dari Pangkalan Bun ini ekspornya ke India. Komoditasnya CPO dan turunannya gitu," ujarnya.

Di balik kinerja ekspor yang tetap kuat, Muhtadi mengakui masih ada sejumlah tantangan logistik yang dihadapi pelaku usaha. Untuk pengiriman CPO curah, ekspor dilakukan menggunakan mekanisme ship to ship (STS), yakni pemindahan muatan dari tongkang ke kapal induk di tengah laut.

Skema tersebut diterapkan karena kapal induk tidak dapat bersandar langsung di pelabuhan akibat keterbatasan kedalaman alur pelayaran. Titik STS berada sekitar 40 mil dari pelabuhan dengan waktu tempuh hingga 12 jam, sehingga menambah biaya logistik.

"Karena mother vessel masuk ke wilayah misalkan di pelabuhan, di pangkalan buning nggak bisa karena terkait draft tadi. Akhirnya menggunakan mekanisme ship to ship itu," jelasnya.

Sementara itu, untuk ekspor menggunakan kontainer, kendala utama berasal dari terbatasnya ketersediaan kontainer yang layak serta belum tersedianya layanan pelayaran langsung dari Pangkalan Bun ke negara tujuan seperti India.

Akibatnya, kontainer ekspor harus lebih dulu dikirim ke pelabuhan hub, seperti Surabaya, sebelum diteruskan ke negara tujuan. Kondisi tersebut membuat waktu pengiriman lebih lama sekaligus meningkatkan biaya logistik. Frekuensi kapal yang masih terbatas juga menjadi hambatan dalam mempercepat arus ekspor.

"Sehingga terkait dengan ketersediaan kontainer. Habis itu kapal yang seminggu dua kali otomatis ini dibutuhkan kecepatannya. Dan waktu juga otomatis itu. Otomatis itu kendala-kendala yang ada seperti itu," pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ketika Gerakan Sosial Baru Menggugat Tatanan Politik

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:15

Ada Demo Mahasiswa, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan Monas

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:00

Cegah Perpecahan, Bagusnya Gibran Mundur

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:38

Ada Indikasi Dendam Politik di Balik Wacana Pelengseran Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:24

Legislator PKB Serahkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Majalengka

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:01

Realisasi Investasi Hingga Kuartal III Sentuh Rp1.539 T

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:53

Masyarakat Adat Wanam Merauke Butuh Pelatihan Pertanian Berkelanjutan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:45

BEM-KSI Gelar Silaturahmi ke PBNU dan Beri Apresiasi ke Gus Gudfan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:29

Selengkapnya